KEADILAN ALLAH (AYUB 42:1-30)
Oleh Gusmernia.
Pendahuluan
Keadilan sangat di butuhkan dalam hidup ini sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Orang –orang sekarang ketika mengalami persoalan mereka berharap dan menuntun keadilan itu ada dalam hidupnya. Salah satu kisah dalam alkitab yang mencari keadilan Tuhan dalam hidupnya ketika mengalami pencobaan yang terdapat dalam kitab Ayub. Cerita Ayub merupakan kisah yang mewakili manusia secara umum. Ayub adalah orang yang hidup saleh dan takut akan Tuhan serta dia juga termasuk orang yang terkaya pada zamannya. Tetapi Tuhan menginjikan Ayub di cobai oleh iblis untuk menguji Ayub bagaimana Ayub mengatasi persoalan yang dihadapinya. Tuhan menginjikan Ayub kehilangan semua yang dimiliki, harta kekayaanya dalam satu hari. Dalam penderitaan Ayub sebagai orang saleh, dalam ketidak mampuannya dalam menghadapi cobaan yang dialaminya ia mulai menuntun keadilannya sebagai orang yang saleh atau taat pada Tuhan. Sehingga dalam kisah Ayub ini menceritakan bahwa penderitaan yang dialami oleh seorang yang benar dan jujur.[1]KEADILAN ALLAH AYUB 42:1-30
Maksud dari Allah memberikan penderitaan, agar manusia sadar bahwa dia makhluk yang terbatas.[2] Seringkali umat manusia menuntun keadilan lewat apa yang telah mereka lakukan kepada Allah namun dibalik itu semua ada banyak yang membuat keadilan itu tidak nyata dalam diri manusia.Definisi Keadilan
Keadilan dalam kamus besar bahasa indonesia adalah sifat perbuatan, perlakuan yang adil.[3] Sedangkan kalau berbicara keadilan Allah dalam buku Erickson mengatakan bahwa Allah itu adil dalam pelaksanakan hukum-Nya.[4] Allah juga menuntut hukumnya di patuhi dan menjaganya dengan sama rata.[5] Sedangkan istiliah-istilah yang dipakai dalam perjanjian baru, keadilan pada umumnya sering di hubungkan dengan hukum Allah, kebaikan Allah dan penyelamatan Allah.[6] Dapat disimpulkan bahwa keadilan merupakan suatu sifat atau perbuatan yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan setiap hukum atau aturan dengan sama rata tanpa berat sebelah atau pilih kasih.Dalam bahasa inggris tidak lepas dari Istilah kebenaran dan Keadilan karena merupakan kata yang berbeda, tetapi dalam perjanjian Lama Ibrani dan Perjanjian Baru Yunani hanya ada satu kelompok kata dibelakang kedua istilah inggris ini. Dalam buku Thiessen menuliskan dua kata yang tidak bisa terpisah yakni kebenaran dan keadilan merupakan unsur kekudusan Allah yang nampak di dalam cara Allah menghadapi manusia ciptaan-Nya.[7] Keadilan atau kebenaran dapat diartikan suatu keadaan tak bernoda atau layak, tepat.[8] Sedangkan dalam buku Marie Prys mengaitkan antara keadilan dan hukum merupakan aspek-aspek kekudusan Allah yang dilihat dalam cara-Nya bertindak terhadap ciptaan-Nya.[9] Keadilan Allah terlihat jelas pada kenyataan bahwa Dia menghukum kejahatan dan menganugerahkan pahala bagi kebaikan.[10] Untuk itu keadilan Allah tidak bisa diukur dalam jangka pendek, karena setiap perbuatan akan menerimanya walaupun prosesnya lama namun Tuhan tetap menjalankan keadilan bagi manusia ciptaan-Nya.
Kisah Ayub (Ayub 1-42)
Ayub diperkenalkan sebagai orang yang saleh dan juga kaya sekali (1:1-5).[11] Dengan izin Tuhan, Ayub ditimpa pencobaan oleh iblis yaitu semua harta miliknya termasuk anak-anaknya dibinasakan pada hari yang sama (1:6-19). Allah menginjikan itu semua terjadi karena iblis menuduh Allah sebagai pribadi yang bodoh; sipenipu ulung itu mengklaim bahwa Ayub bersikap baik dan setia hanya karena hal itu membantunya untuk memperoleh berkat besar.[12] Iblis juga menyangka, Ayub memiliki hidup yang saleh karena Tuhan memberikan banyak kekayaan dan perlindungan kepada Ayub (Ayub 1:8-10).[13] Iblis mencoba menghancurkan Ayub dengan cara mengambil semua apa yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Ayub yaitu kambing, domba, unta, lembu, keledai betina, para budak dan anak-anak Ayub.[14] Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan kitab Ayub ini adalah menyelidiki keadilan perlakuan Allah terhadap orang benar.[15]Dalam penderitaan Ayub, ia tetap bertahan dan tidak tergoyangkan imannya kepada Allah (1;20-22). Tuhan juga melihat iman Ayub dan juga iblis ingin mencobai Ayub dan Tuhan juga menginjikan Ayub mengalami pencobaan itu lagi dari iblis yaitu penyakit yang sangat keras sehingga nyawanya terancam (2;1-8), istrinya sendiri mengejeknya bahkan menganggap Ayub gila. Namun dari semua yang dialaminya, ia tidak mengutuk tetapi ia berkata: dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (1:21-22).
Di pasal 3 Ayub memulai membuka mulutnya. Ia merasa terasing dari Allah, mengkritik Allah kerena berlaku tidak adil dengan mengutuki hari kelahirannya, namun ia tidak mengutuki Allah.[16] Selain itu juga dia dikejutkan dengan sahabat-sahabatnya yang menuduh dia berdosa sehingga pencobaan itu menimpa dia (2:9-13). Ketika teman-teman Ayub memberikan pendapat kepadanya, respon Ayub mengatakan bahwa dirinya tidak salah dan ia sebagai orang benar dan Allah sebagai penuntut yang memojokkan dirinya. Ayub telah dikuasai oleh sikap memprotes dan kepandaian bicara sehingga ia tidak peka lagi terhadap Allah, Ayub memprotes karena Allah diam saja, (35:12-13).[17] Namun dalam pembicaraan terakhir pada pasal (36:1-37:24), seorang sahabat Ayub berbicara yakni Elihu dengan menggarisbawahi keadilan Allah serta kemungkinan bahwa penderitaan digunakan-Nya untuk mendidik manusia, tetapi Ayub sebagai manusia yang kecil tidak dapat mengharapkan suatu jawaban pasti dari yang Mahakuasa.[18] Dalam buku Prys mengatakan bahwa hal yang paling menyakitkan bagi Ayub adalah Allah tampaknya telah meninggalkannya-suatu tanda bahwa bukanlah penderitaan atau kesengsaraan duniawi yang seharusnya ditakuti, melainkan penderitaan rohani karena terpisah dari Bapa surgawi.[19] Meskipun Ayub di sisi lain ia merasa lelah atau kecewa dalam penderitaan nya dan menganggap apa yang dialaminya bukan karena dosanya yang mengakibatkan penderitaan itu terjadi, Tetapi pada kesempatan berikutnya dia mengakui kemahakuasaan Allah dan ketidakmampuan manusia, sambil bertobat dengan sikap rendah hati yang sungguh-sungguh (42:1-6).[20] Di pasal 42 menceritakan Ayub bertobat dan juga teman teman Ayub ditegur, sehingga hubungan Ayub dengan Allah dan juga semua keadaannya di pulihkan kembali.
Keadilan Allah bagi Ayub (42:1)
Keadaan Ayub di pulihkan
Sering kali yang menjadi pertanyaan bagi orang-orang mengapa orang benar selalu nasibnya tidak mujur?. Kitab Ayub menujukkan dengan jelas tentang keadilan Allah dalam terang penderitaan manusia, bergumul dengan penderitaan dan bergumul dengan Allah.[21] Walaupun Ayub mengalami penderitaan dan bergumul dalam penderitaannya itu, namun Tuhan tidak meninggalkan orang yang hidup takut akan Dia. ketiga teman Ayub sependapat bahwa Allah adalah hakim yang adil, yang menilai setiap orang sesuai dengan tingkah-laku amal baktinya.[22]Dilihat dari perjalanan kerohanian Ayub yang diwarnai dengan kehidupan penderitaan namun diakhiri dengan kebahagiaan. Walaupun Ayub mengalami penderitaan dan kehilangan miliknya, namun Allah memperlihatkan keadilan-Nya bagi Ayub dengan memulihkan keadaanya. Allah sangat menghargai kesetiaan Ayub.[23] Ketika Ayub menyadari dari maksud dari penderitaannya, Tuhan memulihkan Ayub dengan mendapatkan penghiburan dari sahabat-sahabatnya setelah dia mendoakan dan mengampuni mereka, Ayub 42:10-11 mengatakan bahwa “lalu Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.” Dan kedua yaitu Tuhan memberikan kekayaan kepada Ayub dalam jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya, Ayub 42:12 mengatakan Tuhan memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Selain itu juga Ayub mendapatkan 10 orang anak, bahkan anak-anak perempuan Ayub memiliki kecantikan melebihi semua perempuan lainnya, (Ayb 42:13-15).
Keadilan Allah Menurut Para Ahli
Menurut shedd mengatakan bahwa keadilan Allah adalah sebagai suatu cara pengungkapan dari kesuciannya; dan strong juga mengatakan bahwa kesucian sebagai transitif.[24] Sedangkan menurut John shea mengatakan bahwa keadilan adalah jantung Allah, inti dari keberadaa-Nya.[25] Menurut Paul Enns, keadilan Allah dibagi dalam beberapa kategori. Keadilan rektoral Allah, yaitu pengakuan Allah sebagai penguasa moral yang menerapkan hukum moral-Nya di dunia ini, berjanji akan memberikan upah bagi yang taat dan penghukuman bagi yang tidak taat. Keadilan distribusi adalah positif dan negatif. Segi positifnya adalah dalam arti keadilan retributif (suatu refleksi dari kasih Allah), yang memberikan upah kepada yang taat. Segi negatif adalah dalam arti keadilan retributif, sesuatu ekspresi dari murka ilahi di mana Allah menghukum orang jahat.[26] Dapat diambil kesimpulan bahwa keadilan Allah itu perlakuan Allah kepada ciptaannya yang melakukan kehendaknya dengan menerima yang baik dan yang berbuat tidak baik akan menerima murka Allah.Relevansi Keadilan Allah Masa Kini
Sebagai hubungannya tentang keadilan Allah pada orang Kristen pada masa kini, keadilan Allah memang sudah nyata. Dimana orang yang berbuat jahat akan menerima yang jahat dan yang baik akan menerima upah yang baik dari Allah. Namun ada juga yang terjadi pada saat ini sama seperti yang dialami Ayub. Dimana orang yang mengikut Tuhan sangat menderita dan mengalami penganiayaan dari orang-orang lain. Hidup orang yang benar saat ini sedang berada dalam dunia kecurangan. Dimana keadilan dapat dibeli oleh orang-orang yang menuntut keadilannya. Sehingga kadang-kadang orang-orang percaya pada saat ini meminta atau menuntut keadilannya kepada Allah dengan alasan bahwa mereka setia dalam pelayanan bahkan perilaku mereka yang baik, di saat kondisi mereka jatuh dalam pencobaan atau masalah. Salah satu contoh sederhana yang sudah terjadi, yakni masa pandemi covid-19 dimana orang Kristen bahkan semua orang mengalami penderitaan. Bisa saja orang Kristen beranggapan bahwa orang yang percaya Kristus akan terlindungin dari semuanya itu karena ada Allah yang melindungi. Untuk itu, apa pun perilakuan terhadap Allah, orang-orang tidak bisa menuntut Allah karena Tuhan mempunyai tujuan yang baik dalam hidup umat-Nya dan juga segala sesuatu yang terjadi pasti Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Dibalik pencobaan yang dihadapi orang Kristen akan menjadi kekuatan dan pertumbuhan iman kepada Tuhan.Kesimpulan
Keadilan Allah adalah perlakuan Allah terhadap ciptaan-Nya. Memahami keadilan yang diinginkan Allah bagi kehidupan setiap manusia yaitu menerima kebenaran dari pada Allah (Firman-Nya) dan mentaati firman-Nya. Maka sifat keadilan Allah berdasarkan kepada keputusa Allah sendiri, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia atau yang dilakukan manusia akan menjadi bahan pertimbangan. Selain adanya paraturan yang ditentukan oleh Allah, adanya juga yang menjadi hasil dititik akhir yang akan menentukan hukuman kepada manusia yang melanggar peraturan-Nya. Allah memberikan keadilan-Nya kepada setiap ciptaan-Nya berdasarkan pertimbangan akan ketaatan atau ketidaktaatan manusia dalam mematuhi aturan yang telah Allah tetapkan. Allah juga menginjikan segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia tetapi Allah tidak pernah meninggalkan atau mengabaikan orang yang setia di dalam Tuhan. Tuhan selalu menujukan keadilan-Nya bagi orang yang percaya maupun tidak percaya kepada-Nya.Daftar Pustaka
Ateek, Naim Stifan. Semata-Mata Keadilan: Visi Perdamaian Seorang Kristen Palestina diterjemahkan oleh Wiliams Bill Mailoa. Jakarta: Gunung Mulia, 2009.Bella Donna Nova, Pendidikan Agama Katolik . book on-line. diambil dari https://www.google.co.id/books/edition/Bella_Donna_Nova/psFvbZestlQC?hl=id&gbpv=0 diakses pada 28 April 2022.
Berkhof, Louis. Teologi Sistematika, Vol 1: Doktrin Allah. Surabaya: Momentum, 2008.
Dani, Supriatno, Onesimus. Merentang Sejarah Memaknai Kemandirian. Jakarta: Gunung Mulia. 2009.
Dennis Green, Pengenalan Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004.
Enns,Paul. The Moody Handbook Of Theology: Buku Pegangan Teologi. Malang: Literatur SAAT, 2006.
Erickson, Millard J. Teologi Kristen. Malang: Gandum Mas, 2004.
Kamus Besar Bahasa Indonesia jilid III “Keadilan” oleh Hasan Alwi.
Mutak, Alfius Areng. Pentingnya Formasi Spiritualitas Bagi Pendidikan Pembinaan Iman Warga Gereja. book On-line. diambil dari https://www.google.co.id/books/edition/pentingnya_formasi_spiritualitas_bagi_pe/0nrmeaaaqbaj?hl=id&gbpv=0 diakses pada tanggal 27 April 2022.
Prys Jerry MacGregor. Marie. 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Allah. Yogyakarta: ANDI, 2002.
Richard W. Conish, 5 Menit Teologi. Bandung: Pionir Jaya, 2007.
Santoso, Benny. Pertobatan Yang Membawa Kelimpahan. Yogyakarta: Andi, 2005.
Thiessen, Henry Clarence. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2000.
Wahono, Wismoady. Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab. Jakarta: Gunung Mulia, 2009.
Walton, Andrew E. Hiil dan John H. Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2001.
No comments:
Post a Comment
Jika anda Ingin Membantu pelayanan ini, silahkan kirimkan bantuan anda dengan menghubungi email charinmarbun@gmail.com. Jika anda diberkati silahkan Tuliskan dalam komentar. Jika ada pertanyaan dan permohonan Topik untuk dibahas, silahkan tuliskan dikolom komentar. Terimakasih sudah membaca, Tuhan Yesus memberkati selalu.