Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

IMAN LINTAS GENERASI

 IMAN LINTAS GENERASI

(ULANGAN 6:4-9)



 

 

BACALAH BERSAMA ULANGAN 6:4-9

 

Pendahuluan:

Apakah yang paling membahagiakan pada masa Tua Kita??

Rumah Besar? Menjadi Kaya? Mobil banyak? Sehat masa tua? Punya anak banyak??

Apa yang paling membahagiakan bapak ibu saudara setelah Tua Nanti??

Menurut saya hal paling membahagiakan pada masa Tua nanti adalah Ketika anak-anak kita, dan cucu-cucu kita berjalan Bersama kita ke gereja dan beribadah Bersama, berdoa Bersama dan memuji Tuhan Bersama sama kita. Betul??

Untuk apa mobil banyak, untuk apa rumah besar, untuk apa kaya? Kalo di masa Tua akhirnya anak-anak kita, dan cucu-cucu kita tidak lagi bisa Bersama kita.

 

Bapa, ibu saudara,  semua. Thema khotbah hari ini adalah Iman Lintas Generasi  yang artinya dari generasi kepada generasi.  Thema ini diambil dari teks firman yang tertulis dalam Ulangan 6: 4-9.  

 

Nah  Bapa, ibu saudara,  semua apa yang dapat kita belajar dari firman Tuhan ini. Ada 2 poin utama yang kita belajar sehingga apa yang menjadi tema khotbah ini bisa terjadi yaitu Iman lintas Generasi Yaitu:

 

1.     Mengasihi Tuhan

 

Firman ini disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel supaya mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan mereka. Di dalam ayat yang keempat adalah pengakuan iman daripada bangsa Israel. Oleh karena itulah Musa menyerukan di dalam Ayat 4: Dengarlah Hai Orang Israel: TUHAN ITU ALLAH KITA, TUHAN ITU ESA. Inilah Iman orang bangsa Israel, mengakui TUhan sebagai Allah mereka, sebagai Raja mereka. Sehingga dengan pengakuan itu, maka berikutnya mereka diperintahkan  harus mengasihi Tuhan dengan keseluruhan hidup mereka.

Demikian juga bagi kita semua Bapa, ibu saudara,  , kita harus menjadi generasi yang mengasihi Tuhan. Mari memastikan diri kita menajdi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Orang orang yang dekat dengan Tuhan. Orang orang yang rindu selalu akan terhubung dengan Tuhan.

 

2.     Mengasihi Sesama

 

 Dalam ulangan 6:6-9 musa Selanjutnya berkata Iman ini tidak boleh berhenti hanya kepada generasi musa tersebut, tetapi harus diteruskan ke generasi berikutnya yaitu anak cucu mereka dengan mengajarkannya Iman/kepercayaan itu kepada anak cucu mereka secara berulang-ulang, Ketika duduk, Ketika dalam perjalanan, Ketika berbaring atau bangun. Artinya Iman itu harus diteruskan dengan mengajarkannya di dalam segala situasi. 

 

             Mengasihi sesama.  Orang yang mengasihi sesamanya akan menjadi teladan bagi sesamanya, teladan bagi teman-temannya. Orang yang mengasihi sesamanya Akan mengajar orang-orang di sekitarnya untuk mengasihi Tuhan. Dengan demikian generasi di sekitar kita akan menjadi generasi yang mengasihi Tuhan.l/

 

Mari Bapa, ibu saudara,  semua, kita menjadi generasi yang mengasihi Tuhan dan menjadi generasi yang mengasihi Sesama. Maka iman itu, akan terus bersinar dari generasi-kepada generasi, iman itu akan terus bersinar hingga lintas generasi, kepada anak kita, kepada cucu kita, kepada cicit kita.

 

Kesimpulan:

 Bapak Ibu saudara Mari menjadi orang-orang yang mengasihi Tuhan dan mengasihi Sesama kita. Orang yang mengasihi Tuhan akan bersinar kasihnya kepada sesama. Sesame bisa berarti anak cucu kita, sesame bisa berarti keluarga kita, sesama bisa berarti tetangga kita, sesama bisa berarti sahabat-sahabat kita, teman-teman kita dan semua orang yang terhubung dengan Kita.

Sebagai penutup, mari kita membaca apa yang di saksikan oleh Raja Daud dalam pengatamannya, dalam Mazmur 37:25, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benat ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

 

Sharing:

1.     Apakah anda adalah orang yang mengasihi Tuhan? Jika ya, jelaskan! Jika tidak, jelaskan mengapa?

2.     Bagaimana anda memancarkan kasih Tuhan kepada sesama?

3.     Apakah anda bisa menjadi teladan dalam mengasihi Tuhan bagi orang-orang di sekitar anda? Dengan cara apa, Jelaskan!

 

Penutup:

-       Nyanyi lagu , Ku mau SpertiMu Yesus.

-       Semua Jemaat saling mendoakan satu dengan yang lain.

PENTINGNYA MENGAMPUNI

PENTINGNYA MENGAMPUNI


    Refleksi hari ini adalah bagaimana pengampunan itu menjadi sangat penting di dalam kehidupan orang percaya.  Pertama, Pengampunan berhubungan erat kaitannya antara kita dengan Tuhan.  Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, ia sudah bertobat dan menerima pengampunan, namun naturnya sebagai manusia masih tetap.  Oleh karena itu, secara realita pengampunan masih tetap diperlukan, karena manusia masih terus saling mengampuni, karena masih selalu saling menyakiti dan melakukan kesalahan.  Pengampunan berhubungan dengan natur manusia sebagai makhluk yang berelasi yang menjadi kebutuhan dari manusia itu.  Jika dengan Allah saja kita bisa terputus hubungannya dan melanggar kehendaknya, terlebih jika dengan sesama.  Dalam hubungan sesama manusia tidak bisa dielakkan bahwa setiap orang membawa pandangan negative dari dirinya sendiri, sehingga ketika seseorang menyampaikan/melakukan sesuatu sekalipun hal itu positif maka kita terkadang menangkapnya negative. Oleh karena itulah, pertentangan, perbedaan dan ketidaksepahaman ada sesuatu tindakan yang tidak dapat dielakkan.  Oleh karena itu sering hal ini menjadikan kita sakit hati, kepahitan dan tidak mengampuni.  Hal inilah yang secara pribadi juga terkadang saya lupa, bahwa dalam setiap hubungan kita pasti selalu terjadi perbedaan dan konflik.  Namun kesadaran akan hal ini terkadang lupa sehingga membuat saya secara pribadi mempertahankan ego dan pendapat sendiri.  Padahal terkadang sering saya menyadari di dalam setiap konflik yang ada, jika bukan saya yang merasa kecewa, maka orang yang berlawanan dengan saya tersebut yang kecewa.  Maka dari itu, seharusnya hal ini membawa kita kepada kesadaran, bahwa perbedaan pemahaman dan konflik bisa saja terjadi setiap hari.  Saya juga menyadari bahwa orang-orang di sekitar saya bisa saja melaklukan hal yang mengecewakan saya, bisa saja membuat saya sakit hati, namun saat ini pilihan di tangan saya apakah saya akan memilih mengampuni mereka yang menyakiti, mereka yang mengecewakan atau justru memilih sakit hati dan mempertahankan sakit hati itu sehingga hal itu memang menjadi bagian dari diri saya.  Tentulah melalui ini, maka saya akan memilih untuk terus mengampuni, mengampuni dan mengampuni oleh karena melaluinya saya dapat disembuhkan dan dipulihkan.  Hal ini juga mengahruskan saya untuk mengampuni, disamping itu perintah Tuhan, sebab tidak mengampuni juga merupakan sebuah penyakit karena berdasarkan penelitian 61 % orang yang mengidap kanker mengalami masalah kemarahan dan kebencian.  Hal ini memberikan kepada saya secara pribadi kesadaran bahwa menyimpan kemarahann dan kebencian mendatangkan penyakit.  Terkadang sering saya juga menyimpan kemarahan karena tidak berani menyampaikan kepada orang tersebut bahwa saya tersakiti melalui perkataan, sikap seseorang tersebut, sehingga lebih sering menyimpannya dan meluapkannya ketika berdoa dan membaca mazmur seperti Daud.  Dengan kesadaran bahwa Menyimpan sesuatu dan tidak bisa mengampuni, maka Marah dan benci akan mendatangkan ketidakdamaian di hati, dan hal itu mendatangkan penyakit, maka saat ini saya secara pribadi akan lebih terbuka, dan lebih memilih untuk mengampuni dari pada menyimpan amarah dan kebencian.  Kesadaran bahwa setiap orang pasti melakukan kesalahan terhadap kita, dan kita juga melakukan kesalahn terhadap orang lain maka kita harus mengampuni.

 

Teratur Membaca Alkitab



Teratur membaca Alkitab


Menurut KBBI, kata teratur merupakan sesuatu yang sudah diatur dengan baik dan dilakukan secara berturut-turut.[1] Hidup secara teratur bisa juga dikaitkan dengan hidup yang disiplin. Seseorang yang melakukan segala sesuatu dengan teratur, artinya ia mampu menjalani hidupnya dengan baik.[2] Teratur membaca Alkitab dapat di katakan di mana seseorang mampu mengatur waktunya dan mampu membaca Alkitab dengan berturut-turut sesuai dengan jadwal yang sudah di atur. Membaca Alkitab dengan teratur merupakan sebuah kegiatan pendisiplinan diri yang sangat baik sebagai orang percaya. Ketika seseorang mampu dengan teratur melakukan pembacaan Alkitab dan ia menyadari betapa pentingnya untuk membaca Alkitab, secara tidak langsung akan ada sebuah “kebiasaan” yang terbangun. Sehingga dengan kebiasaan itu yang akan membawanya kepada perasaan terus bergantung kepada firman Tuhan.[3] Dengan terus teratur membaca kebenaran Firman Tuhan maka seorang anak akan mampu mengenal Tuhan dan mengenal kebenaran.[4]

Dalam beberapa penelitian, ternyata tidak begitu banyak presentase orang percaya yang mampu membaca Alkitab secara teratur secara khusus di kalangan anak-anak muda.[5] Bahkan tidak sedikit juga banyak orang yang menjadi pembacaan Alkitab sebagai suatu sarana untuk membawa ia tidur. Hal ini cukup miris secara khusus bagi anak-anak ada masa kini.

Teratur Berdoa

Doa merupakan sebuah hubungan antara manusia dan Allah untuk saling berkomunikasi. Ketikaseseorang berdoa artinya ia sedang berhadapan langsung dengan Allah.[6] Oleh sebab itu merupakan sebuah hubungan yang cukup vital dan personal dengan Tuhan. Doa juga dikatakan seperti darah yang mengalir dalam iman kepercayaan bagi setiap orang percaya,[7] dan doa tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan orang-orang percaya. Bahkan ada juga yang melihat bahwa seluruh kehidupan beriman itu merupakan suatu kesatuan hidup berdoa.[8]

Menyadari betapa pentingnya doa bagi orang percaya, oleh sebab itu perlu adanya kesadaran untuk melakukan disiplin doa secara teratur. Dalam mendisiplin diri untuk berdoa perlu adanya pengorbanan dan menyediakan waktunya untuk berdoa.[9] Mekipun manusia telah diberikan waktu 24 jam, masih akan sangat sulit untuk beberapa orang memberi sedikit saja waktunya untuk berdoa. Perlu menjadi hal yang diperhatikan di mana sikap hati yang malas berdoa merupakan sebuah dosa yang menyebabkan seseorang terhalang untuk mengenal Yesus lebih dalam.[10]

J.C. Ryle mengatakan bahwa kekristenan sesorang Kristen yang suka berdoa akan lebih nyata dibandingkan mereka yang tidak suka berdoa.[11] Artinya adalah ketika seseorang membangun hubungannya dengan Tuhan secara dalam melalui berdoa, maka akan ada perubahan secara signifikan yang dilihat di dalam dirinya. Oleh sebab itulah dalam teratur berdoa, perlu sekali untuk memeriksa hatinya apakah ketika ia memberi waktu untuk berdoa tidak hanya sebuah rutinitas belaka. Perlu di sadari bahwa doa yang sejati bukanlah doa yang sekedar cukup memberikan waktunya tetapi doa yang sejati adalah di mana seseorang mengerti bahwa ketika ia membangun mezbah doa adalah karena ia mengasihi Allah.[12]

Di dalam kehidupan berdoa juga perlu adanya sebuah perubahan. Menurut Foster dalam bukunya “Berdoa berarti mengubah”.[13] Artinya di dalam berdoa perlu adanya kesadaran seseorang untuk tidak hanya sekedar datang kepada Allah lalu meminta berkat dan menyatakan apa yang di alami namun juga adanya kesadaran untuk berubah dari kehidupan yang lama kepada kehidupan yang dikehendaki oleh Allah.



Teratur Pelayanan

Pada hakikatnya, manusia tidak dapat terpisahkan dengan dunia pelayanan bahkan dimulai sejak lahir bahkan sampai meninggal duniapun, manusia akan selalu saja berada dalam proses pelayanan baik itu dilayani ataupun melayani.[14] Di dalam kehidupan orang percaya juga tak terlepas dari yang dinamakan pelayanan. Seorang yang mau memberi diri untuk melayani menyadari bahwa betapa besarnya kasih Tuhan bagi mereka. Dalam kehidupan pelayanan, perlu disadari bahwa pelayanan adalah sebuah anugerah. Di mana dalam pelayanan kita yang sebenarnya tidak layak diperkenankan dan diizinkan untuk melayani Dia.[15] Namun karena begitu besarnya anugerah Allah, kitapun diperkenankan dan dilayakkan untuk bisa melayani Dia.

Dalam melayani, seseorang harus haruslah dengan jalur dan jalannya Tuhan.[16] Artinya adalah dalam melakukan sebuah pelayanan perlu untuk menjadikan Yesus sebagai teladan yang baik. Dapat dilihat bagaimana Yesus selama Ia berada di bumi. Salah satunya adalah pelayananNya diutamakan kepada penginjilan.[17] Orang-orang percaya yang melayani, perlu memperhatikan hal ini. Di dalam melakukan pelayanan, tujuan utama adalah memberitakan injil bukanlah untuk keperntingan pribadi atau mencari uang.



Teratur Beribadah

Dalam bahasa Yunani kata “ibadah” merupakan “proskuneo” yang diartikan sebagai tanda penghargaan dan pernghormatan dengan cara berlutut dan mencium tanah, hal ini dilakukan untuk menyatakan rasa hormat atau membuat permohonan kepada Allah.[18] Dengan beribadah juga, perasaan hampa dari manusia seakan terpenuhi, karena menurut salah satu pakar mengatakan bahwa di dalam hidup manusia Allah sengaja menciptakan sebuah lubang yang hanya bisa diisi oleh Allah itu sendiri.[19] Sehingga setiap orang yang merasakan adanya kekurangan pasti menyadari betapa pentingnya dirinya untuk diisi oleh Allah.

Dalam melakukan ibadah, tidak terlepas dari penyembahan. Sebuah penyembahan yang benar berasal dari hati yang sungguh-sungguh dan tulus dan sebuah penyembahan berarti mengalami realitas yang mampu menyentuh seluruh kehidupan seseorang. Sehingga melalui penyembahan seseorang mampu lebih dalam mengenal, merasakan serta mengalami kehadiran Kristus di dalam ibadahnya.[20] Seseorang yang melakukan penyembahan kepada Tuhan perlu memiliki motivasi yang benar sehingga ia bisa benar-benar menghadirkan Allah di dalam ibadah penyembahnya. Penyembahan dan ibadah yang murni adalah ketika fokus utama adalah kepada Tuhan saja.[21]







[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia.

[2] M. Noor Said, Hidup Teratur Dengan Jujur dan Disiplin (TK: ALPRIN: 2020), 39.

[3] Watchman Nee, Cara Membaca Alkitab (__: Yasperin, 2020).

[4] Indra instutute

[5] Verne Becker, et all, Muda-Mudi, Inilah Jawabnya.(Jakarta: Gunung Mulia, 2002), 57.

[6] Harison J Ompusunggu, 100 Renungan Doa: Menjadikan Doa Lebih dari Sekedar Rutinitas (Yogyakarta: ANDI, 2013), 41.

[7] Theo Riyanto, Mari Belajar Berdoa (Yogyakarta: PT Kanisius,2019), 5.

[8] Liem Khiem Yang, Jemaat Berdoa (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), 7.

[9] Hope Macdonald, Belajar Berdoa: 9 Langkah untuk Berdoa dengan Baik (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 26.

[10] Ibid, 27.

[11] Harison J Ompusunggu, 100 Renungan Doa: Menjadikan Doa Lebih dari Sekedar Rutinitas (Yogyakarta: ANDI, 2013), 41.

[12] Witness Lee, Doa (__: Yasperin, 2019).

[13] Richard J. Foster, Tertib Rohani: Sudahkah Anda Menapakinya? (Malang: Gandum Mas, 1996), 54..

[14] Rudi Bastaman, Great Servise, Get Happiness: 4 Tips Melayani dengan Hati yang Hebat dan Membahagiakan (Yogyakarta: Budi Utama, 2020), 73.

[15] Watchman Nee, Seri Pembinaan Dasar: Konsikrasi (__: Yasperin, 2020).

[16] Witness Lee, Standar Perkataan Sehat (4): Pelaksanaan Jalan Baru (TK: Yasperin, 2020).

[17] Makmur Halim, Model-model Penginjilan Yesus: Suatu Penerapan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2018), 42.

[18] Rifai, Gemar Belajar Agama Kristen-Jilid 1: Buku Penunjang Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (Sukoharjo: BornWin’s Publishing, 2019), 1.

[19] Jeremia Rim, Iman dan Ibadah Yang Otentik (Yogyakarta: ANDI, 1994), 57.

[20] Richard J. Foster, Tertib Rohani: Sudahkah Anda Menapakinya? (Malang: Gandum Mas, 1996), 231.

[21] Dimin Bansai, Menjadi Penyembahan Sejati (__: Lulu, 2012), 25.

Berpikir Positif


Berpikir Positif


    Kata pikir merupakan akar kata dari berpikir, yang memiliki arti akal, ingatan. Sementara berpikir merupakan suatu kegiatan menggunakan akal untuk mempertimbangkan, memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki akal atau pikiran yang menggerakan seseorang untuk melakukan kegiatan yang dinamakan berpikir. Berpikir ada yang bersifat negatif dan ada juga yang bersifat positif. Ada kalanya manusia berpikir secara negatif dan berdampak negatif pula, namun ada juga yang sebaliknya dengan bepikir positif dan berdampak positif. Berpikir positif adalah suatu bentuk pemikiran yang terbiasa mencari hasil terbaik dari kondisi terburuk.[1]

    Berpikir positif juga merupakan salah satu cara berpikir yang menghasilkan suatu hal yang baik. Seseorang yang berpikir positif bukan menganggap hal negatif dan juga memilih untuk menolak hal tersebut. Pada faktanya berpikir positif mencari,mengharapkan yang terbaik meskipun sekitar terlihat buruk. Seorang pemikir positif memilih untuk tidak memfokuskan diri pada kemungkinan yang terburuk melainkan berusaha melihat sisi negatif dari keadaan yang buruk. Berpiki positif berarti memilih untuk menghadapi tantangan hidup dengan pandangan positif.

    Seseorang yang berpikir positif memiliki sikap yang optimis, mampu melihat harapan, kesempatan, hal baik dalam situasi apapun.[2] Hal ini memiliki dampak baik bagi kesehatan mental seseorang. Sebuah penelitian menunjukan bahwa berpikir positif dikaitkan dengan angka kematian yang rendah. [3] Hal ini menunjukkan bahwa berpikir positif tidak hanya berpengaruh pada kondisi mental saja namun juga pada kondisi fisik. Dapat disimpulkan bahwa berpikir positif adalah kemampuan yang berkaitan dengan konsentrasi, perasaan, sikap, prilaku, emosi, dan sudut pandang untuk menilai sesuatu dari sisi positif atas keadaan diri, orang lain dan segala sesuatu yang terjadi di sekitar.[4] Berpikir positif membantu indivifu memiliki karakter mental yang positif, optimis, kreatif, serta memiliki keyakinan atau harapan tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

Bertanggung Jawab


Bertanggung jawab merupakan suatu sikap yang melakukan tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Bertanggung jawab juga berkaitan dengan integritas seseorang terhadap sebuah tugas yang dimilikinya. Bertanggung jawab atau tanggung jawab juga dapat diartikan sebagai situasi dimana seseorang harus dapat menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajibannya. Dalam KBBI memberi arti bahwa tanggung jawab adalah keadaan untuk wajib menanggung segala sesuatu. Dapat diartikan bahwa bertanggung jawab merujuk pada kewajiban untuk melakukan fungsi tertentu untuk mencapai hasil tertentu.

Seseorang yang bertanggung jawab berarti memiliki keberanian untuk menanggung setiap resiko yang terjadi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Bertanggung jawab berkaitan dengan moralitas dan mentalitas seseorang bukan hanya itu bertanggung jawab erat kaitannya dengan kejujuran. Bertanggung jawab merupakan hubungan interpersonal yang dinamis dan paling mendasar yang menghubungkan antara sesorang yang menjadi penanggung jawab dan hal yang menjadi tanggung jawab atau kewajibannya. [5]









[1] Norman Vincent, The Amazing Result of Positive Thinking (London: Random House UK,2007), 9.

[2] Kiki Nurmayasari dan Hadjam Murusdi, Hubungan antara berpikir positif dan perilaku menyontek pada siswa kelas X SMK Koperasi Yogyakarta, Jurnal Fakultas Psikologi.Vol.3, No 1, Juli, 2015, 9.

[3] Mujahid Ali Khan, Benefit of Being Positive (Idependent Publish:TK, 2022), 9.

[4] Ibid,.

[5] Michael Mc Kennan, Conversation and Responsibility (Oxford Univerity Press: New York, 2012), 1.

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus



BAPTISAN AIR DALAM TULISAN PAULUS


Pendahuluan


Baptisan air merupakan salah satu hal terpenting yang ada di dalam gereja dewasa ini. Baptisan air juga sudah menjadi salah satu tanda dari orang percaya yang bertobat kepada Kristus, yang mana petobat akan dideklarasikan menjadi milik Kristus melalui baptisan air tersebut. Tidak hanya sebagai tanda, baptisan air juga sudah menjadi doktrin dari semua gereja sekarang ini.

Latar Belakang

Kata baptisan jika ditelusuri berdasarkan sejarah yang ada dalam Perjanjian Lama, tradisi baptisan memberikan arti yang jelas dan terukur. Bagi orang Yahudi, baptisan merupakan sesuatu hal yang tidak asing lagi bagi mereka. Baptisan merupakan hal yang telah lama terlaksanakan bahkan ketika mereka mengalami diaspora atau non Israel yang menganut agama Yahudi.[1]

Kata baptisan juga ada dicatat dalam bahasa Ibrani yang mana baptisan berasal dari kata טבילה – tevilah dari kata טבל – taval, yang berarti mencelupkan atau membenamkan. Menurut tradisi Yudaisme, ritual baptisan dipelihara dengan baik oleh kaum Eseni. Kaum Eseni merupakan sebuah kelompok orang yang beragama Yahudi, mereka ialah orang-orang sangat menjaga dan menjalankan hukum agama dengan taat.[2]

Definisi


Dalam dunia Perjanjian Baru, kata Baptisan dikenal dengan istilah baptizomai atau baptisteis dari akar kata baptizo yang memiliki arti yaitu dibasuh, dicelupkan dan dipermandikan. Sedangkan dalam LXX kata baptisan memiliki arti yang hampir sama yaitu menenggelamkan atau menyelamkan.[3] Baptisan air juga sering disebut juga dengan baptisan selam. Baptisan adalah sebuah proklamasi dari keselamatan manusia, yang mana manusia tersebut digambarkan telah selamat dan menjadi milik Kristus. Gambaran ini menunjukan bahwa manusia tersebut telah meninggalkan manusia lamanya yang penuh dengan dosa.

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus


Satu Tubuh di dalam Kristus


Dibandingkan dengan pembenaran oleh iman, Paulus tidak begitu sering membahas tentang baptisan. Akan tetapi ia menyadari bahwa kedua hal ini yaitu pembenaran oleh iman dan baptisan, menjadi salah satu hal yang penting bagi gereja. Dalam I Korintus 12:13, dikatakan “dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Paulus menjelaskan bahwa baptisan yang dilakukan sangatlah penting, hal ini akan menentukan pekerjaan Roh dalam satu tubuh.

Selain dari makna yang ada di atas, Paulus juga menekankan bahwa melalui baptisan adanya sebuah kesatuan dalam tubuh Kristus. Dalam Galatia 3:27-28, Paulus menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani, tidak ada orang merdeka dan hamba, tidak ada laki-laki dan perempuan karena semuanya adalah satu di dalam Kristus Yesus. Pernyataan tersebut bukan sekedar pernyataan secara teologis, melainkan sebuah ekspresi dari kebenaran eskatologis keselamatan – historis yang memiliki konsekuensi bagi mereka yang percaya kepada Kristus.[4]


Simbol dari Keselamatan dalam Kristus


Jika dipahami dengan baik-baik, peranan baptisan menjadi jembatan bagaimana Roh bisa bekerja dalam tubuh Kristus.[5] Jika dibandingkan dengan Matius 3:11, Paulus menekankan ajarannya bahwa baptisan air hanyalah tanda pertobatan untuk mengikut Kristus, tetapi baptisan Roh Kudus adalah aktivitas dari Roh yang membuat orang menjadi percaya.[6]

Setelah Paulus meresponi panggilannya, ia menjadi alat Tuhan yang sangat hebat pengaruhnya di antara orang Yahudi, terkhususnya dalam pemberitaan Injil. Paulus mengimplementasikan ajaran-ajaran Yesus dalam pelayanannya yaitu baptisan air. Dalam Roma 6:6-7, Paulus menjelaskan makna rohani dari baptisan air sebagai wujud lahiriah kesatuan orang percaya dengan Kristus Yesus.[7]


Kematian dan Kebangkitan dalam Kristus


Baptisan yang dijelaskan oleh Paulus memiliki keterikatan dengan sebuah kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Paulus sering menggunakan idiom tentang kematian dan kebangkitan dalam suratnya, yang mana pesan ini sering sekali diartikan sebagai pengalaman mistik seseorang dalam pertobatannya di dalam Kristus.[8] Makna kematian dan kebangkitan di sini bukanlah secara lahiriah melainkan rohani.[9]

Paulus dalam misinya, ia sangat menekankan pada pertobatan semua orang. Setelah ia bertobat dari dosanya, Paulus memiliki banyak sekali misi yang ia ingin lakukan. Karena sang rasul sangat menekankan kepada pertobatan, oleh karena itulah baptisan ini juga sangat menjadi faktor penting dalam misinya.

Tanda Pertobatan


Setelah sekian lama menjadi penganiaya orang Kristen, kini Paulus menjadi orang yang menobatkan orang dari dosanya. Paulus menobatkan orang lain melalui pengajaran yang ia sampaikan kepada banyak orang. Sehingga baptisan menjadi faktor yang mencolok pada tanda dari pertobatan banyak orang. Bagi Paulus bukti orang yang telah bertobat adalah baptisan, meskipun orang diselamatkan bukan karena dibaptis, tetapi ia menekankan bahwa baptisan adalah tanda orang yang telah diselamatkan oleh Kristus.

Mempersiapkan Seseorang untuk Memberitakan Injil


Rasul Paulus melalui misinya yaitu baptisan, ia sangat bergairah pada pemberitaan Injil ke semua orang (Rm. 1:1). Paulus juga memahami tugasnya sebagai rasul yang telah dipilih oleh Allah yaitu sebagai pembawa injil. Paulus dalam misinya melalui baptisan, ia telah melatih beberapa orang untuk menjadi misionaris seperti dirinya. Paulus menggunakan beberapa panggilan khusus untuk rekan sekerjanya, yaitu saudara, pelayan, hamba, teman atau partner dan sebagainya. Rekan sekerja yang sering ia sebutkan antara lain: Barnabas, Timotius, Lukas dari Antiokhia (Siria), Akwila dan Priskila dari Roma, Silwanus, Titus, Tikhikus, Apolos dan sebagainya.[10]

Implikasi Baptisan Pada Keselamatan


Dalam Perjanjian Baru, konsep keselamatan dikenal dengan kata yasa yang artinya lebar, luas, bebas dari sesuatu yang mengikat. Dalam konteks yang rohani, maka yasa diartikan sebagai keselamatan dari kematian kekal oleh dosa.[11] Sedangkan dalam Perjanjian Baru, konsep keselamatan dikenal dengan kata dasar soterio dari kata dasar sozo yang artinya menyehatkan, menyembuhkan, menyelamatkan. Dalam konteks yang rohani, ini berarti menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa.[12] Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru melihat keselamatan merupakan sebuah anugerah yang cuma-cuma. Anugerah keselamatan tersebut hanyalah berasal dari Yesus Kristus sendiri. Keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus adalah inisiatif Allah terhadap manusia dalam bentuk pengorbanan Kristus di salib.

Baptisan Sebagai Sarana Memperoleh Janji Allah


Jika membahas tentang keselamatan pasti kita akan langsung berpikir kepada seseorang yang telah dibaptis. Hal ini terjadi karena orang yang telah selamat dan hidup di dalam anugerah Tuhan pasti telah dibaptis. Keselamatan memiliki hubungan yang erat dengan baptisan, ini akan menjadi jelas jika kita melihat dalam Alkitab. Hubungan yang kuat terdapat pada penerimaan janji Allah.

Baptisan merupakan sebuah sarana pengampunan dosa, penerimaan Roh Kudus dan untuk menerima keselamatan. Sebab janji itu adalah milik mereka yang meresponi berita Injil dengan bertobat dan memberi diri dibaptis (Kis. 2:37-41). Dalam Kisah Para Rasu 16:30-33, kepala penjara bertanya tentang keselamatan “tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Paulus dan Silas menjawab kepala penjara tersebut dengan jawaban bahwa ia dan seisis rumahnya akan diselamatakan ketika mereka percaya kepada Yesus Kristus. Tidak lama kemudian kepala penjara dan seluruh keluarganya pun memberikan diri untuk dibaptis. Paulus dan Silas memahami bahwa orang yang telah bertobat dibuktikan dengan tanda deklaratif yaitu melalui baptisan air.[13]


Baptisan Air sebagai Deklarasi Seseorang Menjadi Milik Kristus


Dalam Roma 6:3-4, Paulus telah menyatakan bahwa baptisan merupakan sebuah simbol dari dari kematian seseorang terhadap dosa-dosanya dan sebagai simbol kebangkitan dalam kehidupan yang baru. Frederik berpendapat bahwa manusia yang dipersatukan dengan Kristus akan mengalami transformasi kehidupan, bukan saja pengampunan dari dosanya tetapi juga kehidupan yang baru.[14]

Kesatuan dengan Kristus ini tidak bisa begitu saja diartikan secara lahiriah, tetapi dimaknai secara rohani. Ini berarti pada saat seseorang masuk ke dalam air atau ditenggelamkan maka hal tersebut dimaknai sebagai kematian dan penguburan bersama dengan Kristus. Ketika seseorang tersebut keluar dari air diartikan sebagai seorang pribadi yang telah bangkit dan hidup kembali bersama dengan Kristus. Dalam hal ini, pribadi yang keluar dari dalam air merupakan pribadi yang mengenakan hidup baru (Gal. 3:27).[15]




Kesimpulan


Baptisan ialah tindakan iman lahiriah seseorang yang menghasilkan sebab dan juga akibat pada keselamatan. Baptisan merupakan sebuah simbol yang harus dialami oleh semua orang yang telah hidup benar di hadapan Allah. Dengan dilakukannya baptisan, seseorang telah dinyatakan sebagai milik Kristus. Dicelupkan berarti penyucian, pembasuhan dan pembenaran. Keluar dari dalam air berarti bangkit dan hidup kembali bersama dengan Kristus dalam hidup dan tubuh yang baru. Baptisan memberikan batasan bahwa seseorang tersebut telah terpisah dari dosa-dosanya dan ia dikhususkan kembali untuk melakukan pekerjaan Allah.

Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5


Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5


Dalam bagian Rut 1:1-5, narrator menuliskan ceritanya dengan sangat jelas dan sistematis. Meskipun tergolong singkat, Namun ke 5 ayat dalam bagian pendahuluan ini menjadi penting dan mendasar untuk mengerti kisah selanjutnya dalam kitab Rut sesuai dengan yang dimaksud oleh sang Narator. Dalam bagian ini saya memberikan 5 topik bagian dari setiap ayat yang ada yang tentunya sesuai juga dengan konteks masa kini, antara lain:

Khotbah: Eksposisi Kitab Rut 1:1-5

Ayat 1a. Penderitaan datang Menghampiri

    Dalam bagian ini narrator memulai ceritanya dengan mengangkat pada satu masa ada kelaparan di tanah Israel. Kelaparan itu terjadi pada masa para hakim memerintah. Ini sebenarnya memberikan rujukan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada masa para hakim adalah dosa yang begitu bejat dilakukan oleh bangsa itu (Hakim-hakim 21:25). Di zaman itu semua orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya. Dengan demikian narrator seperti memberi arahan bagi kita bahwa penyebab kelaparan itu berhubungan dengan perbuatan dosa yang dilakukan bangsa itu. Kita juga dingatkan oleh narrator bahwa akibat dosa dapat membawa kelaparan kepada manusia. Hal ini sama persis dengan kutuk yang diterima oleh Adam dan Hawa ketika berdosa di taman eden, dimana Allah mengutuk tanah sehingga harus bersusah payah dalam mencari rezeki (Kej.3:17). Oleh karena itulah, kita bisa melihat ide Narator bahwa dosa dapat mengakibatkan penderitaan. Hal ini sekaligus menjadi pengantar dari kitab ini, sehingga kita bisa melihat diakhir dari kitab ini narrator memunculkan ide mengenai kasih Allah yang menebus melalui kisah Boas menebus Rut. Jadi dapat kita simpulkan bahwa kelaparan yang terjadi adalah konsekuensi langsung dari dosa bangsa itu. Hal ini tentu tidak dapat diprediksi oleh bangsa itu kapan terjadinya karena kita tahu bahwa Israel adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan melimpah susu dan madunya.

Oleh itulah Kelaparan yang terjadi itu sangat berat dan bukan hanya terjadi di satu wilayah, melainkan di seluruh tanah Israel. Kelaparan ini dialami oleh semua orang yang ada di tanah Israel. Kelaparan ini menjadi satu penderitaan yang menyiksa dan menakutkan. Jika kita lihat dalam konteks masa kini,tentu semua kita tidak mau terjadi kelaparan. Namun jika melihat apa yang baru-baru saja terjadi secara khusus di kota Batam di pertengahan 2020 hingga 2021 ada begitu banyak orang menderita dan ketakutan karena keadaan Covid 19 yang membuat semua masyarakat harus tinggal di rumah. Hal ini membuat masyarakat tidak bisa bekerja, sehingga ekonomi terhenti dan mati. Ada ribuan keluarga yang akhirnya meninggalkan Batam dan kembali ke kampungnya. Kita melihat ada kelaparan yang dapat dikatakan besar di kota Batam akibat Covid 19. Dan kelaparan itu bukan saja hanya ada di Batam, tetapi hamper di seluruh Indonesia yang pada umumnya di kota kota besar yang kebanyakan masayarakatnya menggantungkan kehidupannya dari pekerjaan sebagai karyawan ataupun usaha kecil menengah. Semua hal ini terjadi diluar dari perkiraan setiap kita. Melalui hal ini kita belajar bahwa penderitaan itu bisa menghampiri kapan saja dan dimana saja.

Ayat 1b. Respon terhadap Penderitaan (Allah yang dilupakan).


Di dalam bagian ayat 1b, narrator memberi informasi bahwa ada satu orang yang meresponi kelaparan itu dengan pergi membawa istri dan kedua anaknya laki-laki meninggalkan Betlehem-Yehuda menuju daerah Moab dan menetap disana sebagai orang asing. Narator sedang mengarahkan pembaca ceritanya bahwa ada seseorang yang meresponi penderitaan dengan “kabur” meninggalkan apa yang disebut sebagai tanah perjanjian, apa yang disebut sebagai rumah roti. Orang yang pergi ini tidak hanya bermaksud sementara karena ia membawa isteri dan anak-anaknya. Hal ini berarti keyakinan tentang Allah yang menyediakan, Allah yang berjanji dan Allah yang menepati janjinya, telah sirna dari orang ini. Oleh karena itulah mungkin narrator sengaja tidak menuliskan tentang Allah di bagian ayat pertama ini. Mungkin Allah telah “dilupakan” di dalam kisah ini. Mengapa demikian, karena kepergian seseorang ini bertolak belakang dengan apa yang selama ini dialami oleh bangsa Israel, dimana Allah membawa mereka keluar dari Mesir dan masuk ke tanah perjanjian ini. Allah menyediakan makanan selama kurang lebih 40 tahun bangsa itu di padang gurun. Allah begitu banyak melakukan hal-hal yang spektakuler/mujizat2 yang luar biasa. Orang ini telah melupakan semuanya itu.

Dalam kehidupan masa kini, berapa banyak orang-orang yang kita lihat ketika mengalami masalah dan penderitaan mereka malah justru meninggalkan Tuhan. Ketika sakit tak kunjung sembuh, mereka malah hancur imannya. Ketika keluarga mereka tidak akur, mereka malah menjauh dari Tuhan. Saya mengenal banyak orang-orang seperti ini. Salah satu jemaat yang saya layani juga demikian. Dimasa semua baik-baik saja, dia sangat rajin bersaksi, rajin beribadah, dan rajin memberi. Namun ketika anak sulungnya yang perempuan mengalami perceraian dalam rumah tangganya, itu mengakibatkan jemaat ini tidak lagi dating beribadah, ia akhirnya menjauh dari Tuhan dan pergi meninggalkan Tuhan.

Melalui hal ini kita belajar bahwa meresponi penderitaan seharusnya bukanlah meninggalkan Tuhan tetapi melainkan mendekat kepadanya dan semakin dekat senantiasa kepadanya.

Ayat 2. Identitas tak sesuai Tindakan


Dalam bagian ini narrator memberikan informasi mengenai identitas orang tersebut yang diikuti dengan perginya mereka meninggalkan Betlehem-Yehuda menuju tanah Moab. Identitas ini menjadi penting karena identitas itu menjadi harapan, tindakan yang nyata. Oleh karena itulah narrator menyebut langsung nama dari orang itu ialah Elimelekh yang berarti “Allah adalah Raja” dan istrinya Naomi yang berarti “menyenangkan,kesukaan, keindahan.” Identitas/nama yang dimiliki oleh Elimelekh tidak sesuai dengan respon/tindakan yang dilakukannya untuk meninggalkan Betlehem-Yehuda dan pergi ke tanah Moab. Dari hal ini kita bisa mengira bahwa narrator sedang mengidentifikasikan Elimelekh yang berjalan tak sesuai dengan apa yang dimaksudkan baginya. Elimelekh telah mengambil keputusan yang salah dalam hal ini.

Ketika membaca kisah ini, saya teringat dengan seorang teman yang bernama “Sabar” dan tentunya kita berharap dia adalah orang yang sabar. Tetapi sejauh saya berteman denganya selama kuliah, justru saya dan teman lainnya yang harus banyak bersabar atas ulahnya yang terkadang usil dan menjengkelkan. Nah bagaimana dengan kita semua, bukankah identitas kita adalah orang percaya, orang Kristen, apakah identitas itu melekat dan terpancar dari kehidupan dan keputusan kita?

Ayat 3-5. Sudah Jatuh tertimpa Tangga


Dalam bagian ini Narator memberikan informasi bahwa Elimelehk akhirnya mati (ayat 3) sehinngga Naomi tinggal Bersama kedua anaknya. Ini adalah kesedihan yang mendalam bagi Naomi, harus kehilangan suaminya di tanah perantauan. Oleh itulah mungkin anak-anak Naomi Mahlon dan Kilyon menikah dan mengambil orang Moab menjadi isterinya, yaitu Orpa dan Rut (ayat4). Pernikahan kedua anak laki-laki Naomi ini mungkin bisa sedikit mengobati duka yang dialami oleh Naomi. Oleh itulah Narator menuliskan bahwa mereka masih tinggal di Moab kira-kira 10 tahun lamanya. Belum usai penderitaan yang dialami Naomi, karena kehilangan suaminya, dan kedua anaknya laki laki yang menikahi perempuan Moab belum juga memilki keturunan (artinya selama 10 tahun, Naomi belum juga memiliki cucu). Naomi kembali mengalami duka yang lebih dalam, yakni ia harus kehilangan kedua anaknya. Naomi kini tinggal sendiri di negeri orang. Naomi hidup sebatang kara. Penderitaan yang dialami oleh Naomi dating bertubi-tubi. Oleh itulah kita bisa mengatakan bahwa Naomi sudah jatuh tertimpa tangga lagi.

Penderitaan, masalah, pergumulan semuanya bisa datang secara bertubi-tubi menghampiri kita. Sama seperti yang dialami oleh Naomi, penderitaan yang cukup berat datang secara bergantian. Tetapi kisah Naomi tidak berhenti hanya sampai di masa penderitaan itu. Kisah Naomi terus berlanjut dan kita melihat sang Narator telah memiliki alur cerita dari kehidupan Naomi. Demikian juga halnya dengan kehidupan kita. Narator kehidupan kita telah memliki alur cerita dari seluruh kehidupan kita. Ada mungkin masa-masa yang berat akan kita alami seperti pengalaman Naomi, tetapi mari kita percaya kepada Narator itu,bahwa akan ada akhir yang indah dari cerita penderitaan itu.

i. Rut 1:6-14


Jika di dalam ayat 1-5, narrator lebih menekankan kepada Elimelehk dan segala keputusan yang diambilnya serta akibatnya. Di dalam ayat 6-14 ini, narrator beralih focus kepada Naomi, si janda malang yang telah ditinggal suami dan anak-anaknya. Di dalam ayat 6 bagian inilah narrator pertama sekali menyebut nama Tuhan, yakni Naomi mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan dan memberikan makanan kepoada mereka. Ini sebenarnya menjadi titik balik dari kehidupan Naomi.

Ayat 6 Timbulnya Harapan (Kembali Ke Betlehem)

    Dalam bagian ini dijelaskan bahwa Naomi memutuskan untuk kembali ke Betlehem setelah semua penderitaan yang dialaminya (ayat 1-5). Keinginan untuk kembali ke Yerusalem ini dimiliki oleh Naomi setelah ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka. Melalui hal ini kita melihat sikap yang diambil oleh Naomi sudah sangat tepat bahwa ia mendengar tentang Tuhan dan ia kembali. Mendengar akan perbuatan Tuhan inilah yang menimbulkan harapan bagi Naomi. Hal yang sama juga terjadi bagi kita, dimana ketika kita mendengar tentang perbuatan-perbuatan Tuhan baik melalui firmanNya maupun kesaksian-kesaksian, maka itu akan menimbulkan harapan. Harapan akan kuasa Tuhan, harapan akan pertolongan Tuhan, harapan akan pemulihan dari Tuhan. Harapan inilah yang kan membuat kita bertahan dalam penderitaan dan kembali terus mempercayai Tuhan. Saya secara pribadi dalam bersikap di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan akan selalu memberika diri untuk mendengar Firman Tuhan dan perbuatan-perbuatannya serta berharap senantiasa kepada Tuhan.

Ayat 7-14. Seleksi (Perjalanan Pulang)


Dalam bagian ini merupakan kisah dimana Naomi dalam perjalanan pulang ke Betlehem menasehatkan kepada menantunya Rut dan Orpa untuk kembali ke Moab negara asalnya karena dalam pemikiran Naomi, menantunya akan lebih mapan di Moab dibandingkan bersamanya di Betlehem. Hal ini disebabkan secara keturunan karena Naomi telah kehilangan suaminya, anak-anaknya. Oleh karena itu tidak mungkin lagi ada anak yang bisa menjadi suami bagi Rut dan Orpa. Selain itu, secara ekonomi juga Naomi sudah tidak punya apa apa, bahkan tidak punya lahan/tanah untuk ditanami. Jadi baik secara ekonomi maupun secara keturunan, Naomi sudah tidak bisa diharapkan lagi. Oleh karena itulah Naomi menyuruh kedua menantunya untuk meninggalkannya. Namun dari 2 menantunya Orpa dan Rut, akhirnya salah satu meninggalkan Naomi dan kembali ke Moab yaitu Orpa. Pertimbangan Lahiriah yaitu keturunan (suami) dan ekonomi menjadi landasan utama Orpa untuk meninggalkan Naomi. Orpa sama sekali tidak mengikutsertakan pertimbangan rohani (iman) dalam mengambil keputusan. Hal ini mungkin biasa saja terjadi karena memang Orpa adalah orang Moab yang tidak mengenal Allah Israel.Melalui hal ini saya belajar bahwa hal-hal lahiriah seperti ekonomi bisa saja menjadi alat seleksi dalam mengiring Tuhan. Oleh karena itu sekalipun dimasa sulit, maka pertimbangan iman harus tetap diikutsertakan dalam mengambil keputusan.

PIDATO HUT KEMERDEKAAN RI KE 77, RABU 17 AGUSTUS 2022.





PIDATO HUT KEMERDEKAAN RI KE 77, RABU 17 AGUSTUS 2022.



SHALOM, SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA.



Yang Kami hormati, Ibu, BAPAK DLL

Yang kami hormati ORANG TUA yang hadir pada hari ini.

Dan yang kami kasihi, seluruh mahasiswa/I yang cantik2 dan tampan-tampan.

Merdeka!!



Pertama tama marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus atas berkat, rahmat dan anugerahNya sehingga pagi hari ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 77. Hari yang berbahagia, dimana kita diingatkan 77 tahun yang lalu, 17 Agustus 1945 Bangsa Ini telah memproklamirkan kemerdekaannya.


Tentunya kita tahu semua Kemerdekaan bangsa ini tidak didapat dengan begitu saja atau diterima begitu saja, melainkan diraih dengan penuh perjuangan dan pengorbanan bahkan direbut dengan darah serta nyawa oleh para pahlawan kita dari tangan para penjajah. Bukan perkara mudah, 350 tahun ditangan belanda dan 3,5 tahun di tangan Jepang bukanlah waktu yang sedikit, ada berbagai generasi yang berjuang disana. Namun, berkat rahmat Tuhan, serta semangat persatuan dan kesatuan dari para pahlawan,serta seluruh nenek moyang kita maka peperangan dapat dimenangkan dan kemerdekaan ini dapat diraih. Nenek Moyang kita dan para Pahlawan kita telah meraih kemerdekaan ini, saat ini bagian kita meneruskan dan mengisi kemerdekaan ini yang tentunya untuk membawa bangsa ini kepada Kemerdekaan yang sesungguhnya. Membangun bangsa ini sesuai cita-cita luhur dari para pendiri bangsa.



Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 77 ini, Thema yang diusung oleh pemerintah kita adalah “Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat" tentunya ini tidak terlepas dari apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dimana covid 19 merongrong masuk sehingga membuat semua sector dalam pemerintahan bangsa ini menjadi terpuruk, seperti sector Kesehatan, ekonomi, bahkan kerohanian dan lain sebagainya. Oleh karena itulah melalui HUT RI Ke 77 ini pemerintah Kembali mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama, bergotong royong dalam memujudkan pemulihan ini di seluruh sector-sektor yang terdampak. Sehingga dengan pemulihan yang terjadi, maka bangsa ini akan mengalami kebangkitan dan menjadi lebih kuat.



Kita sebagai warga negara, sebagai dosen, staff dan mahasiswa tentu punya andil besar dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa ini, untuk bisa pulih lebib cepat dan bangkit lebih kuat. Peran-peran kecil yang kita miliki masing-masing jika dilakukan bersama-sama tentu akan mampu membawa pemulihan dan kebangkitan bagi bangsa ini. Seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Presiden Pertama RI. Ir. Soekarno, “beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Saat ini ada RIBUAN an lebih mahasiswa d yang tentunya semuanya adalah Pemuda, jika kita bergerak bersama-sama, niscaya bangsa ini dan bahkan dunia akan terjadi perubahan dan kebangkitan.

Mari kita satukan hati,dan melangkah bersama-sama dengan satu tujuan membawa pemulihan dan kebangkitan bagi bangsa ini. Sebagai mahasiswa teologi, hamba Tuhan, dosen dan staff tentu andil kita besar dan kesempatan kita terbuka luas untuk masuk di tengah-tengah masyarakat, secara khusus masyarakat Kristen. Kita dipanggil untuk menciptakan masyarakat-masyarakat yang memiliki budi pekerti yang luhur, berakhlak mulia sehingga mendorong terciptanya kedamaian, keadilan, kemajuan, dan pembangunan yang terus berjalan. Seperti kata Nabi Yesaya dalam surat Yesaya 60:1, “Bangkitlah, j menjadi teranglah, sebab terangmu datang , dan kemuliaan l TUHAN terbit atasmu.”





Saya menitipkan bangsa ini, Bangsa Indonesia yang kita cintai bersama sama ini, dalam doa-doa bapak-ibu saudara-saudara semua, dosen, staff dan mahasiswa seperti nasehat Paulus kepada Timotius dalam suratnya 1 Timotius 2: 1-2, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, 2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.



Sebagai penutup saya ingin membagikan pantun.



Jalan-jalan ke kota Batam

Jangan lupa singgah Barelang

Indonesia maju dan tentram

Kita semua hatinyapun senang.



Pergi ke pasar membeli cabai

Sama si Rista berjalan Kaki

Indonesia merdeka sudah dicapai

Kita nikmati dan juga syukuri.



Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih atas segala perhatian bapak, ibu saudara semua. Tuhan Yesus memberkati.


Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!



Shalom.



KEMAHAKUASAAN ALLAH DALAM PENCIPTAAN (Kejadian 1:1).



KEMAHAKUASAAN ALLAH DALAM PENCIPTAAN

Oleh: Christiana Lim

Pendahuluan

    Alam semesta, manusia dan segala jenis binatang yang ada dibumi adalah ciptaan Allah. Hal ini membuktikan Kemahakuasaan Allah dan kedaulatan-Nya sehingga Ia dapat menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Manusia merupakan salah satu ciptaan-Nya sehingga manusia juga bergantung pada ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang berkuasa. Makhluk-makhluk ciptaanNya saling bergantung satu dengan yang lain. Dalam kitab Kejadian telah ditulis tentang penciptaan Allah akan alam semesta dan segala isinya hal ini sangat menakjubkan karena dalam kejadian 1 dikatakan bahwa ketika Tuhan berfirman maka apa yang Ia katakan terbuat.

    Salah satu atribut Allah adalah kemahakuasaan. Allah adalah Allah yang memiliki kuasa yang tak terbatas, sehingga apapun yang tidak mungkin bagi manusia untuk dilakukan dapat dilakukan oleh Allah membuktikan Allah berkuasa. Tidak hanya itu Allah juga memiliki banyak sifat. Ada beberapa diantaranya ialah: kedaulatan Allah, Kekudusan Allah, Kemahadiran Allah dan lain sebagainya. Kemahakuasaan Allah adalah hal yang menjelaskan tentang keagungan dan kehormatan yang tida dapat dibandingkan dengan apapun.

    Kemahakuasaan Allah dalam menciptakan semesta Ia tidak serta merta menciptakan dan meninggalnyakannya begitu saja, tetapi Ia adalah Allah yang bertanggung jawab atas semua ciptaan-Nya. Dengan memberikan tanggung jawab kepada manusia atas semua ciptaan-Nya karena Allah memberikan kuasaNya kepada manusia untuk memelihara semua ciptaan-Nya.

Definisi Kemahakuasaan dan Penciptaan

    Kata Yunani “Kuasa” adalah dynamis. Kata ini berarti “kekuatan yang kuat, potensi, atau kuasa yang melekat.” Dynamis adalah kemampuan untuk melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan itu merupakan kuasa Alla yang dinamis, eksplosif dan kemampuan supranatural-Nya.[1] Kemahakuasaan Allah adalah hal yang menjelaskan tentang kemuliaan, keagungan, dan kehormatan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.[2]

    Dalam KBBI arti kemahakuasaan diambil dari kata dasar yaitu kuasa yang berarti kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dan sebagainya). Tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan oleh Allah, semua hal yang tidak mungkin bagi manusia dapat dibuat oleh Allah, itulah yang disebut kemahakuasaan Allah.[3] Tidak ada hal yang tidak diketahui oleh Allah. Dia adalah Allah yang mahatau, disamping itu tidak ada yang tidak dapat dibuat oleh Allah, itulah yang disebut kemahakuasaan-Nya.[4]

    Penciptaan menurut KBBI dari kata cipta yang memiliki arti kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru; angan-angan yang kreatif. Menciptakan yang artinya menjadikan sesuatu yang baru tidak dengan bahan. Penciptaan merupakan tindakan bebas Allah, melalui tindakan ini Allah pada mulanya menciptakan langit dan bumi.

Kemahakuasaan Allah dalam Penciptaan

    Berdasarkan pengertian diatas yang telah dijelaskan bahwa Kemahakuasaan Allah dalam penciptaan sangat luar biasa. Melalui tindakan-Nya Allah pada mulanya menciptakan segala sesuatu dari yang tidak nampak menjadi nampak.[5] Kekuasaan Allah tidak memiliki batas, karena Allah adalah Roh yang tak terbatas dan sempurna serta Allah pun berkuasa atas segala yang hidup.[6] Dalam Yesaya 40:28 mengatakan, “Tidakkah kautahu, dan tidakkah kau dengar? Tuhan ialah Allah yang kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya”. Kemahakuasaan Nya yang tak terbatas itu sehingga Allah dapat melakukan apa saja yang ingin dibuatNya karena diriNya sendiri tidak terbatas. Kekuatan Allah yang kreatif dapat menciptakan langit dan bumi.[7] Kemahakuasaan Allah bersifat independensi, artinya Allah tidak bergantung pada manusia. Apapun yang ingin Allah lakukan dapat dilakukan-Nya.

    Identifikasi Allah sebagai sang pencipta dalam Kejadian 1:1, menunjuk kepada istilah umum untuk keAllahan yang merupakan sebutan Allah yang sejati. Kata yang digunakan adalah Elohim. Istilah Elohim memiliki makna majemuk berhubungan dengan ilahi , yaitu yang kuat, pemimpin yang perkasa , keallahan yang tertinggi.[8] Segala sesuatu yang telah dijadikan Allah, tanpa Allah maka tidak akan terjedi. Dalam Ibrani 11:3 mengatakan “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah”. Hal ini membuktikan kemakuasaan Allah hanya dalam berfirman maka terjadilah.[9]

    Dalam kejadian 1:1 dikatakan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, ayat ini jelas menekankan kemahakuasaan Allah karena dapat menciptakan. Allah memiliki kebebasan dan kuasa untuk melakukan apa saja dengan keAllah-anNya. Ia berkuasa atas alam semesta.[10] Kekuasaan Allah terlihat jelas ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah hanya berfirman maka apa yang Ia katakan ada kuasa. Oleh karena itu tidak ada yang dapat menyamakan kekuatan Allah.[11]

Pandangan tradisi Gereja

    Gereja mengakui kemahakuasan Allah dapat dibuktikan pengakuan iman Rasuli yang berbunyi “ Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi”.[12] Pernyataan pengakuan ini merupakan iman dari gereja mula-mula Allah adalah Allah yang berkuasa yang dapat menciptakan alam semesta.[13] Dalam gereja mula-mula ternyata arti kata menciptakan memiliki arti yaitu membuat sesuatu tanpa apa-apa.

Relevansi Kemahakuasaan Allah bagi manusia

    Kekuasaan Allah memberikan dasar moral. Allah tidak hanya melakukan sesuatu untuk memberikan kesan baik kepada manusia.[14] Allah menciptakan Langit bumi dan segala isinya, semua yang telah Allah ciptakan memiliki kegunaannnya masing-masing sehingga pada akhirnya manusia diciptakanNya diakhir, artinya ialah Tuhan telah menyediakan semua yang dibutuhkan oleh manusia, Dia tidak membuat manusia menjadi susah sendiri.[15] Manusia adalah mahkluk special yang serupa dan segambar dengan Allah, oleh karena kemahakuasaan Allah manusia hanya menjalankan tugas yaitu memelihara yang telah Allah ciptakan dan manusia hanya menikmati dan mengelolanya saja.

Alam merupakan ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, dari Karya Allah ini sehingga manusia dapat menggunakan segala yang tersedia dialam guna kebutuhan yang merupakan ciptaan Allah. Kemakuasaan Allah dalam penciptaan sangat berdampak besar bagi manusia sehingga manusia dan karya ciptaanNya saling bergantung dan saling membutuhkan.

Kesimpulan

    Kemahakuasaan Allah dalam penciptaan terlihat jelas bahwa Allah berkuasa dibuktikan dari kisah penciptaan-Nya, Ia mampu menciptakan langit dan bumi dengan Firman yang keluar dari mulut Allah.Ia mampu membuat sesuatu tanpa bahan apapun hal ini membuktikan Kuasa Allah bahkan kemahkuasaan Allah sangat berdampak bagi ciptaan-ciptaanNya salah satunya ialah manusia. Allah adalah pribadi independensi yang tidak bergantung pada ciptaan-Nya tetapi ciptaan-Nyalah yang bergantung pada Allah. Manusia memiliki peran penting dalam Kemahakuasaan Allah yaitu memiliki tugas untuk merawat dan memelihara alam semesta dengan baik, sebagaimana Allah telah merawatnya.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.kehidupanrohani.com/2022/06/keadilan-allah-ayub-421-30.html
C, Thiessen Henry, Teologi Sistematika.Malang : Gandum Mas. 2000.

Charitoun,Erward Sarmawando Gawa. Apologetika Kristen tentang Kemahakuasaan Allah serta Misi Apologetika Kristen. institut Agama Kristen Negeri toraja.

Evans, Anthony T. ”Teologi Allah, Allah Kita Maha Agung” Jawa Timur: Malang Gandum Mas, 1999.

Evas, Tony. Teologi Allah, Malang: Gandum Mas 1999.

J, Erickson Millard. Teologi Kristen, Malang :Gandum Mas, 2004.

Johnson, Djonly Relly Rosang, “Studi Kritik Teori Penciptaan Dalam Kejadian 1:1-2” HUPÄ’RETÄ’S 1.1 (2019): 62–78.

Maldonado, Guillerom. Kuasa Supernatural Tuhan Liht Publishing. 2011.

Pendidikan Agama Kristen, Allah Maha Kuasa, Jakarta: Gunung Mulia, 2007.

Tong, Stephen. Teologi Sistematika Volume 1 Dokrin Allah. Surabaya: Momentum 2008.

W.Menzies. William & Stanley M. Horton. Doktrin Alkitab, Malang: Gandum Mas 2003.







[

KEADILAN ALLAH AYUB 42:1-30



KEADILAN ALLAH (AYUB 42:1-30)


Oleh Gusmernia.

Pendahuluan

    Keadilan sangat di butuhkan dalam hidup ini sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Orang –orang sekarang ketika mengalami persoalan mereka berharap dan menuntun keadilan itu ada dalam hidupnya. Salah satu kisah dalam alkitab yang mencari keadilan Tuhan dalam hidupnya ketika mengalami pencobaan yang terdapat dalam kitab Ayub. Cerita Ayub merupakan kisah yang mewakili manusia secara umum. Ayub adalah orang yang hidup saleh dan takut akan Tuhan serta dia juga termasuk orang yang terkaya pada zamannya. Tetapi Tuhan menginjikan Ayub di cobai oleh iblis untuk menguji Ayub bagaimana Ayub mengatasi persoalan yang dihadapinya. Tuhan menginjikan Ayub kehilangan semua yang dimiliki, harta kekayaanya dalam satu hari. Dalam penderitaan Ayub sebagai orang saleh, dalam ketidak mampuannya dalam menghadapi cobaan yang dialaminya ia mulai menuntun keadilannya sebagai orang yang saleh atau taat pada Tuhan. Sehingga dalam kisah Ayub ini menceritakan bahwa penderitaan yang dialami oleh seorang yang benar dan jujur.[1]

KEADILAN ALLAH  AYUB 42:1-30

    Maksud dari Allah memberikan penderitaan, agar manusia sadar bahwa dia makhluk yang terbatas.[2] Seringkali umat manusia menuntun keadilan lewat apa yang telah mereka lakukan kepada Allah namun dibalik itu semua ada banyak yang membuat keadilan itu tidak nyata dalam diri manusia.

Definisi Keadilan

    Keadilan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah sifat perbuatan, perlakuan yang adil.[3] Sedangkan kalau berbicara keadilan Allah dalam buku Erickson mengatakan bahwa Allah itu adil dalam pelaksanakan hukum-Nya.[4] Allah juga menuntut hukumnya di patuhi dan menjaganya dengan sama rata.[5] Sedangkan istiliah-istilah yang dipakai dalam perjanjian baru, keadilan pada umumnya sering di hubungkan dengan hukum Allah, kebaikan Allah dan penyelamatan Allah.[6] Dapat disimpulkan bahwa keadilan merupakan suatu sifat atau perbuatan yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan setiap hukum atau aturan dengan sama rata tanpa berat sebelah atau pilih kasih.

    Dalam bahasa inggris tidak lepas dari Istilah kebenaran dan Keadilan karena merupakan kata yang berbeda, tetapi dalam perjanjian Lama Ibrani dan Perjanjian Baru Yunani hanya ada satu kelompok kata dibelakang kedua istilah inggris ini. Dalam buku Thiessen menuliskan dua kata yang tidak bisa terpisah yakni kebenaran dan keadilan merupakan unsur kekudusan Allah yang nampak di dalam cara Allah menghadapi manusia ciptaan-Nya.[7] Keadilan atau kebenaran dapat diartikan suatu keadaan tak bernoda atau layak, tepat.[8] Sedangkan dalam buku Marie Prys mengaitkan antara keadilan dan hukum merupakan aspek-aspek kekudusan Allah yang dilihat dalam cara-Nya bertindak terhadap ciptaan-Nya.[9] Keadilan Allah terlihat jelas pada kenyataan bahwa Dia menghukum kejahatan dan menganugerahkan pahala bagi kebaikan.[10] Untuk itu keadilan Allah tidak bisa diukur dalam jangka pendek, karena setiap perbuatan akan menerimanya walaupun prosesnya lama namun Tuhan tetap menjalankan keadilan bagi manusia ciptaan-Nya.

Kisah Ayub (Ayub 1-42)

    Ayub diperkenalkan sebagai orang yang saleh dan juga kaya sekali (1:1-5).[11] Dengan izin Tuhan, Ayub ditimpa pencobaan oleh iblis yaitu semua harta miliknya termasuk anak-anaknya dibinasakan pada hari yang sama (1:6-19). Allah menginjikan itu semua terjadi karena iblis menuduh Allah sebagai pribadi yang bodoh; sipenipu ulung itu mengklaim bahwa Ayub bersikap baik dan setia hanya karena hal itu membantunya untuk memperoleh berkat besar.[12] Iblis juga menyangka, Ayub memiliki hidup yang saleh karena Tuhan memberikan banyak kekayaan dan perlindungan kepada Ayub (Ayub 1:8-10).[13] Iblis mencoba menghancurkan Ayub dengan cara mengambil semua apa yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Ayub yaitu kambing, domba, unta, lembu, keledai betina, para budak dan anak-anak Ayub.[14] Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan kitab Ayub ini adalah menyelidiki keadilan perlakuan Allah terhadap orang benar.[15]

    Dalam penderitaan Ayub, ia tetap bertahan dan tidak tergoyangkan imannya kepada Allah (1;20-22). Tuhan juga melihat iman Ayub dan juga iblis ingin mencobai Ayub dan Tuhan juga menginjikan Ayub mengalami pencobaan itu lagi dari iblis yaitu penyakit yang sangat keras sehingga nyawanya terancam (2;1-8), istrinya sendiri mengejeknya bahkan menganggap Ayub gila. Namun dari semua yang dialaminya, ia tidak mengutuk tetapi ia berkata: dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (1:21-22).

    Di pasal 3 Ayub memulai membuka mulutnya. Ia merasa terasing dari Allah, mengkritik Allah kerena berlaku tidak adil dengan mengutuki hari kelahirannya, namun ia tidak mengutuki Allah.[16] Selain itu juga dia dikejutkan dengan sahabat-sahabatnya yang menuduh dia berdosa sehingga pencobaan itu menimpa dia (2:9-13). Ketika teman-teman Ayub memberikan pendapat kepadanya, respon Ayub mengatakan bahwa dirinya tidak salah dan ia sebagai orang benar dan Allah sebagai penuntut yang memojokkan dirinya. Ayub telah dikuasai oleh sikap memprotes dan kepandaian bicara sehingga ia tidak peka lagi terhadap Allah, Ayub memprotes karena Allah diam saja, (35:12-13).[17] Namun dalam pembicaraan terakhir pada pasal (36:1-37:24), seorang sahabat Ayub berbicara yakni Elihu dengan menggarisbawahi keadilan Allah serta kemungkinan bahwa penderitaan digunakan-Nya untuk mendidik manusia, tetapi Ayub sebagai manusia yang kecil tidak dapat mengharapkan suatu jawaban pasti dari yang Mahakuasa.[18] Dalam buku Prys mengatakan bahwa hal yang paling menyakitkan bagi Ayub adalah Allah tampaknya telah meninggalkannya-suatu tanda bahwa bukanlah penderitaan atau kesengsaraan duniawi yang seharusnya ditakuti, melainkan penderitaan rohani karena terpisah dari Bapa surgawi.[19] Meskipun Ayub di sisi lain ia merasa lelah atau kecewa dalam penderitaan nya dan menganggap apa yang dialaminya bukan karena dosanya yang mengakibatkan penderitaan itu terjadi, Tetapi pada kesempatan berikutnya dia mengakui kemahakuasaan Allah dan ketidakmampuan manusia, sambil bertobat dengan sikap rendah hati yang sungguh-sungguh (42:1-6).[20] Di pasal 42 menceritakan Ayub bertobat dan juga teman teman Ayub ditegur, sehingga hubungan Ayub dengan Allah dan juga semua keadaannya di pulihkan kembali.

Keadilan Allah bagi Ayub (42:1)

Keadaan Ayub di pulihkan

    Sering kali yang menjadi pertanyaan bagi orang-orang mengapa orang benar selalu nasibnya tidak mujur?. Kitab Ayub menujukkan dengan jelas tentang keadilan Allah dalam terang penderitaan manusia, bergumul dengan penderitaan dan bergumul dengan Allah.[21] Walaupun Ayub mengalami penderitaan dan bergumul dalam penderitaannya itu, namun Tuhan tidak meninggalkan orang yang hidup takut akan Dia. ketiga teman Ayub sependapat bahwa Allah adalah hakim yang adil, yang menilai setiap orang sesuai dengan tingkah-laku amal baktinya.[22]

Dilihat dari perjalanan kerohanian Ayub yang diwarnai dengan kehidupan penderitaan namun diakhiri dengan kebahagiaan. Walaupun Ayub mengalami penderitaan dan kehilangan miliknya, namun Allah memperlihatkan keadilan-Nya bagi Ayub dengan memulihkan keadaanya. Allah sangat menghargai kesetiaan Ayub.[23] Ketika Ayub menyadari dari maksud dari penderitaannya, Tuhan memulihkan Ayub dengan mendapatkan penghiburan dari sahabat-sahabatnya setelah dia mendoakan dan mengampuni mereka, Ayub 42:10-11 mengatakan bahwa “lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.” Dan kedua yaitu Tuhan memberikan kekayaan kepada Ayub dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya, Ayub 42:12 mengatakan Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Selain itu juga Ayub mendapatkan 10 orang anak, bahkan anak-anak perempuan Ayub memiliki kecantikan melebihi semua perempuan lainnya, (Ayb 42:13-15).

Keadilan Allah Menurut Para Ahli

    Menurut shedd mengatakan bahwa keadilan Allah adalah sebagai suatu cara pengungkapan dari kesuciannya; dan strong juga mengatakan bahwa kesucian sebagai transitif.[24] Sedangkan menurut John shea mengatakan bahwa keadilan adalah jantung Allah, inti dari keberadaa-Nya.[25] Menurut Paul Enns, keadilan Allah dibagi dalam beberapa kategori. Keadilan rektoral Allah, yaitu pengakuan Allah sebagai penguasa moral yang menerapkan hukum moral-Nya di dunia ini, berjanji akan memberikan upah bagi yang taat dan penghukuman bagi yang tidak taat. Keadilan distribusi adalah positif dan negatif. Segi positifnya adalah dalam arti keadilan retributif (suatu refleksi dari kasih Allah), yang memberikan upah kepada yang taat. Segi negatif adalah dalam arti keadilan retributif, sesuatu ekspresi dari murka ilahi di mana Allah menghukum orang jahat.[26] Dapat diambil kesimpulan bahwa keadilan Allah itu perlakuan Allah kepada ciptaannya yang melakukan kehendaknya dengan menerima yang baik dan yang berbuat tidak baik akan menerima murka Allah.

Relevansi Keadilan Allah Masa Kini

    Sebagai hubungannya tentang keadilan Allah pada orang Kristen pada masa kini, keadilan Allah memang sudah nyata. Dimana orang yang berbuat jahat akan menerima yang jahat dan yang baik akan menerima upah yang baik dari Allah. Namun ada juga yang terjadi pada saat ini sama seperti yang dialami Ayub. Dimana orang yang mengikut Tuhan sangat menderita dan mengalami penganiayaan dari orang-orang lain. Hidup orang yang benar saat ini sedang berada dalam dunia kecurangan. Dimana keadilan dapat dibeli oleh orang-orang yang menuntut keadilannya. Sehingga kadang-kadang orang-orang percaya pada saat ini meminta atau menuntut keadilannya kepada Allah dengan alasan bahwa mereka setia dalam pelayanan bahkan perilaku mereka yang baik, di saat kondisi mereka jatuh dalam pencobaan atau masalah. Salah satu contoh sederhana yang sudah terjadi, yakni masa pandemi covid-19 dimana orang Kristen bahkan semua orang mengalami penderitaan. Bisa saja orang Kristen beranggapan bahwa orang yang percaya Kristus akan terlindungin dari semuanya itu karena ada Allah yang melindungi. Untuk itu, apa pun perilakuan terhadap Allah, orang-orang tidak bisa menuntut Allah karena Tuhan mempunyai tujuan yang baik dalam hidup umat-Nya dan juga segala sesuatu yang terjadi pasti Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Dibalik pencobaan yang dihadapi orang Kristen akan menjadi kekuatan dan pertumbuhan iman kepada Tuhan.

Kesimpulan

    Keadilan Allah adalah perlakuan Allah terhadap ciptaan-Nya. Memahami keadilan yang diinginkan Allah bagi kehidupan setiap manusia yaitu menerima kebenaran dari pada Allah (Firman-Nya) dan mentaati firman-Nya. Maka sifat keadilan Allah berdasarkan kepada keputusa Allah sendiri, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia atau yang dilakukan manusia akan menjadi bahan pertimbangan. Selain adanya paraturan yang ditentukan oleh Allah, adanya juga yang menjadi hasil dititik akhir yang akan menentukan hukuman kepada manusia yang melanggar peraturan-Nya. Allah memberikan keadilan-Nya kepada setiap ciptaan-Nya berdasarkan pertimbangan akan ketaatan atau ketidaktaatan manusia dalam mematuhi aturan yang telah Allah tetapkan. Allah juga menginjikan segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia tetapi Allah tidak pernah meninggalkan atau mengabaikan orang yang setia di dalam Tuhan. Tuhan selalu menujukan keadilan-Nya bagi orang yang percaya maupun tidak percaya kepada-Nya.

Daftar Pustaka

Ateek, Naim Stifan. Semata-Mata Keadilan: Visi Perdamaian Seorang Kristen Palestina diterjemahkan oleh Wiliams Bill Mailoa. Jakarta: Gunung Mulia, 2009.

Bella Donna Nova, Pendidikan Agama Katolik . book on-line. diambil dari https://www.google.co.id/books/edition/Bella_Donna_Nova/psFvbZestlQC?hl=id&gbpv=0 diakses pada 28 April 2022.

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika, Vol 1: Doktrin Allah. Surabaya: Momentum, 2008.

Dani, Supriatno, Onesimus. Merentang Sejarah Memaknai Kemandirian. Jakarta: Gunung Mulia. 2009.

Dennis Green, Pengenalan Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004.

Enns,Paul. The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi. Malang: Literatur SAAT, 2006.

Erickson, Millard J. Teologi Kristen. Malang: Gandum Mas, 2004.

Kamus Besar Bahasa Indonesia jilid III “Keadilan” oleh Hasan Alwi.

Mutak, Alfius Areng. Pentingnya Formasi Spiritualitas Bagi Pendidikan Pembinaan Iman Warga Gereja. book On-line. diambil dari https://www.google.co.id/books/edition/pentingnya_formasi_spiritualitas_bagi_pe/0nrmeaaaqbaj?hl=id&gbpv=0 diakses pada tanggal 27 April 2022.

Prys Jerry MacGregor. Marie. 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Allah. Yogyakarta: ANDI, 2002.

Richard W. Conish, 5 Menit Teologi. Bandung: Pionir Jaya, 2007.

Santoso, Benny. Pertobatan Yang Membawa Kelimpahan. Yogyakarta: Andi, 2005.

Thiessen, Henry Clarence. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2000.

Wahono, Wismoady. Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab. Jakarta: Gunung Mulia, 2009.

Walton, Andrew E. Hiil dan John H. Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2001.









MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9



MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9

OLEH: Zuni Berkat Zai

Pendahuluan

    Murka merupakan respon sesuatu yang tidakadilan seringkali juga manusia mengalami tentang kemarahan, kejengkelan kesesalan, atau gangguan. Bukan hanya juga manusia yang mengekpresikan kemurkaan, tetapi juga Allah juga menjadi sifat-Nya. Namun ada perbedaan jauh antara murka Allah dengan murka Manusia. Murka Allah itu pasti kudus dan benar, sementara murka Manusia tidak pernah kudus dan jarang benar, maka hal tersebut manusia harus membedakan mana sebenarnya yang adil dan tidakadilan.

MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9

    Dalam Perjanjian Lama Murka Allah itu respon ketidaktaatan manusia, kemurkaan Allah kosisten ditujukan kepada kepada mereka yang tidak mengikuti kehendaknya (Ulangan 1:2-46; Yosua 7:1; Mazmur 2:1-6). Murka Allah terhadap dosa dan ketidaktaatan di benarkan sepenuhnya karena rencana-Nya atas umat manusia adalah kudus dan sempurna, sama seperti Allah sendiri adalah kudus dan sempurna. Sedangkan Kiasan antara Lazarus menceritakan tentang penghakiman Allah dan konsekuensi yang serius bagi pendosa yang tidak mau bertobat (Lukas 16:19-31). Begitu juga Yohanes 3:36 berkata, “barangsiapa percaya kepada anak, ia tidak akan melibat hidup, melaikan murka Allah tetap ada diatas-Nya.
    Setelah itu murka manusia di peringatkan dalam Roma 12:19, Efesus 4:26, dan Kolose 3:8-10. Allah sendiri dapat membalas karena pembalasan-Nya sepurna dalam kudus sementara murka manusia adalah penuh dosa, membuka dirinya kepada yang jahat. Bagi orang yang percaya kemarahan dan kemurkaan bertentangan dalam karakter yang seharusnya, yaitu menjadi serupa dengan karakter Kristus itu sendiri (2 Korintus 5:17). Untuk terbatas dari kemurkaan, orang-orang percaya membutuhkan pertolongan Roh kudus dalam menguduskan dan membersikan hati kita dari perasaan murka dan marah.

Definisi Murka Allah

    Di dalam Alkitab Murka Tuhan Allah sering di beritakan sebagai hukuman yang baru akan terjadi kelaka pada akhir zaman. Murka Allah bukan hanya dinyatakan kepada orang yang tidak mengenal Allah, bukan hanya kepada orang yang tidak bertuhan, melaikan juga kepada bangasa Israel, yang hidup dengan Tuhan, yang telah diberi hukum Taurat. Hal itu di sebabkan karena pikiran Israel juga telah di gelapkan oleh murka Allah, sehingga mereka tidak menganal Allah sehingga mareka tidak menganal kebenaran mereka sendiri (Rm. 10:3).[1] Jadi murka Allah yang dinyatakan kepada semua keturunan Adam dan yang juga menimpa Israel itu, bukan menjadi Israel melakukan hal-hal yang tidak pantas, melainkan menjadi israel ingin memperoleh keselamatan dengan amal-amalnya.

    Menurut Witness Lee, bahwa Yesus yang menyalamatkan manusia dari murka yang akan datang ( 1 Tes. 1:10), asalnya murka keadilan Allah, karena dosa manusia seperti bom waktu, menunggu untuk meledak di atas diri manusia. Sekarang Tuhan Yesus menurut tuntutan keadilan Allah, menerima hukuman murka Allah, lalu ia menebus dosa manusia, supaya manusia terhindar dari murka Allah pada masa yang akan datang.

    Alkitab berbicara tentang murka Allah dengan bahasa yang berintensitas tinggi ( Yes. 14:4, 6, 9; Yeh. 5:11-17). Ayat-ayat ini yang mendeskripsikan kemarahan Allah dapat di lipat gandakan hingga seratus kali. Bahkan di Wahyu, yang di tulis dalam genre apokaliptis, murka Allah di ekspresiakan dengan cara yang paling keras (wahyu 14).[2]

Perbedaan Murka Allah dengan Murka Manusia

Murka Allah

    Namun murka Allah jika di lihat dalam Alkitab bahwa di dalam kitab Roma 1:18. Paulus berbicara tentang Murka Allah yang telah dinyatakan (apokaluptetai) dengan cara yang persis sama seprti yang telah di katakan sebelumnya bahwa kebenaran Allah telah dinyatakan. Murka Allah bukan sesuatu luapan kemarahan yang sama seperti kemarahan manusia yaitu suatu luapan nafsu yang tak terkendali.[3] Oleh karena itu ada perbedaan dalam hubungan Allah yang dengan murka.

Paulus berbicara mengenai Murka Allah hanya tiga kali. Dalam Roma 1:18, Efesus 5:6 dan Kolose 3:6 dimana ia berbicara mengenai murka Allah dengan menimpa orang-orang durhaka. Tetapi seringkali paulus berbicara mengenai murka itu tanpa menyebutnya sebagai murka Allah, seolah-olah di tulis dengan huruf besar Murka itu sebagai suatu kekuatan yang sedang berlaku di bumi. Dalam Roma 3:5, terjemahan harfiahnya adalah “Allah menampakan murka”. Dalam Roma 5:9, ia berbicara mengenai di selamatkan dari murka itu. Dan dalam Roma 12:9, ia menasehatkan untuk tidak membalas dendam, tetapi menyerahkan orang yang berbuat jahat itu kepada murka itu. Dalam Rom 13:5, ia berbicara mengenai murka itu sebagai suatu dorongan, supaya orang tetap taat. Dalam Roma 4:15, ia mengatakan bahwa hukum Taurat membangkitkan murka itu. Dan 1Tes. 1:10, ia mengatakan Bahwa Yesus yang membebaskan manusia dari murka yang akan datang itu.[4] Sekarang, ada sesuatu di sisni yang cukup aneh. Paulus berbicara mengeani murka itu, dan sekaligus dari murka yang sama itulah Yesus yang menyalamatkan manusia. Kemurkaan Allah adalah tanggapan-Nya terhadap sesuatu yang pada dasarnya melawan kodratnya. Kemurkaan Allah tidak kejam melainkan adil.[5]

Murka Manusia

    Murka Allah jika diartikan lewat pemikiran manusia. maka, murka Allah bisa diartikan bahwa membawa dampak yang negatif bagi manusia atau seseorang yang bisa membuatnya sial ataupun bencana dan masalah yang diluar kendali manusia. Murka manu
sia sangat beda jauh dengan murka Allah karena amarah manusia lazimnya bersifat egois, sedangkan murka Allah tidak lepas dari kerinduannya akan kebahagiaan obyeknya, yakni manusia.[6]

    Menurut pemahaman “Fiman Menampakan Diri dalam Rupa Manusia” Tanpa murka Tuhan, manusia akan turun kedalam kondisi hidup yang tidak normal, dan semua hal yang adil, indah, dan baik akan di hancurkan dan tidak akan ada lagi. Tanpa murka Tuhan, hukum dan aturan keberadaan bagi makluk ciptaan manusia, Tuhan Telah terus menerus menggunkan watak benar-Nya untuk menjaga dan memelihara keberadaan normal untuk manusia.

    Dalam Alkitab berulangkali dijelaskan bahwa Allah “Murka” atas manusia yang menetang Tuhan (Keluaran 4:14; Ayb 42:7; Ul. 29:23; Rm. 1:18), tetapi murka Allah yang di maksudkan di sini, tidak sama dengan murka manusia. Murka Allah “tidak setujuan” Allah terhadap perbuatan manusia atas dasar pertimbangan yang benar-benar dituntut oleh keadilan dan kekudusannya. Kemurkaan Allah menuntut manusia kepada pertobatan yang sungguh-sungguh dan kesedian untuk tidak melakukan/berbuat dosa lagi ( Yoh. 4:1-42; 8:1-11). Allah mencari manusia dengan penuh kasih dalam kristus datang kedalam dunia untuk orang berdosa, orang-orang yang dalam masyarakat karena dosanya.[7]

    Murka diartiakan sebagai “Respon emosional atas sesuatu yang salah atau ketidakadilan”. Seringkali juga diibaratkan sebagai “kemarahan,” “kejengkelan,” “kekesalan,” atau “kegeraman.” Baik manusia ataupun Allah bisa mengekspresikan kemurkaan. Namun ada perbedaan jauh antara murka Allah dengan murka manusia. Murka Allah itu pasti kudus dan benar; sementara murka manusia tidak pernah kudus dan jarang benar.

Dampak Murka Allah dalam PL dan PB

Murka Allah dalam PL

    Dalam hukuman besar yang segera datang (Zef. 1:2-3:7) dan harapan akan keselamatan kelak (Zef 3:8-20). Selain seruang singkat untuk bertobat dalam 2:1-3, Zef 1:2-3:7 tetap menenkankan murka Allah. penghukuman Allah secar universal akan membawa dampak yang sedahsyat air bah pada masa Nuh (keajadian 6).[8] Zefaya melukiskan murka Allah yang menyala-nyala dengan cara yang hampir tidak ada bandingannya dalam Alkitab.

Segala sesuatu pasti ada dampaknya bagi diri sendiri begitu juga jika Allah murka kepada umatnnya. Dalam Perjanjian Lama murka Allah datang kepada Uza, Dalam PL kematian mendadak atau petaka yang mendadak dimengerti sebagai penyataan amarah/murka Allah dan dicarikan alasannya, seperti pada waktu Uza menyetuh Tabuh perjanjian dengan tangan yang najis (2Sam. 6: 7).[9]

Murka Allah dalam PB

    Dalam Perjanjian Baru juga berbicara tentang hari amarah, yaitu hari penghakiman mutlak (Matius. 25: 31-45).[10] Dampak dari keseluruhan murka Allah lebih penting dari perincian kejadiannya secara terpisah-pisah. Pada hal dalam Perjanjian Baru banyak di kemukakan tentang murka Allah terhadap dosa. Pada waktu paulus berkata dalam kolose 3:6 bawa murka Allah akan datang, tentu yang di maksudkan-Nya lebih dari pada bahwa hukum pembelasan akan datang.[11]

    Dalam kitab-kitab injil hanya terdapat satu pernyataan lansung mengenai murka Allah. dalam Yohanes 3:36 Yesus menegaskan bahwa murka Allah tetap di atas mereka yang tidak taat kepada anak, dalam hal ini murka Allah di hubungkan dengan kasih Allah kepada anak-anaknya. Dalam Wahyu 14:10 penghakiman di gambarkan sebagai anggur murka Allah yang di tanggukan kedalam “cawan murkaNya”, dengan gagasan ini di kembangkan lebih lanjut ketika melaikat penuai meleparkan anggur itu kedalam “kehilangan besar, yaitu murka Allah” (Wahyu 14:19).[12] Penglihatan ini menggambarkan murka Allah yang menakutkan yang tidak mungkin di tiadakan. Demikian juga dengan tujuh cawan yang di sebut sebagai murka sebagai anak Domba; jelas hal ini menghubungkan murka itu dengan salib dan menetapkan perwujudannya dalam sejarah.

Hubungan Kasih dengan Murka Allah

    Menurut Dodd, Walaupun ia berbicara menenai murka Allah, ia tidak pernah bicara mengenai Allah murka. Oleh karena itu ada perbedaan dalam hubungan Allah yang kasih dengan Murka.[13] Timbul peranyaan bahwa, bagimana hubungan “murka” ini dengan “kasih” Tuhan, jelaskan pengertian murka tidak mungkin lepas dari pengertian kasih, bahkan harus di tafsirkan di dalam terang kasih itu.[14]

    Perlu disadari bahwa dalam membicarakan “kasih”, “Murka” Tuhan, kita memang memakai bahasa kiasan. Bertolak dari pengalaman yang timbul dan pergulangan antar manusia, kita membahasakan pengalaman diri sendiri mengenai Tuhan.[15] di simpulkan bahwa murka dengan kasih adalah suatu interaksi yang tidak lepas antara menusia dengan satu yang lain.

    Kasih Ilahi pasti jauh melebihi kasih manusiawi, maka lebi dari murka Tuhan lain dengan amarah manusia lazimnya bersifat egois, sedangkan murka Allah yang tidak lepas dari karinduannya akan kebahagiaan obyeknya, yakni manusia.[16] Sebanarnya kasih dan kemarahan sama sekali tidak bertentangan karena kita jarang sekali marah atas sesuatu atau orang yang terhadapnya kita tidak menaruh perhatian yang dalam. Hal yang sama berlaku bagi pandangan profetis tentang murka Allah. ia marah kepada Israel karena ia memperhatikannya dan telah memilihnya.[17] Dalam 1 Yohanes merumuskan bagaiman rupa kasih itu atau apa yang dibuatnya.[18]

    Jika kita membaca di 1 Yohanes 1: 9 mengatakan bahwa: “jika kira mengaku dosa kita, maka ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita”. Tetapi jika kita melihat di terjemahan Alkitab sederhana mengatakan bahwa “tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, maka sesuai dengan janjinya, Allah yang sangat adil dan setia itu pasti mengampuni kita dan membersihkan hati kita dari setiap perbuatan jahat yang sudah kita lakukan.”[19]

    Murka Allah adalah suatu yang tindakan yang tidakadilan kepada umat manusia. Murka itu terbagi dua dalam Alkitab yaitu murka Allah dan murka manusia. Murka ini ciri emosianal dan kemarah dan sebaginya. sebagai orang percaya di dalam dunia kekristenan ini, konsep tentang murka Allah kadang menimbulkan reaksi yang kurang positif. Beberapa pihak menunjukkan keengganan ketika mencoba membahas doktrin tentang murka Allah karena doktrin ini dianggap bisa menyebabkan keresahan dan bersifat tidak toleran. Di zaman ini, kita lebih sering dan lebih terbiasa mendengar tentang Allah yang kasih, baik, dan peduli terhadap manusia.

    Dalam hal ini penting bagi kita untuk memahami murka Allah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sifat Allah yang kudus dan adil. kita sebagai orang percaya mengerti apa itu murka Allah? Murka Allah itu kemarahan Allah yang disadari pertimbangan yang benar-benar mantang yang memancar dari kekudusannya. Murka Allah bukanlah permusuhan yang timbul dari hati yang jahat, melaikan kemarahan yang benar dan tempatnya

Kesimpulan

    Murka Allah adalah ketidakadilan. Murka Allah juga di pahami sebagai suatu reaksi Allah pada suatu tindakan dosa atau tindakan kejahatan manusia. Allah tidak pernah berkopromi dengan dosa karena itu ia akan selalu menghukum setiap tindakan tercela khususnya penyembahan barhala yang masih di partekkan sekarang ini. karena itulah jemaat tidak boleh terpengaruh dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan penyembahan kepada berhala, serta harus lebih mendekatkan diri pada Allah serta membangun iman yang setia, agar mendapat kehidupan yang terpelihara di dalam kasih Allah.

    Belajar dari teks Yeremia bahwa Allah tidak pernah mentolerir dosa, dan menghacurkan perbuatan dosa di dalam diri setiap manusia, yakni mematikannya dengan kasih karunia-Nya dan meyembuhkan kita kembali dari hal-hal yang jahat, sebesar apapun itu.




DAFTAR PUSTAKA

Albata, Alkitab Perjanjian Baru dalam Terjemahan Sederhana Indonesia, (Jakarta: Yayasan Alkitab Bahasa Kita, 2015)

Berclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: surat Roma, ( Jakarta: Gunung Mulia 2007)

Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008)

Guthrie, Donald, Teologi Perjanjianbaru 1: Allah, Manusia, Kristus, (Jakarkata: Gunung Mulia 2008)

Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006)

Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta : Gunung Mulia, 2007)

Iswara Rintis Purwantara, Sepuluh Ajaran yang Keliru Tentang Kasih ( Yogyakarta : Andi 2018)

I.J. Cairns, Tafsiran Alkitab: Kitab Ulangan Pasal 1-11, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008)

Lasor, W,S. Perjanjian Lama 2 (Jakarta : Gunung Mulia 2003)

Novi Huang, Allah yang Berkarya, (Jakarta : Gunung Mulia 2009)

Tony Evas, Teologi Allah: Allah Kita Maha Agung, (Malang: Gandum Mas, 1999)

W. R. F. Browning, Kamus Alkitab(A Dictionary of The Bible): Panduan Dasar ke Dalam Kitab-kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007),