Berpikir Positif


Berpikir Positif


    Kata pikir merupakan akar kata dari berpikir, yang memiliki arti akal, ingatan. Sementara berpikir merupakan suatu kegiatan menggunakan akal untuk mempertimbangkan, memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki akal atau pikiran yang menggerakan seseorang untuk melakukan kegiatan yang dinamakan berpikir. Berpikir ada yang bersifat negatif dan ada juga yang bersifat positif. Ada kalanya manusia berpikir secara negatif dan berdampak negatif pula, namun ada juga yang sebaliknya dengan bepikir positif dan berdampak positif. Berpikir positif adalah suatu bentuk pemikiran yang terbiasa mencari hasil terbaik dari kondisi terburuk.[1]

    Berpikir positif juga merupakan salah satu cara berpikir yang menghasilkan suatu hal yang baik. Seseorang yang berpikir positif bukan menganggap hal negatif dan juga memilih untuk menolak hal tersebut. Pada faktanya berpikir positif mencari,mengharapkan yang terbaik meskipun sekitar terlihat buruk. Seorang pemikir positif memilih untuk tidak memfokuskan diri pada kemungkinan yang terburuk melainkan berusaha melihat sisi negatif dari keadaan yang buruk. Berpiki positif berarti memilih untuk menghadapi tantangan hidup dengan pandangan positif.

    Seseorang yang berpikir positif memiliki sikap yang optimis, mampu melihat harapan, kesempatan, hal baik dalam situasi apapun.[2] Hal ini memiliki dampak baik bagi kesehatan mental seseorang. Sebuah penelitian menunjukan bahwa berpikir positif dikaitkan dengan angka kematian yang rendah. [3] Hal ini menunjukkan bahwa berpikir positif tidak hanya berpengaruh pada kondisi mental saja namun juga pada kondisi fisik. Dapat disimpulkan bahwa berpikir positif adalah kemampuan yang berkaitan dengan konsentrasi, perasaan, sikap, prilaku, emosi, dan sudut pandang untuk menilai sesuatu dari sisi positif atas keadaan diri, orang lain dan segala sesuatu yang terjadi di sekitar.[4] Berpikir positif membantu indivifu memiliki karakter mental yang positif, optimis, kreatif, serta memiliki keyakinan atau harapan tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

Bertanggung Jawab


Bertanggung jawab merupakan suatu sikap yang melakukan tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Bertanggung jawab juga berkaitan dengan integritas seseorang terhadap sebuah tugas yang dimilikinya. Bertanggung jawab atau tanggung jawab juga dapat diartikan sebagai situasi dimana seseorang harus dapat menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajibannya. Dalam KBBI memberi arti bahwa tanggung jawab adalah keadaan untuk wajib menanggung segala sesuatu. Dapat diartikan bahwa bertanggung jawab merujuk pada kewajiban untuk melakukan fungsi tertentu untuk mencapai hasil tertentu.

Seseorang yang bertanggung jawab berarti memiliki keberanian untuk menanggung setiap resiko yang terjadi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Bertanggung jawab berkaitan dengan moralitas dan mentalitas seseorang bukan hanya itu bertanggung jawab erat kaitannya dengan kejujuran. Bertanggung jawab merupakan hubungan interpersonal yang dinamis dan paling mendasar yang menghubungkan antara sesorang yang menjadi penanggung jawab dan hal yang menjadi tanggung jawab atau kewajibannya. [5]









[1] Norman Vincent, The Amazing Result of Positive Thinking (London: Random House UK,2007), 9.

[2] Kiki Nurmayasari dan Hadjam Murusdi, Hubungan antara berpikir positif dan perilaku menyontek pada siswa kelas X SMK Koperasi Yogyakarta, Jurnal Fakultas Psikologi.Vol.3, No 1, Juli, 2015, 9.

[3] Mujahid Ali Khan, Benefit of Being Positive (Idependent Publish:TK, 2022), 9.

[4] Ibid,.

[5] Michael Mc Kennan, Conversation and Responsibility (Oxford Univerity Press: New York, 2012), 1.

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus



BAPTISAN AIR DALAM TULISAN PAULUS


Pendahuluan


Baptisan air merupakan salah satu hal terpenting yang ada di dalam gereja dewasa ini. Baptisan air juga sudah menjadi salah satu tanda dari orang percaya yang bertobat kepada Kristus, yang mana petobat akan dideklarasikan menjadi milik Kristus melalui baptisan air tersebut. Tidak hanya sebagai tanda, baptisan air juga sudah menjadi doktrin dari semua gereja sekarang ini.

Latar Belakang

Kata baptisan jika ditelusuri berdasarkan sejarah yang ada dalam Perjanjian Lama, tradisi baptisan memberikan arti yang jelas dan terukur. Bagi orang Yahudi, baptisan merupakan sesuatu hal yang tidak asing lagi bagi mereka. Baptisan merupakan hal yang telah lama terlaksanakan bahkan ketika mereka mengalami diaspora atau non Israel yang menganut agama Yahudi.[1]

Kata baptisan juga ada dicatat dalam bahasa Ibrani yang mana baptisan berasal dari kata טבילה – tevilah dari kata טבל – taval, yang berarti mencelupkan atau membenamkan. Menurut tradisi Yudaisme, ritual baptisan dipelihara dengan baik oleh kaum Eseni. Kaum Eseni merupakan sebuah kelompok orang yang beragama Yahudi, mereka ialah orang-orang sangat menjaga dan menjalankan hukum agama dengan taat.[2]

Definisi


Dalam dunia Perjanjian Baru, kata Baptisan dikenal dengan istilah baptizomai atau baptisteis dari akar kata baptizo yang memiliki arti yaitu dibasuh, dicelupkan dan dipermandikan. Sedangkan dalam LXX kata baptisan memiliki arti yang hampir sama yaitu menenggelamkan atau menyelamkan.[3] Baptisan air juga sering disebut juga dengan baptisan selam. Baptisan adalah sebuah proklamasi dari keselamatan manusia, yang mana manusia tersebut digambarkan telah selamat dan menjadi milik Kristus. Gambaran ini menunjukan bahwa manusia tersebut telah meninggalkan manusia lamanya yang penuh dengan dosa.

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus


Satu Tubuh di dalam Kristus


Dibandingkan dengan pembenaran oleh iman, Paulus tidak begitu sering membahas tentang baptisan. Akan tetapi ia menyadari bahwa kedua hal ini yaitu pembenaran oleh iman dan baptisan, menjadi salah satu hal yang penting bagi gereja. Dalam I Korintus 12:13, dikatakan “dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Paulus menjelaskan bahwa baptisan yang dilakukan sangatlah penting, hal ini akan menentukan pekerjaan Roh dalam satu tubuh.

Selain dari makna yang ada di atas, Paulus juga menekankan bahwa melalui baptisan adanya sebuah kesatuan dalam tubuh Kristus. Dalam Galatia 3:27-28, Paulus menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani, tidak ada orang merdeka dan hamba, tidak ada laki-laki dan perempuan karena semuanya adalah satu di dalam Kristus Yesus. Pernyataan tersebut bukan sekedar pernyataan secara teologis, melainkan sebuah ekspresi dari kebenaran eskatologis keselamatan – historis yang memiliki konsekuensi bagi mereka yang percaya kepada Kristus.[4]


Simbol dari Keselamatan dalam Kristus


Jika dipahami dengan baik-baik, peranan baptisan menjadi jembatan bagaimana Roh bisa bekerja dalam tubuh Kristus.[5] Jika dibandingkan dengan Matius 3:11, Paulus menekankan ajarannya bahwa baptisan air hanyalah tanda pertobatan untuk mengikut Kristus, tetapi baptisan Roh Kudus adalah aktivitas dari Roh yang membuat orang menjadi percaya.[6]

Setelah Paulus meresponi panggilannya, ia menjadi alat Tuhan yang sangat hebat pengaruhnya di antara orang Yahudi, terkhususnya dalam pemberitaan Injil. Paulus mengimplementasikan ajaran-ajaran Yesus dalam pelayanannya yaitu baptisan air. Dalam Roma 6:6-7, Paulus menjelaskan makna rohani dari baptisan air sebagai wujud lahiriah kesatuan orang percaya dengan Kristus Yesus.[7]


Kematian dan Kebangkitan dalam Kristus


Baptisan yang dijelaskan oleh Paulus memiliki keterikatan dengan sebuah kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Paulus sering menggunakan idiom tentang kematian dan kebangkitan dalam suratnya, yang mana pesan ini sering sekali diartikan sebagai pengalaman mistik seseorang dalam pertobatannya di dalam Kristus.[8] Makna kematian dan kebangkitan di sini bukanlah secara lahiriah melainkan rohani.[9]

Paulus dalam misinya, ia sangat menekankan pada pertobatan semua orang. Setelah ia bertobat dari dosanya, Paulus memiliki banyak sekali misi yang ia ingin lakukan. Karena sang rasul sangat menekankan kepada pertobatan, oleh karena itulah baptisan ini juga sangat menjadi faktor penting dalam misinya.

Tanda Pertobatan


Setelah sekian lama menjadi penganiaya orang Kristen, kini Paulus menjadi orang yang menobatkan orang dari dosanya. Paulus menobatkan orang lain melalui pengajaran yang ia sampaikan kepada banyak orang. Sehingga baptisan menjadi faktor yang mencolok pada tanda dari pertobatan banyak orang. Bagi Paulus bukti orang yang telah bertobat adalah baptisan, meskipun orang diselamatkan bukan karena dibaptis, tetapi ia menekankan bahwa baptisan adalah tanda orang yang telah diselamatkan oleh Kristus.

Mempersiapkan Seseorang untuk Memberitakan Injil


Rasul Paulus melalui misinya yaitu baptisan, ia sangat bergairah pada pemberitaan Injil ke semua orang (Rm. 1:1). Paulus juga memahami tugasnya sebagai rasul yang telah dipilih oleh Allah yaitu sebagai pembawa injil. Paulus dalam misinya melalui baptisan, ia telah melatih beberapa orang untuk menjadi misionaris seperti dirinya. Paulus menggunakan beberapa panggilan khusus untuk rekan sekerjanya, yaitu saudara, pelayan, hamba, teman atau partner dan sebagainya. Rekan sekerja yang sering ia sebutkan antara lain: Barnabas, Timotius, Lukas dari Antiokhia (Siria), Akwila dan Priskila dari Roma, Silwanus, Titus, Tikhikus, Apolos dan sebagainya.[10]

Implikasi Baptisan Pada Keselamatan


Dalam Perjanjian Baru, konsep keselamatan dikenal dengan kata yasa yang artinya lebar, luas, bebas dari sesuatu yang mengikat. Dalam konteks yang rohani, maka yasa diartikan sebagai keselamatan dari kematian kekal oleh dosa.[11] Sedangkan dalam Perjanjian Baru, konsep keselamatan dikenal dengan kata dasar soterio dari kata dasar sozo yang artinya menyehatkan, menyembuhkan, menyelamatkan. Dalam konteks yang rohani, ini berarti menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa.[12] Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru melihat keselamatan merupakan sebuah anugerah yang cuma-cuma. Anugerah keselamatan tersebut hanyalah berasal dari Yesus Kristus sendiri. Keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus adalah inisiatif Allah terhadap manusia dalam bentuk pengorbanan Kristus di salib.

Baptisan Sebagai Sarana Memperoleh Janji Allah


Jika membahas tentang keselamatan pasti kita akan langsung berpikir kepada seseorang yang telah dibaptis. Hal ini terjadi karena orang yang telah selamat dan hidup di dalam anugerah Tuhan pasti telah dibaptis. Keselamatan memiliki hubungan yang erat dengan baptisan, ini akan menjadi jelas jika kita melihat dalam Alkitab. Hubungan yang kuat terdapat pada penerimaan janji Allah.

Baptisan merupakan sebuah sarana pengampunan dosa, penerimaan Roh Kudus dan untuk menerima keselamatan. Sebab janji itu adalah milik mereka yang meresponi berita Injil dengan bertobat dan memberi diri dibaptis (Kis. 2:37-41). Dalam Kisah Para Rasu 16:30-33, kepala penjara bertanya tentang keselamatan “tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Paulus dan Silas menjawab kepala penjara tersebut dengan jawaban bahwa ia dan seisis rumahnya akan diselamatakan ketika mereka percaya kepada Yesus Kristus. Tidak lama kemudian kepala penjara dan seluruh keluarganya pun memberikan diri untuk dibaptis. Paulus dan Silas memahami bahwa orang yang telah bertobat dibuktikan dengan tanda deklaratif yaitu melalui baptisan air.[13]


Baptisan Air sebagai Deklarasi Seseorang Menjadi Milik Kristus


Dalam Roma 6:3-4, Paulus telah menyatakan bahwa baptisan merupakan sebuah simbol dari dari kematian seseorang terhadap dosa-dosanya dan sebagai simbol kebangkitan dalam kehidupan yang baru. Frederik berpendapat bahwa manusia yang dipersatukan dengan Kristus akan mengalami transformasi kehidupan, bukan saja pengampunan dari dosanya tetapi juga kehidupan yang baru.[14]

Kesatuan dengan Kristus ini tidak bisa begitu saja diartikan secara lahiriah, tetapi dimaknai secara rohani. Ini berarti pada saat seseorang masuk ke dalam air atau ditenggelamkan maka hal tersebut dimaknai sebagai kematian dan penguburan bersama dengan Kristus. Ketika seseorang tersebut keluar dari air diartikan sebagai seorang pribadi yang telah bangkit dan hidup kembali bersama dengan Kristus. Dalam hal ini, pribadi yang keluar dari dalam air merupakan pribadi yang mengenakan hidup baru (Gal. 3:27).[15]




Kesimpulan


Baptisan ialah tindakan iman lahiriah seseorang yang menghasilkan sebab dan juga akibat pada keselamatan. Baptisan merupakan sebuah simbol yang harus dialami oleh semua orang yang telah hidup benar di hadapan Allah. Dengan dilakukannya baptisan, seseorang telah dinyatakan sebagai milik Kristus. Dicelupkan berarti penyucian, pembasuhan dan pembenaran. Keluar dari dalam air berarti bangkit dan hidup kembali bersama dengan Kristus dalam hidup dan tubuh yang baru. Baptisan memberikan batasan bahwa seseorang tersebut telah terpisah dari dosa-dosanya dan ia dikhususkan kembali untuk melakukan pekerjaan Allah.

Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5


Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5


Dalam bagian Rut 1:1-5, narrator menuliskan ceritanya dengan sangat jelas dan sistematis. Meskipun tergolong singkat, Namun ke 5 ayat dalam bagian pendahuluan ini menjadi penting dan mendasar untuk mengerti kisah selanjutnya dalam kitab Rut sesuai dengan yang dimaksud oleh sang Narator. Dalam bagian ini saya memberikan 5 topik bagian dari setiap ayat yang ada yang tentunya sesuai juga dengan konteks masa kini, antara lain:

Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5

Ayat 1a. Penderitaan datang Menghampiri

    Dalam bagian ini narrator memulai ceritanya dengan mengangkat pada satu masa ada kelaparan di tanah Israel. Kelaparan itu terjadi pada masa para hakim memerintah. Ini sebenarnya memberikan rujukan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada masa para hakim adalah dosa yang begitu bejat dilakukan oleh bangsa itu (Hakim-hakim 21:25). Di zaman itu semua orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya. Dengan demikian narrator seperti memberi arahan bagi kita bahwa penyebab kelaparan itu berhubungan dengan perbuatan dosa yang dilakukan bangsa itu. Kita juga dingatkan oleh narrator bahwa akibat dosa dapat membawa kelaparan kepada manusia. Hal ini sama persis dengan kutuk yang diterima oleh Adam dan Hawa ketika berdosa di taman eden, dimana Allah mengutuk tanah sehingga harus bersusah payah dalam mencari rezeki (Kej.3:17). Oleh karena itulah, kita bisa melihat ide Narator bahwa dosa dapat mengakibatkan penderitaan. Hal ini sekaligus menjadi pengantar dari kitab ini, sehingga kita bisa melihat diakhir dari kitab ini narrator memunculkan ide mengenai kasih Allah yang menebus melalui kisah Boas menebus Rut. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kelaparan yang terjadi adalah konsekuensi langsung dari dosa bangsa itu. Hal ini tentu tidak dapat diprediksi oleh bangsa itu kapan terjadinya karena kita tahu bahwa Israel adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan melimpah susu dan madunya.

Oleh itulah Kelaparan yang terjadi itu sangat berat dan bukan hanya terjadi di satu wilayah, melainkan di seluruh tanah Israel. Kelaparan ini dialami oleh semua orang yang ada di tanah Israel. Kelaparan ini menjadi satu penderitaan yang menyiksa dan menakutkan. Jika kita lihat dalam konteks masa kini,tentu semua kita tidak mau terjadi kelaparan. Namun jika melihat apa yang baru-baru saja terjadi secara khusus di kota Batam di pertengahan 2020 hingga 2021 ada begitu banyak orang menderita dan ketakutan karena keadaan Covid 19 yang membuat semua masyarakat harus tinggal di rumah. Hal ini membuat masyarakat tidak bisa bekerja, sehingga ekonomi terhenti dan mati. Ada ribuan keluarga yang akhirnya meninggalkan Batam dan kembali ke kampungnya. Kita melihat ada kelaparan yang dapat dikatakan besar di kota Batam akibat Covid 19. Dan kelaparan itu bukan saja hanya ada di Batam, tetapi hamper di seluruh Indonesia yang pada umumnya di kota kota besar yang kebanyakan masayarakatnya menggantungkan kehidupannya dari pekerjaan sebagai karyawan ataupun usaha kecil menengah. Semua hal ini terjadi diluar dari perkiraan setiap kita. Melalui hal ini kita belajar bahwa penderitaan itu bisa menghampiri kapan saja dan dimana saja.

Ayat 1b. Respon terhadap Penderitaan (Allah yang dilupakan).


Di dalam bagian ayat 1b, narrator memberi informasi bahwa ada satu orang yang meresponi kelaparan itu dengan pergi membawa istri dan kedua anaknya laki-laki meninggalkan Betlehem-Yehuda menuju daerah Moab dan menetap disana sebagai orang asing. Narator sedang mengarahkan pembaca ceritanya bahwa ada seseorang yang meresponi penderitaan dengan “kabur” meninggalkan apa yang disebut sebagai tanah perjanjian, apa yang disebut sebagai rumah roti. Orang yang pergi ini tidak hanya bermaksud sementara karena ia membawa isteri dan anak-anaknya. Hal ini berarti keyakinan tentang Allah yang menyediakan, Allah yang berjanji dan Allah yang menepati janjinya, telah sirna dari orang ini. Oleh karena itulah mungkin narrator sengaja tidak menuliskan tentang Allah di bagian ayat pertama ini. Mungkin Allah telah “dilupakan” di dalam kisah ini. Mengapa demikian, karena kepergian seseorang ini bertolak belakang dengan apa yang selama ini dialami oleh bangsa Israel, dimana Allah membawa mereka keluar dari Mesir dan masuk ke tanah perjanjian ini. Allah menyediakan makanan selama kurang lebih 40 tahun bangsa itu di padang gurun. Allah begitu banyak melakukan hal-hal yang spektakuler/mujizat2 yang luar biasa. Orang ini telah melupakan semuanya itu.

Dalam kehidupan masa kini, berapa banyak orang-orang yang kita lihat ketika mengalami masalah dan penderitaan mereka malah justru meninggalkan Tuhan. Ketika sakit tak kunjung sembuh, mereka malah hancur imannya. Ketika keluarga mereka tidak akur, mereka malah menjauh dari Tuhan. Saya mengenal banyak orang-orang seperti ini. Salah satu jemaat yang saya layani juga demikian. Dimasa semua baik-baik saja, dia sangat rajin bersaksi, rajin beribadah, dan rajin memberi. Namun ketika anak sulungnya yang perempuan mengalami perceraian dalam rumah tangganya, itu mengakibatkan jemaat ini tidak lagi dating beribadah, ia akhirnya menjauh dari Tuhan dan pergi meninggalkan Tuhan.

Melalui hal ini kita belajar bahwa meresponi penderitaan seharusnya bukanlah meninggalkan Tuhan tetapi melainkan mendekat kepadanya dan semakin dekat senantiasa kepadanya.

Ayat 2. Identitas tak sesuai Tindakan


Dalam bagian ini narrator memberikan informasi mengenai identitas orang tersebut yang diikuti dengan perginya mereka meninggalkan Betlehem-Yehuda menuju tanah Moab. Identitas ini menjadi penting karena identitas itu menjadi harapan, tindakan yang nyata. Oleh karena itulah narrator menyebut langsung nama dari orang itu ialah Elimelekh yang berarti “Allah adalah Raja” dan istrinya Naomi yang berarti “menyenangkan,kesukaan, keindahan.” Identitas/nama yang dimiliki oleh Elimelekh tidak sesuai dengan respon/tindakan yang dilakukannya untuk meninggalkan Betlehem-Yehuda dan pergi ke tanah Moab. Dari hal ini kita bisa mengira bahwa narrator sedang mengidentifikasikan Elimelekh yang berjalan tak sesuai dengan apa yang dimaksudkan baginya. Elimelekh telah mengambil keputusan yang salah dalam hal ini.

Ketika membaca kisah ini, saya teringat dengan seorang teman yang bernama “Sabar” dan tentunya kita berharap dia adalah orang yang sabar. Tetapi sejauh saya berteman denganya selama kuliah, justru saya dan teman lainnya yang harus banyak bersabar atas ulahnya yang terkadang usil dan menjengkelkan. Nah bagaimana dengan kita semua, bukankah identitas kita adalah orang percaya, orang Kristen, apakah identitas itu melekat dan terpancar dari kehidupan dan keputusan kita?

Ayat 3-5. Sudah Jatuh tertimpa Tangga


Dalam bagian ini Narator memberikan informasi bahwa Elimelehk akhirnya mati (ayat 3) sehinngga Naomi tinggal Bersama kedua anaknya. Ini adalah kesedihan yang mendalam bagi Naomi, harus kehilangan suaminya di tanah perantauan. Oleh itulah mungkin anak-anak Naomi Mahlon dan Kilyon menikah dan mengambil orang Moab menjadi isterinya, yaitu Orpa dan Rut (ayat4). Pernikahan kedua anak laki-laki Naomi ini mungkin bisa sedikit mengobati duka yang dialami oleh Naomi. Oleh itulah Narator menuliskan bahwa mereka masih tinggal di Moab kira-kira 10 tahun lamanya. Belum usai penderitaan yang dialami Naomi, karena kehilangan suaminya, dan kedua anaknya laki laki yang menikahi perempuan Moab belum juga memilki keturunan (artinya selama 10 tahun, Naomi belum juga memiliki cucu). Naomi kembali mengalami duka yang lebih dalam, yakni ia harus kehilangan kedua anaknya. Naomi kini tinggal sendiri di negeri orang. Naomi hidup sebatang kara. Penderitaan yang dialami oleh Naomi dating bertubi-tubi. Oleh itulah kita bisa mengatakan bahwa Naomi sudah jatuh tertimpa tangga lagi.

Penderitaan, masalah, pergumulan semuanya bisa datang secara bertubi-tubi menghampiri kita. Sama seperti yang dialami oleh Naomi, penderitaan yang cukup berat datang secara bergantian. Tetapi kisah Naomi tidak berhenti hanya sampai di masa penderitaan itu. Kisah Naomi terus berlanjut dan kita melihat sang Narator telah memiliki alur cerita dari kehidupan Naomi. Demikian juga halnya dengan kehidupan kita. Narator kehidupan kita telah memliki alur cerita dari seluruh kehidupan kita. Ada mungkin masa-masa yang berat akan kita alami seperti pengalaman Naomi, tetapi mari kita percaya kepada Narator itu,bahwa akan ada akhir yang indah dari cerita penderitaan itu.

i. Rut 1:6-14


Jika di dalam ayat 1-5, narrator lebih menekankan kepada Elimelehk dan segala keputusan yang diambilnya serta akibatnya. Di dalam ayat 6-14 ini, narrator beralih focus kepada Naomi, si janda malang yang telah ditinggal suami dan anak-anaknya. Di dalam ayat 6 bagian inilah narrator pertama sekali menyebut nama Tuhan, yakni Naomi mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan dan memberikan makanan kepoada mereka. Ini sebenarnya menjadi titik balik dari kehidupan Naomi.

Ayat 6 Timbulnya Harapan (Kembali Ke Betlehem)

    Dalam bagian ini dijelaskan bahwa Naomi memutuskan untuk kembali ke Betlehem setelah semua penderitaan yang dialaminya (ayat 1-5). Keinginan untuk kembali ke Yerusalem ini dimiliki oleh Naomi setelah ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka. Melalui hal ini kita melihat sikap yang diambil oleh Naomi sudah sangat tepat bahwa ia mendengar tentang Tuhan dan ia kembali. Mendengar akan perbuatan Tuhan inilah yang menimbulkan harapan bagi Naomi. Hal yang sama juga terjadi bagi kita, dimana ketika kita mendengar tentang perbuatan-perbuatan Tuhan baik melalui firmanNya maupun kesaksian-kesaksian, maka itu akan menimbulkan harapan. Harapan akan kuasa Tuhan, harapan akan pertolongan Tuhan, harapan akan pemulihan dari Tuhan. Harapan inilah yang kan membuat kita bertahan dalam penderitaan dan kembali terus mempercayai Tuhan. Saya secara pribadi dalam bersikap di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan akan selalu memberika diri untuk mendengar Firman Tuhan dan perbuatan-perbuatannya serta berharap senantiasa kepada Tuhan.

Ayat 7-14. Seleksi (Perjalanan Pulang)


Dalam bagian ini merupakan kisah dimana Naomi dalam perjalanan pulang ke Betlehem menasehatkan kepada menantunya Rut dan Orpa untuk kembali ke Moab negara asalnya karena dalam pemikiran Naomi, menantunya akan lebih mapan di Moab dibandingkan bersamanya di Betlehem. Hal ini disebabkan secara keturunan karena Naomi telah kehilangan suaminya, anak-anaknya. Oleh karena itu tidak mungkin lagi ada anak yang bisa menjadi suami bagi Rut dan Orpa. Selain itu, secara ekonomi juga Naomi sudah tidak punya apa apa, bahkan tidak punya lahan/tanah untuk ditanami. Jadi baik secara ekonomi maupun secara keturunan, Naomi sudah tidak bisa diharapkan lagi. Oleh karena itulah Naomi menyuruh kedua menantunya untuk meninggalkannya. Namun dari 2 menantunya Orpa dan Rut, akhirnya salah satu meninggalkan Naomi dan kembali ke Moab yaitu Orpa. Pertimbangan Lahiriah yaitu keturunan (suami) dan ekonomi menjadi landasan utama Orpa untuk meninggalkan Naomi. Orpa sama sekali tidak mengikutsertakan pertimbangan rohani (iman) dalam mengambil keputusan. Hal ini mungkin biasa saja terjadi karena memang Orpa adalah orang Moab yang tidak mengenal Allah Israel.Melalui hal ini saya belajar bahwa hal-hal lahiriah seperti ekonomi bisa saja menjadi alat seleksi dalam mengiring Tuhan. Oleh karena itu sekalipun dimasa sulit, maka pertimbangan iman harus tetap diikutsertakan dalam mengambil keputusan.