Showing posts with label Domu Marbun. Show all posts
Showing posts with label Domu Marbun. Show all posts

IMAN LINTAS GENERASI

 IMAN LINTAS GENERASI

(ULANGAN 6:4-9)



 

 

BACALAH BERSAMA ULANGAN 6:4-9

 

Pendahuluan:

Apakah yang paling membahagiakan pada masa Tua Kita??

Rumah Besar? Menjadi Kaya? Mobil banyak? Sehat masa tua? Punya anak banyak??

Apa yang paling membahagiakan bapak ibu saudara setelah Tua Nanti??

Menurut saya hal paling membahagiakan pada masa Tua nanti adalah Ketika anak-anak kita, dan cucu-cucu kita berjalan Bersama kita ke gereja dan beribadah Bersama, berdoa Bersama dan memuji Tuhan Bersama sama kita. Betul??

Untuk apa mobil banyak, untuk apa rumah besar, untuk apa kaya? Kalo di masa Tua akhirnya anak-anak kita, dan cucu-cucu kita tidak lagi bisa Bersama kita.

 

Bapa, ibu saudara,  semua. Thema khotbah hari ini adalah Iman Lintas Generasi  yang artinya dari generasi kepada generasi.  Thema ini diambil dari teks firman yang tertulis dalam Ulangan 6: 4-9.  

 

Nah  Bapa, ibu saudara,  semua apa yang dapat kita belajar dari firman Tuhan ini. Ada 2 poin utama yang kita belajar sehingga apa yang menjadi tema khotbah ini bisa terjadi yaitu Iman lintas Generasi Yaitu:

 

1.     Mengasihi Tuhan

 

Firman ini disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel supaya mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan mereka. Di dalam ayat yang keempat adalah pengakuan iman daripada bangsa Israel. Oleh karena itulah Musa menyerukan di dalam Ayat 4: Dengarlah Hai Orang Israel: TUHAN ITU ALLAH KITA, TUHAN ITU ESA. Inilah Iman orang bangsa Israel, mengakui TUhan sebagai Allah mereka, sebagai Raja mereka. Sehingga dengan pengakuan itu, maka berikutnya mereka diperintahkan  harus mengasihi Tuhan dengan keseluruhan hidup mereka.

Demikian juga bagi kita semua Bapa, ibu saudara,  , kita harus menjadi generasi yang mengasihi Tuhan. Mari memastikan diri kita menajdi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Orang orang yang dekat dengan Tuhan. Orang orang yang rindu selalu akan terhubung dengan Tuhan.

 

2.     Mengasihi Sesama

 

 Dalam ulangan 6:6-9 musa Selanjutnya berkata Iman ini tidak boleh berhenti hanya kepada generasi musa tersebut, tetapi harus diteruskan ke generasi berikutnya yaitu anak cucu mereka dengan mengajarkannya Iman/kepercayaan itu kepada anak cucu mereka secara berulang-ulang, Ketika duduk, Ketika dalam perjalanan, Ketika berbaring atau bangun. Artinya Iman itu harus diteruskan dengan mengajarkannya di dalam segala situasi. 

 

             Mengasihi sesama.  Orang yang mengasihi sesamanya akan menjadi teladan bagi sesamanya, teladan bagi teman-temannya. Orang yang mengasihi sesamanya Akan mengajar orang-orang di sekitarnya untuk mengasihi Tuhan. Dengan demikian generasi di sekitar kita akan menjadi generasi yang mengasihi Tuhan.l/

 

Mari Bapa, ibu saudara,  semua, kita menjadi generasi yang mengasihi Tuhan dan menjadi generasi yang mengasihi Sesama. Maka iman itu, akan terus bersinar dari generasi-kepada generasi, iman itu akan terus bersinar hingga lintas generasi, kepada anak kita, kepada cucu kita, kepada cicit kita.

 

Kesimpulan:

 Bapak Ibu saudara Mari menjadi orang-orang yang mengasihi Tuhan dan mengasihi Sesama kita. Orang yang mengasihi Tuhan akan bersinar kasihnya kepada sesama. Sesame bisa berarti anak cucu kita, sesame bisa berarti keluarga kita, sesama bisa berarti tetangga kita, sesama bisa berarti sahabat-sahabat kita, teman-teman kita dan semua orang yang terhubung dengan Kita.

Sebagai penutup, mari kita membaca apa yang di saksikan oleh Raja Daud dalam pengatamannya, dalam Mazmur 37:25, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benat ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

 

Sharing:

1.     Apakah anda adalah orang yang mengasihi Tuhan? Jika ya, jelaskan! Jika tidak, jelaskan mengapa?

2.     Bagaimana anda memancarkan kasih Tuhan kepada sesama?

3.     Apakah anda bisa menjadi teladan dalam mengasihi Tuhan bagi orang-orang di sekitar anda? Dengan cara apa, Jelaskan!

 

Penutup:

-       Nyanyi lagu , Ku mau SpertiMu Yesus.

-       Semua Jemaat saling mendoakan satu dengan yang lain.

PENTINGNYA MENGAMPUNI

PENTINGNYA MENGAMPUNI


    Refleksi hari ini adalah bagaimana pengampunan itu menjadi sangat penting di dalam kehidupan orang percaya.  Pertama, Pengampunan berhubungan erat kaitannya antara kita dengan Tuhan.  Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, ia sudah bertobat dan menerima pengampunan, namun naturnya sebagai manusia masih tetap.  Oleh karena itu, secara realita pengampunan masih tetap diperlukan, karena manusia masih terus saling mengampuni, karena masih selalu saling menyakiti dan melakukan kesalahan.  Pengampunan berhubungan dengan natur manusia sebagai makhluk yang berelasi yang menjadi kebutuhan dari manusia itu.  Jika dengan Allah saja kita bisa terputus hubungannya dan melanggar kehendaknya, terlebih jika dengan sesama.  Dalam hubungan sesama manusia tidak bisa dielakkan bahwa setiap orang membawa pandangan negative dari dirinya sendiri, sehingga ketika seseorang menyampaikan/melakukan sesuatu sekalipun hal itu positif maka kita terkadang menangkapnya negative. Oleh karena itulah, pertentangan, perbedaan dan ketidaksepahaman ada sesuatu tindakan yang tidak dapat dielakkan.  Oleh karena itu sering hal ini menjadikan kita sakit hati, kepahitan dan tidak mengampuni.  Hal inilah yang secara pribadi juga terkadang saya lupa, bahwa dalam setiap hubungan kita pasti selalu terjadi perbedaan dan konflik.  Namun kesadaran akan hal ini terkadang lupa sehingga membuat saya secara pribadi mempertahankan ego dan pendapat sendiri.  Padahal terkadang sering saya menyadari di dalam setiap konflik yang ada, jika bukan saya yang merasa kecewa, maka orang yang berlawanan dengan saya tersebut yang kecewa.  Maka dari itu, seharusnya hal ini membawa kita kepada kesadaran, bahwa perbedaan pemahaman dan konflik bisa saja terjadi setiap hari.  Saya juga menyadari bahwa orang-orang di sekitar saya bisa saja melaklukan hal yang mengecewakan saya, bisa saja membuat saya sakit hati, namun saat ini pilihan di tangan saya apakah saya akan memilih mengampuni mereka yang menyakiti, mereka yang mengecewakan atau justru memilih sakit hati dan mempertahankan sakit hati itu sehingga hal itu memang menjadi bagian dari diri saya.  Tentulah melalui ini, maka saya akan memilih untuk terus mengampuni, mengampuni dan mengampuni oleh karena melaluinya saya dapat disembuhkan dan dipulihkan.  Hal ini juga mengahruskan saya untuk mengampuni, disamping itu perintah Tuhan, sebab tidak mengampuni juga merupakan sebuah penyakit karena berdasarkan penelitian 61 % orang yang mengidap kanker mengalami masalah kemarahan dan kebencian.  Hal ini memberikan kepada saya secara pribadi kesadaran bahwa menyimpan kemarahann dan kebencian mendatangkan penyakit.  Terkadang sering saya juga menyimpan kemarahan karena tidak berani menyampaikan kepada orang tersebut bahwa saya tersakiti melalui perkataan, sikap seseorang tersebut, sehingga lebih sering menyimpannya dan meluapkannya ketika berdoa dan membaca mazmur seperti Daud.  Dengan kesadaran bahwa Menyimpan sesuatu dan tidak bisa mengampuni, maka Marah dan benci akan mendatangkan ketidakdamaian di hati, dan hal itu mendatangkan penyakit, maka saat ini saya secara pribadi akan lebih terbuka, dan lebih memilih untuk mengampuni dari pada menyimpan amarah dan kebencian.  Kesadaran bahwa setiap orang pasti melakukan kesalahan terhadap kita, dan kita juga melakukan kesalahn terhadap orang lain maka kita harus mengampuni.

 

Arti Dari Perumpamaan Domba yang Hilang, Dirham Yang Hilang serta Anak Yang Hilang dalam Lukas 15


Arti Dari Perumpamaan Domba yang Hilang, Dirham Yang Hilang serta Anak Yang Hilang dalam Lukas 15

Perumpamaan Domba yang Hilang

    Bapak ibu saudara yang terkasih oleh Tuhan saat ini kita akan merenungkan bagian firman Tuhan yang tertulis di dalam Lukas pasal yang ke-15 ayat yang pertama sampai ayatnya yang ke-32 nah bapak ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan di sini Lukas pasal 15 ini adalah jawaban Yesus terhadap pertanyaan-pertanyaan daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dimana orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu mereka bersungut-sungut karena Yesus itu selalu mendengarkan orang-orang berdosa dan pemungut cukai yang datang kepadanya sehingga orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bersungut-sungut dan berkata Kenapa Yesus itu menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka hal ini tertulis dengan jelas di dalam ayat 1 dan ayat 2 sebagai pengantar daripada Lukas pasal yang ke-15 ini nah bapak ibu saudara yang terkasih oleh karena itulah Yesus menyampaikan tiga perempat samaan yang ada di dalam Lukas pasal yang ke-15 ini perumpamaan yang pertama Yesus sampaikan itu mengenai perumpamaan tentang domba yang hilang di sini Yesus mengatakan bahwa ada 100 ekor domba dan seorang gembala itu kehilangan seekor dari dombanya maka gembala itu akan mencari yang 1 ekor yang hilang dan meninggalkan yang 99 ekor itu kemudian kalau si gembala tadi sudah menemukan yang 1 ekor maka dia akan sangat bersukacita karena dombanya yang hilang itu telah ditemukan jadi dari sini kita bisa melihat yang menjadi lu dari ayat 1 sampai ayat 7 adalah di ayat 7 aku berkata kepadamu demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat lebih daripada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan apa Ibu sudah dari sini Kita bisa belajar bahwa Allah adalah Tuhan yang mencari yang terhilang dan tersesat jadi Allah kita adalah Allah yang mencari yang terhilang dan tersesat Allah kita adalah gembala yang baik mencari dombanya yang hilang.

Arti Dari Perumpamaan Domba yang Hilang, Dirham Yang Hilang serta Anak Yang Hilang dalam Lukas 15

Perumpamaan Dirham Yang Hilang

    Perumpamaan yang kedua yang disampaikan oleh Yesus adalah di ayat yang ke-8 sampai ayatnya yang ke-10 di sini Yesus berkata mengenai perumpamaan tentang dirham yang hilang Yesus mengatakan bahwa perempuan manakah yang mempunyai 10 dirham dan jika ia kehilangan satu diantaranya tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya dan kalau perempuan itu sudah menemukannya maka ia akan memanggil sahabat-sahabatnya tetangga-tetangganya dan berkata bersukacitalah bersama-sama dengan aku sebab dirham ku yang hilang itu telah ku tak temukan di aku berkata kepadamu demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa bertobat pernyataan Yesus ini
    Pernyataan Yesus di dalam ayat yang ke-10 sama dengan pernyataan Yesus di dalam ayat yang ke-7 titik di sini kita bisa melihat bahwa apa yang Yesus ajarkan adalah pertobatan 1 orang itu sangat menggembirakan bagi kerajaan surga Oleh karena itu dari sini kita bisa melihat bahwa Allah kita adalah Allah yang mencari yang terhilang Allah yang mencari yang tersesat Allah yang peduli dengan orang-orang yang terhilang seharusnyalah kita juga sebagai orang percaya murid Kristus adalah orang-orang yang mencari yang terhilang dan seharusnya kita itu bersukacita karena menemukan yang terhilang seharusnya kita bersukacita ketika melihat orang bertobat. tetapi menjadi masalah adalah bahwa orang-orang Farisi itu bersungut-sungut dan tidak suka kalau Yesus dekat dengan orang-orang berdosa padahal seharusnya mereka harus ikut bersuka cita dan juga ikut mencari yang terhilang.

Perumpamaan Anak Yang Hilang

    Bapak ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan perumpamaan yang ketiga yang disampaikan oleh Yesus untuk menjawab pertanyaan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu adalah perumpamaan tentang anak yang hilang sesuai dengan judul yang diberikan oleh l a i l a. bapak ibu saudara yang dikasih oleh Tuhan bagi saya judul ini Seharusnya adalah perumpamaan tentang anak yang kembali bukan anak yang hilang karena disini anak bungsu itu kembali kepada bapak titik bapak ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan di dalam ayat 11-32 ini Yesus menyampaikan perumpamaan tentang dua orang anak yang pertama adalah anak yang bungsu yang bungsu itu meminta harta kepada bapaknya sebagai warisan nya padahal Bapaknya belum meninggal. kemudian bapaknya itu membagikan harta itu kepada si anak bungsu dan si anak yang bungsu itu akhirnya menjual seluruh harta yang telah diterima dari bapaknya dan kemudian dia memboroskan nya kemudian dia hidup berfoya-foya sampai semua hartanya itu habis. kemudian datanglah bencana di negeri tempat si bungsu itu sehingga ia Melarat dan akhirnya ia mencari pekerjaan lalu ia mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi tetapi tidak seorangpun yang mau memberikan kepadanya. kemudian si bungsu ini menyadari Bagaimana keadaannya yang begitu menyedihkan sehingga ia teringat akan Bapaknya yang baik sehingga ia berkata bahwa aku akan bangkit dan pergi kepada Bapa ku dan berkata kepadanya Bapak aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapak.
    Bapak ibu saudara di sini Kita bisa belajar bagaimana si bungsu itu akhirnya sadar Bapak Ibu dan kesadarannya bahwa dia telah bersalah telah berdosa terhadap bapaknya dan terhadap surga kesadaran inilah yang akhirnya membuat si bungsu kembali kepada bapak bapak ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan Seharusnya juga Ketika kita melihat semua keadaan kita maka kita harusnya selalu memiliki kesadaran untuk tuk selalu kembali kepada Bapa kembali kepada Tuhan. di dalam ayat 20 sebungsu bukan hanya sadar secara pikiran Tetapi dia juga bergerak dan pergi kembali kepada bapaknya dia tinggalkan semua kehidupannya yang lama dan kembali kepada bapak titik inilah pertobatan yang sesungguhnya dia kembali kepada bapak dan bapak dari jauh yang penuh kasih itu melihat si bungsu tergerak selalu dengan belas kasihan ayahnya juga berlari mendapatkan si bungsu merangkul si bungsu dan mencium dia kemudian si bungsu berkata kepada bapak bapak aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa titik kesadaran inilah dan pengakuan inilah yang sangat penting dimiliki oleh seorang yang bertobat. tanpa adanya kesadaran dan tanpa ada pengakuan akan dosa dan perbuatan yang sudah kita lakukan maka tidak mungkin kita bisa disebut bertobat. pertobatan selalu dimulai dengan kesadaran akan dosa-dosa dan kesalahan kesalahan kita dan diikuti dengan pengakuan dari dosa-dosa dan kesalahan kita dan permohonan ampun dari Bapa Surgawi.
    Bapak ibu saudara yang dikasihi Tuhan oleh karena itulah di dalam ayat 24 Bapak ini berkata anakku yang telah mati dan menjadi hidup kembali yang telah hilang dan didapat kembali maka mereka bersukacita. tetapi ketika mereka bersukacita maka datanglah si anak yang kedua yaitu anak yang sulung yang selama ini tinggal bersama-sama dengan bapak dan dia anak sulung marah-marah kepada bapak titik si anak sulung marah-marah kepada bapak karena Bapak menerima kembali si bungsu yang begitu jahat awalnya dan kembali bertobat dan ditemukan. kemudian si bapak ini menjumpai si anak sulung dan berkata bahwa anakku engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu dan di ayat 32 Kita patut bersyukur cita dan bergembira karena Adikmu yang telah mati dan menjadi hidup kembali dan yang telah hilang dan didapat kembali titik yang dikasih tuhan kita bisa melihat bahwa bahwa melalui perumpamaan anak bungsu yang kembali ini kita melihat ada kasih Allah yang begitu besar terhadap orang-orang yang terhilang dan tersesat. namun banyak sekali orang-orang Kristen sama seperti orang-orang Farisi yang digambarkan di dalam bagian ini seperti anak sulung titik anak sulung yang benci ketika orang-orang berdosa itu kembali anak sulung yang benci ketika orang-orang yang terhilang itu ditemukan kembali.

Kesimpulan

    Bapak ibu saudara yang dikasihi oleh Tuhan dari Lukas pasal 15 ini Kita bisa belajar bahwa ada perumpamaan tentang domba yang hilang ada perumpamaan tentang dirham yang hilang dan perumpamaan tentang anak yang hilang itu semua berbicara mengenai Allah yang mencari yang terhilang. seharusnya tugas kita juga sebagai orang percaya maka kita juga adalah harus mencari yang terhilang. bukan malah bersungut-sungut dan tidak bersukacita ketika orang-orang yang berdosa dan terhilang Itu kembali kepada Tuhan titik seharusnya kita justru bersyukur cita dan bergembira ketika orang-orang berdosa dan orang-orang terhilang itu bisa kembali kepada Tuhan. oleh karena itu saudara-saudara semuanya marilah kita mulai dari saat ini bekerja bersama-sama dengan Allah untuk mencari dan menemukan temukan serta membawa kembali orang-orang yang terhilang kepada Tuhan.



IMAN DI TENGAH KELUARGA (KELUARAN 2:1-10; IBRANI 11:23)



Iman Di Tengah Keluarga (Keluaran 2:1-10; Ibrani 11:23)

Pendahuluan:

    Keluarga adalah lembaga/komunitas yang pertama Allah ciptakan di dunia. Allah menciptakan keluarga pertama sekali di dalam awal penciptaan melalui dan di dalam Adam dan Hawa. Keluarga menjadi gambaran keberadaan Allah di bumi. Keluarga adalah komunitas kasih yang mencerminkan kasih Allah di bumi. Oleh itu semua anggota dalam keluarga harus hidup saling mengasihi satu dengan yang lain. Namun, ketika Pemimpin keluarga itu jatuh dalam dosa, mereka tidak taat kepada Tuhan yang mengakibatkan kehancuran keluarga sekaligus membawa kehancuran rencana Allah dalam Keluarga.

Iman Di Tengah Keluarga (Keluaran 2:1-10; Ibrani 11:23)

           Alkitab menceritakan kepada kita dengan jelas bagaimana rencana Tuhan itu diawali dan dinyatakan melalui dan di dalam keluarga. Kita bisa melihat dengan sekilas beberapa keluarga, yaitu:

1. Keluarga Nuh

2. Keluarga Abraham

3. Keluarga Yakub

4. Keluarga Daud

5. Keluarga Yusuf dan Maria
    Dalam bagian ini kita akan belajar mengenai Iman dalam Keluarga melalui keluarga Musa, secara khusus dalam bagian kelahiran Musa.

Pembacaaan Teks:
Keluaran 2:1-10

2:1 Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2:2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 2:3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 2:4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.2:5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 2:6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." 2:7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" 2:8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 2:9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 2:10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Ibrani 11:23

    11:23 Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.

   

Berbicara mengenai Iman, penulis Ibrani memberi definisi bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Lebih tegas lagi penulis Ibrani mengatakan bahwa tanpa iman tidak seorangpun dapat berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6). Melalui hal itu kita bisa melihat bahwa iman berbicara mengenai dasar dan bukti yang membawa seseorang percaya untuk memiliki hubungan dengan Tuhan.

Dalam bahasa Ibrani, kata “percaya” atau “iman” adalah aman (אָמַן). Kata “iman” dalam bahasa Yunani terjemahan dari pistis (πίστις), yang artinya kepercayaan atau penyerahan diri kepada seseorang. Kata kerja dari pistis adalah pisteuo (πιστεύω), yang mempunyai pengertian “percaya kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri kepada suatu obyek,” dalam hal ini tentu Tuhan. Dalam Hal ini, Alkitab memberikan arti dan kata yang sama kepada Percaya dan Iman, Yakni mempercayakan diri atau menyerahkan diri kepada Tuhan.

    Dalam Kisah Keluaran pasal yang kedua secara khusus mengenai kisah kelahiran Musa, menunjukkan kepada kita bagaimana iman dalam keluarga itu bekerja. Orangtua Musa adalah orang Lewi, ayahnya adalah Amran dan Ibunya adalah Yokhebed. Amran dan Yokhebed menikah dan mereka berdua akhirnya memiliki anak yaitu Harun dan Miryam. Mereka tinggal di tanah Gosyen di Mesir. Orang-orang Israel sebelumnya mengalami kemakmuran di Mesir dikarenakan Yusuf yang pada waktu sebelumnya menjadi orang nomor 2 di Mesir. Oleh karena itulah pertumbuhan dan perkembangan orang-orang Israel di Mesir sangat pesat dan cepat. Namun setelah Yusuf tiada, dan tua-tua Israel yang seusia Yusuf pun telah tiada. Begitu juga dengan raja Mesir serta orang-orang yang mengenal Yusuf pun telah tiada, sehingga lahirlah raja Mesir dan pembesar2 nya yang tidak mengenal Yusuf. Hal ini membuat orang-orang Israel diperbudak di Mesir.

Melihat pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dari bangsa Israel, maka raja Firaun mulai merasakan ketakutan dan kekuatiran bahwa Israel akan lebih banyak dari orang Mesir. Selain itu keadaan situasi politik saat itu juga ada dalam peperangan yang membuat raja Firaun kuatir kalo budak-budak Israel dapat bekerjasama dengan pihak musuh sehingga mengalahkan Mesir. Oleh karena itulah Raja Firaun mengeluarkan peraturan bahwa mereka harus ditindas semakin berat. Namun rencana ini tidak berhasil membuat orang-orang Israel berkurang. Kemudian raja juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong persalinan orang-orang Israel untuk semua anak-anak laki-laki Israel yang lahir pada masa itu harus dibunuh. Hal ini dilakukan untuk mengurangi laju pertumbuhan orang-orang Israel. Namun rencana inipun tidak berjalan dengan baik, karena bidan-bidan itu tidak melakukan perintah raja dikarenakan mereka takut akan Tuhan. Melalui hal ini kita bisa melihat ketakutan raja akan kehilangan jabatannya membuat dia berpikir tidak jernih dan bahkan menjadi jahat. Oleh itu janganlah kita membuat keputusan ataupun sebuat tindakan yang didasarkan atas ketakutan/kekuatiran kita akan kehilangan jabatan, posisi ataupun kehilangan penghargaan.

Dalam situasi yang mencekam seperti itulah waktu Musa dilahirkan. Oleh itu ketika Musa lahir, orangtuanya menyembunyikannya selama 3 bulan, sekalipun ini melanggar perintah raja, tetapi mereka tidak takut. Namun mereka tidak dapat lagi menyembunyikan bayi Musa ini untuk waktu yang lebih lama. Hal ini bisa dikarenakan oleh perintah raja kepada tentara-tentaranya untuk mencari bayi-bayi laki-laki dari orang Israel ke rumah-rumah mereka. Hal ini membuat orangtua Musa harus “membuang” bayi Musa ke sungai Nil. Ini adalah tindakan yang sebenarnya di tidak masuk akal atau di luar batas kewajaran. Namun kita bisa melihat akhirnya bayi Musa bisa selamat dan dirawat oleh putri Firaun dan bahkan di Istana Firaun Musa mendapatkan segala sesuatu yang terbaik. Tentu semua ini tidak terjadi tanpa Campur tangan Tuhan, Oleh karena iman orangtua Musalah kepada Tuhan sehingga Tuhan campur tangan dan berkarya jauh lebih lagi dalam hidup Musa      

Iman Memberi Kita Harapan

    Ketika kita beriman kepada Tuhan,maka di saat yang sama kita akan mendapatkan harapan. Harapan itu akan memberi kita kekuatan, energy dan semangat untuk menjalani kehidupan yang sulit sekalipun. Harapan seperti angin segar bagi paru-paru kita, yang masuk dan menyegarkan serta menguatkan kita. Harapan energy bagi kita untuk tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan ini. Tanpa ada Harapan maka kita tidak lagi bergairah dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itulah kita melihat banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan caranya sendiri, karena mereka khilangan harapan.

Pengharapan juga memberikan kita kuasa untuk melihat masa depan. Oleh karena harapan yang adalah maka kita bersemangat bekerja, belajar dan melakukan segala sesuatu, karena kita melihat ada harapan di masa depan. Harapan membuat kita kuat untuk mencapai impian-impian kita. Oleh karena itulah penulis Ibrani mengingatkan kepada kita juga bahwa “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir” (Ibrani 6: 19). Dengan pengharpan yang kita miliki,maka kita dapat terus maju menggapai impian-impian kita.

Dalam kisah kelahiran Musa kita melihat iman orangtua Musa memberi harapan bagi mereka. Sekalipun situasi dan kondisi begitu menekan mereka tetapi mereka tidak berputus asa. Mungkin sebagian besar orangtua pada saat itu tidak melakukan seperti yang mereka lakukan, melainkan pasrah saja anak-anak laki-lakinya dibunuh. Namun tidak demikian dengan orang tua Musa. Iman yang memberi harapan itulah membuat mereka berani menyembunyikan bayi Musa selama 3 bulan sekalipun itu bertentangan dengan perintah raja dan bahkan bisa membahayakan nyawa mereka sekeluarga. Karena jika itu diketahui oleh raja, bukan saja bayi itu dibunuh tapi bisa seisi rumah dibunuh. Oleh karena harapan yang mereka milikilah maka mereka memiliki ide dan membuat peti dari pandan, dan memakalnya dengan gala-gala dan ter. Kemudian menaruh bayi Musa di dalamnya dan membuang bayi itu di sungai Nil.

Harapan itulah yang membuat orangtua Musa menjadi “tega” membuang bayi Musa ke Sungai Nil sekalipun tidak ada dasar apakah bayi itu akan selamat. Bayi Musa bisa saja tenggelam dan akhirnya mati. Bayi Musa bisa saja di dapati oleh orang-orang Firaun, tentara-tentara firaun dan bahkan orang-orang jahat lainnya yang bisa membunuh dengan cepat bayi itu. Bahkan sekalipun Putri Firaun yang menemukan bayi Musa, tetap tidak ada dasar untuk Musa bisa diselamatkan. Karena belum tentu putri Firaun punya belas kasihan. Tidak ada jaminannya. Putri Firaun bisa saja membiarkan bayi itu di sungai dan bahkan menyuruh suruhannya untuk membunuhnya karena dia tahu bayi itu adalah bayi orang Ibrani. Putri Firaun juga bisa memberikan bayi itu kepada raja sehingga raja bisa melakukan sesuai perintahnya. Namun tidak demikian yang terjadi, iman yang membuka harapan bagi orangtua Musa bahwa selalu ada jalan atas setiap masalah. Selalu ada pintu yang terbuka, selalu ada kesempatan dan selalu ada perlindungan bagi mereka yang percaya dan berharap kepada Tuhan.

Iman mendorong Kita untuk Bertindak

    Ketika orangtua Musa memiliki Iman kepada Tuhan,itu mendorong mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka menyembunyikan bayi Musa selama 3 Bulan. Setelah itu mereka membuat sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. Orangtua Musa dan Kakak2nya bertindak untuk menyelamatkan Musa. Di dalam Bagian ini kita bisa belajar mengenai iman yang bertindak yang dilakukan oleh keluarga Musa.

 IMan itu membuat kita AKtif

    Mempercayai Allah bukan berarti membuat kita pasif sehingga tidak berbuat apa apa. Tetapi mennjadi orang percaya ataupun beriman itu membuat kita menjadi orang yang aktif. Oleh karena iman itulah orangtua Musa menyembunyikan Musa selama 3 bulan. 3 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk menyembunyikan seorang bayi. 3 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merawat seorang bayi. Hal ini tentu memliki tantangan tersendiri terlebih mereka harus menyembunyikan itu dari pegawai-pegawai dan tentara-tentara Firaun. Iman Membuat kita untuk aktif dalam bertindak. Hal ini juga yang ditegaskan oleh Yakobus dalam suratnya, Yakobus 2:17 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”

Iman membuat kita aktif untuk bertindak melakukan apa yang menjadi bagian kita. Orang beriman bukanlah orang yang malas, tetapi sebaliknya ketika kita bertumbuh dalam iman, itu membuat kita menjadi orang-orang yang rajin, orang-orang yang tekun, orang-orang yang sabar. Kita semakin hari, semakin aktif, semakin rajin dan semakin tekun, karena kita percaya bahwa apa yang kita lakukan di dalam Tuhan akan selalu berbuah manis dan indah pada waktunya.

Iman membawa kepada kesepakatan

    Jika kita melihat cerita kelahiran Musa ini antara seluruh anggota keluarga, baik orangtua maupun anak ada kesepakatan. Mereka membagi tugas untuk keamanan bayi Musa. Hal ini tentu dimulai dari Musa Lahir, kemudian mereka menyembunyikannya hingga 3 bulan. Tentu ini bisa dilakukan karena kesepakatan yang menghasilkan kerja sama yang baik. Tidak akan ada kerjasama yang baik tanpa ada kesepakatan. Kerjasama mereka juga digambarkan dalam pembuatan Peti dari pandan, kemudian dilanjutkan dengan membuang bayi Musa ke sungai Nil. Kakak Musa (Miryam) menjadi pengawas dari jauh akan apa yang akan terjadi terhadap bayi Musa di Sungai itu. Kakak Musa melakukan bagiannya dengan memperhatikan bayi itu di sungai dan siapa yang akan mengambil bayi itu. Ketika Kakak Musa melihat bahwa putri Firaun mengambil bayi itu, maka iapun langsung menawarkan inang pengasuh bagi bayi itu untuk putri Firaun, yang kemudian Putri Firaunpun menyetujuinya sehingga Musa tetap disusui oleh ibu kandungnya sendiri. Apakah semua hikmat dan rencana ini berasal dari Kakak Musa? Tentu tidak, ini sudah merupakan kesepakatan keluarga mereka. Tentu mereka sudah merencanakannya sebelumnya sehingga ketika rencana itu berjalan maka setiap orang di dalamnya bisa melakukan bagiannya masing-masing.

Dari hal ini kita dapat belajar bahwa iman akan membawa kita kepada kesepakatan. Kesepakatan akan membawa kita kepada kerjasama yang baik, sehingga kita dapat melalui masalah, pergumulan dengan baik. Oleh karena itu ketika dalam keluarga kita mengalami masalah, pergumulan, Jangan kita saling menyalahkan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi mari selalu bersepakat dan bersehati untuk bekerja sama.

Alkitab juga mengajarkan kepada kita banyak keluarga yang bersepakat sehingga mereka dapat melalui masalah dan pergumulan yang sedang mereka hadapi, Misalnya:

1. Pembangunan Bahtera Nuh (Nuh dan anak-anaknya bekerjasama Kejadian 6-8 )

2. Dalam Cerita Minyak seorang Janda (si Ibu bekerjasama dengan kedua anaknya (2 Raja-raja 4:1-7).

3. Perintah Yesus untuk Bersepakat (Matius 18:20)

Dalam bagian ini kita belajar ada Kuasa dalam kesepakatan terlebih jika kesepakatan kita sejalan dengan apa yang menjadi kehendak dan rancangan Tuhan.

Iman Membuat kita Melihat

    Iman membuat kita melihat apa yang menjadi rancangan Allah. Iman membuat kita melihat apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita. Iman membuat kita melihat apa yang menjadi tindakan Allah sehingga kita bisa berjalan bersama-sama Allah. Hal inilah yang dialami oleh orangtua Musa ketika melihat bayi Musa. Di dalam ayat yang kedua mengatakan 2:2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.

Pernyataan dalam kalimat ini sama persis dengan apa yang dituliskan di dalam Kejadian 1:31, ketika Allah telah selesai menciptakan semuanya ciptaan, dan diakhiri dengan menciptakan manusia, kemudian Allah melihat semuanya “sungguh AMat Baik.” Kata Cantik dan sungguh Amat Baik adalah berasal dari kata yang sama yaitu טוֹב (towb) dibaca tobe yang artinya sungguh amat baik, sempurna/excelent. Dari hal ini kita dberi gambaran bahwa apa yang dilihat oleh orangtua Musa terhadap Musa sama dengan apa yang dilihat oleh Tuhan terhadap Musa. Kesamaan penglihatan antara manusia dengan Allah hanya bisa terjadi jika kita memiliki iman kepada Tuhan. Iman akan membuat kita melihat apa yang Tuhan lihat dan sedang rencanakan.
    Kita juga diberi contoh oleh Alkitab di dalam kisah Elisa dan pembantunya yang sedang menghadapi musuh dari tentara Aram (2 Raja-raja 6:8-23). Dalam cerita ini, Elisa dan pembantunya di kepung oleh tentara Aram sehingga membuat pembantu Elisa ketakutan dan berkata kepada Elisa, Tuan, Celaka Tuanku! Apa yang akan kita perbuat? Kemudian Elisa menjawabnya dengan berkata “jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka. Kemudian Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata pembantunya. Kemudian setelah Elisa Berdoa, maka Tuhan membuka mata pembantunya Elisa dan melihat sekeling mereka dikelilingi oleh kuda dan kereta berapi dari Tuhan.
    Iman membuat kita melihat apa yang menjadi rencana Allah. Iman membuat kita melihat potensi-potensi yang ada di dalam keluarga kita. Iman membuat kita melihat apa yang menjadi rencana Allah dalam keluarga kita. Iman membuat kita melihat jalan terbuka yang Allah sediakan. Iman membuat kita melihat pertolongan Allah yang tidak pernah terlambat. Iman membuat kita melihat bahwa Allah selalu bersama dengan kita.        

Iman Mengalahkan ketakutan Kita.

Ibrani 11:23

11:23 Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja.

    Dalam Bagian ini penulis Ibrani secara langsung menyatakan bahwa karena iman maka mereka tidak takut kepada raja. Ini berarti mereka lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Mereka lebih menghormati Tuhan diatas segalanya dari kepada manusia. Mempercayai Tuhan/beriman kepada Tuhan yang menjadi penguasa tertinggi atas kehidupan ini akan membuat kita lebih yakin dan teguh,kuat serta sabar menghadapi masalah, problem apapun. Kita tidak takut karena percaya Tuhan yang pegang kendali.

    Demikianlah yang dialami oleh keluarga Musa ketika itu. Mereka tidak takut kepada Raja, mereka menyembunyikan bayi Musa selama 3 bulan, sekalipun resikonya besar. Mereka menghanyutkan bayi Musa ke Sungai Nil sekalipun resikonya besar mereka tidak takut. Mereka menawarkan bayi Musa ke Putri Firaun dan menyodorkan Inang Penyusu untuk bayi Musa. Mereka membawa bayi Musa ke istana Firaun dan merawatnya disana. Mereka tidak takut kepada Firaun. Mereka bukan menjauh dari sumber masalah itu, tetapi malah mendekat kepada sumber itu dan menyelesaikan itu dengan Iman.
    Iman akan mengalahkan ketakutan kita. Saat kita percaya/beriman kepada Allah, maka kita menyadari bahwa Allah akan bertindak dan memberikan yang terbaik untuk kita. Jika Allah yang bertindak, mengapa kita harus takut? Raja Daud mengatakan dalam nyanyiannya sekalipun aku dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya sebab Engkau Besertaku (Mazmur 23: 4). Demikian juga Tuhan berfirman melalui Musa kepada Yosua dan bangsa Israel dalam Ulangan 31:8 “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." Dan bahkan jika kita melihat seluruh catatan Alkitab, ada 365 kali Alkitab mengingatkan kita untuk tidak takut. Itu artinya Tuhan mau kita menjalani hari-hari kita setiap hari di dalam kemerdekaan bukan di dalam ketakutan.
    Iman mengalahkan ketakutan kita. Apa yang menjadi ketakutan kita saat ini dalam keluarga kita. Perekonomiankah? kesehatankah? Hubungan-hubungan kitakah? Masa depan anak-anak kah? Apapun itu yang sedang anda takuti saat ini, mari serahkan itu kepada Tuhan dan percayailah Tuhan dalam hidupmu, dalam keluargamu, dalam pendidikanmu, dalam segala aspek hidupmu. Tuhan ada bersama-sama dengan kita. Tuhan memperhatikan orang-orang percaya kepadanya. Tuhan membela orang-orang yang percaya kepadanya. Jangan Takut tetapi percayalah kepada Tuhan.

Iman Membuat kita tidak Takut untuk Berjalan dalam Kehendak Allah
Iman Membuat kita tidak takut pada kemustahilan
Iman membuat kita tidak takut untuk berserah kepada Allah dan mengijinkan Allah bekerja dalam Hidup Kita.


Mari Kita Berdoa. Tuhan memberkati kita semua.

ditulis oleh :Pardomuan Marbun

LATAR BELAKANG KITAB 1 DAN 2 RAJA RAJA




LATAR BELAKANG KITAB 1 DAN 2 RAJA RAJA

“Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu. Dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang ielah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi” (II Raj. 17:13)
Namun demikian, Tuhan tidak mau memusnahkan Yehuda oleh karena Daud, hamba-Nya, sesuai dengan yang dijanjikan-Nya kepada Daud, bahwa Ia hendak memberikan keturunan kepadanya dan kepada anak-anaknya untuk selama-lamanya (II Raj. 8:19).

LATAR BELAKANG KITAB 1 DAN 2 RAJA RAJA

    Kedua Kitab Raja-Raja mencatat rangkaian kejadian di sekitar pasang surut kerajaan Israel yang bersatu, juga peristiwa-peristiwa setelah kerajaan terpecah menjadi Israel dan Yehuda, dan akhirnya tentang Yehuda yang dikucilkan. Secara sepintas kedua kitab sepertinya tidak lebih dari laporan-laporan membosankan tentang prestasi-prestasi -- terutama di bidang kerohanian secara berturut-turut baik dari kerajaan Israel maupun Yehuda, disertai dengan kisah-kisah menarik tentang nabi-nabi tertentu. Secara keseluruhan, keduanya tak putusputus mencatat berulangnya perbuatan jahat raja-raja, dan masih terjadinya pemandangar. kurang menyenangkan tentang kehidupan dari kerajaan-kerajaan ini.

    Namun, di balik kesan awal ini terdapat satu pesan menggembirakan disertai pengharapan bagi umat Allah. Pesan dari kedua kitab ini bersumber pada janji-janji luar biasa Allah kepada Daud dalam Kitab II Samuel. Ada tiga pelajaran yang didapat umat Allah selama masa pembuangan di Babel dan sesudahnya: (1) bahwa Israel harus belajar dari kesalahan para pendahulunya serta mengikuti para nabi sebagai juru bicara Allah, agar terhindar dari hukuman berat seperti itu lagi; tetapi (2) bagaimanapun juga, Tuhan adalah Allah yang baik dan panjang sabar, tetap mau mengampuni jika umat benar-benar bertobat; dan (3) bahwa Dia tetap memberikan harapan kepada umatNya, terlepas betapa pun parah keadaan mereka.

    Catatan kitab ini dimulai ketika Daud sudah uzur serta lemah, sementara kekuasaan berpindah kepada Salomo, anaknya, yang kemudian menjadi pusat perhatian. Dosa-dosa Salomo menyebabkan kerajaan terpecah menjadi dua negara yang bermusuhan. Sementara itu berbagai tulisan di dalamnya secara bergantian melaporkan kedua kerajaan serta memberikan penilaian terhadap sejarah mereka. Setelah Kerajaan Utara jatuh, Kerajaan Selatan juga dilaporkan jatuh, sebagai akibat dosa-dosa mereka. Akhirnya, kitab ini ditutup dengan catatan yang menunjukkan pandangan ke depan dengan gambaran tentang harapan bahwa Allah tetap menyertai umat-Nya.

JUDUL SERTA KEDUDUKAN DALAM KANON

    Seperti Kitab-kitab Samuel, kedua Kitab Raja-Raja pada mulanya adalah satu. Dalam bahasa Ibrani judul yang diberikan untuk versi yang permulaan ini adalah melakîm, “Raja-Raja.” Kitab ini dipecah menjadi dua karena alasan praktis, edisi ini pertama kali muncul dalam salinan bahasa Yunani, Septuaginta. Versi Yunani menyebut keduanya sebagai kitab “Pemerintahan Ketiga dan Keempat”; dua kitab “Pemerintahan" yang pertama adalah Kitab-kitab I dan II Samuel. Judul dalam bahasa Inggris - “Kings” atau “Raja-Raja” -- berasal dari salinan bahasa Latin, Vulgata, hasil karya Yerome di mana keduanya disebut kitab “Raja-Raja Ketiga dan Keempat."
    Judul-judul permulaan di atas mencerminkan fakta bahwa pembagian menjadi I dan II Samuel serta I dan II Raja-Raja bukan didasarkan alasan konsepsional yang mendalam. Kisah tentang Daud, tokoh yang dibicarakan hampir di seluruh Kitab II Samuel belum selesai
    Kitab ini pada kanon Ibrani juga adalah satu kitab, LXX membaginya menjadi dua bagian yang digabung bersama kitab Samuel sebagai III, IV Kerajaan atau oleh Vulgata sebagai III , IV Raja-raja. Alkitab Ibrani modern telah membagi materi ini menjadi dua bagian yaitu 1 & 2 Raja-raja sejak penerbitan Alkitab Rabbinic dari Daniel Bomberg di Vanesa tahun 1516.
    Kanon Kristen memasukkan kitab ini dalam kitab sejarah tetapi kanon Ibrani memasukkan dalam kitab nabi-nabi terdahulu bersama Yosua, Hakim-hakim, dan Samuel. Tapi penempatan ini dapat dianggap sama sahnya, karena Kitab Raja-raja harus dipandang sebagai sejarah kudus yang dilihat melalui mata para nabi. Maksudnya penulis tidak hanya mencatat urutan peristiwa belaka melainkan menggunakan pendekatan subyektif. Ia bukanlah pembela Kerajaan yang bermaksud memuja raja tetapi ia menilai dan mengkritik para penguasa dengan membandingkan mereka dengan Daud, contoh atau teladan seorang raja yang agung.

Penulis

    Tidak disebutkan. Tetapi tradisi Talmud berpendapat bahwa kitab ini ditulis oleh nabi Yeremia dengan melihat kesamaan antara Yer 52 dan 2 Raj 24-25. Tetapi berdasarkan konteks, tema teologis, dan Tujuan penulisan, identitas tidak banyak yang dapat diketahui. Namun sebagai kesimpulan, kita dapat menerima penulis sebagai satu orang yang mendasarkan penulisannya atas beberapa sumber. Yang jelas ia memahami bahwa hubungan Israel dengan Yahweh didasarkan pada Perjanjian dengan-Nya. Dan hubungan ini memiliki implikasi pada sejarah Israel. Waktu penulisan diperkirakan antara kejatuhan Yerusalem dan dekrit Raja Koresy dari Persia yang mengijinkan orang Israel kembali ke tanah air mereka (587/586 – 539 SM). Penulis oleh Lazor disebut sebagai berbakat dan kreatif yang membuat kitab ini seragam dalam teologisnya dan cara penyajian yang khas tentang sejarah Israel. Dimana sejarah dua kerajaan dengan susah payah dijalin dengan komentar-komentar profetik oleh penyunting sendiri.

Tujuan

a. Menceritakan sejarah dari kerajaan bersatu dan kerajaan terpecah ketika mereka mengabaikan perjanjian dengan Tuhan. Fokusnya adalah para nabi dan para raja; nabi berfungsi sebagai hati nurani para raja.
b. Keberhasilan dan kegagalan para raja tidak didsarkan pada politik tetapi atas dasar religius. Keadaan para raja terjalin erat dengan rakyat, dimana berkat dan kutuk tergantung kepada respon para raja terhadap Hukum Musa.
c. Pengesahan dinasti Daud dengan perantaraan jabatan nabi, karena perjanjian mengenai jabatan raja yang dikatakan nabi Natan mendukung suku Yehuda dan keluarga Daud sebagai pewaris tahta atas Israel (2 Sam 7:1-17)
d. Menyelesaikan penulisan sejarah raja-raja Israel sebagai lanjutan kitab Samuel

KERANGKA DARI Kitab I dan II RAJA-RAJA

Kerangka. Tulisan-tulisan dalam I dan II Raja-Raja dikerjakan di sekitar zaman raja-raja, mulai dari Daud dan Salomo, terus ke zaman di mana kerajaan terpecah, dan berakhir pada masa pemerintahan terakhir raja-raja Yehuda. Setelah kerajaan terpecah (1 Raj. 12-14), dalam penyajian tulisan-tulisannya, penulis menggunakan kerangka yang bisa dimengerti. Kerangka dimulai dengan satu catatan terstruktur tentang kenaikan raja ke atas takhta, dan ditutup dengan catatan terstruktur serupa tentang kematiannya. Pola-pola tersebut sedikit berbeda untuk masing-masing kerajaan, Pola yang khas (tipikal) adalah sebagai berikut:23
Catatan tentang penobatan raja: 
    Sinkron (sampai Raja Hosea) Usia raja saat naik takhta (khusus Yehuda) Lama pemerintahan Pusat pemerintahan (ibu kota) Nama ibunya (khusus Yehuda) Putusan-putusan teologis yang dihasilkannya
Catatan tentang kemangkatan raja: 
Sumber (asal) kutipan Kematian dan penguburannya Catatan tentang pergantian kekuasaan

Pola khas untuk kerajaan Israel di atas dinyatakan sebagai berikut:

Catatan penobatan raja: Dalam tahun ke-8 dari pemerintahan Y, raja Yehuda, A, anak dari B mulai memerintah atas seluruh Israel di Tirza/Samaria. Ia memerintah selama 8 tahun. la melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.
Catatan kemangkatan: Selebihnya dari riwayat A dan segala yang dilakukannya, bukankah semuanya itu tertulis dalam kitab sejarah raja-raja Israel? Kemudian A mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di Tirza/ Samaria; maka B (anaknya), menjadi raja menggantikan dia.

Pola khas ini untuk kerajaan Yehuda dinyatakan sbb.:

Catatan penobatan
A anak dari raja B mulai memerintah atas Yehuda dalam tahun ke-X dari pemerintahan C, raja Israel. A berumur X tahun ketika ia mulai memerintah, dan ia memerintah X tahun di Yerusalem. Nama ibunya adalah Y, anak perempuan D. Dan A melakukan apa yang benar (atau jahat) di mata Tuhan.

Catatan kemangkatan: 
Selebihnya dari riwayat A, dan segala yang dilakukannya, bukankah semuanya itu tertulis dalam kitab sejarah raja-raja Yehuda? Kemudian A mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan dia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka B anaknya, menjadi raja menggantikan dia.
    Kita perlu memperhatikan, bahwa selain keterangan tambahan dalam rumusan versi Yehuda (mengenai umur raja serta nama ibunya), raja-raja Yehuda mendapatkan penilaian kadang baik dan kadang jahat -- sementara di Israel penilaiannya konsisten: semua jahat. Juga, ada sedikit perbedaan susunan pelaporan tentang penobatan seseorang menjadi raja. Lebih jauh, pergantian dinasti begitu jelas dalam sejarah kerajaan Yehuda (yakni anak menggantikan ayah), tetapi di kerajaan Israel kasus seperti ini hanya separuhnya saja.
    Makna teologis dari pola di atas. Seperti telah ditekankan, dalam pola seperti itu catatan resmi dari istana kemungkinan menjadi dasar atau sumber bagi sebagian besar keterangan, namun tidak semuanya. Salah satu sebabnya catatan-catatan yang sinkronistis atau seragam (yakni memperhatikan kesesuaian antara tahun saat mana seseorang menjadi raja dengan kejadian pada tahun yang sama di kerajaan lainnya) mungkin bukan merupakan bagian dari catatan-catatan resmi masing-masing kerajaan. Cukup jika ada kronologi konsisten dalam kerajaan itu sendiri. Sebenarnya, sulit membayangkan bagaimana mungkin kerajaan yang bermusuhan seperti Israel dan Yehuda bisa saling mengakui catatan resmi saingannya. Kedua, penilaian teologis atas raja yang memerintah masingmasing kerajaan mungkin bukan merupakan bagian dari catatan resmi dari istana. Catatan seperti itu kemungkinan besar berasal dari pena penulis kitab I dan II Raja-Raja.
    Pola yang terdapat pada kerangka kerja di sini mengandung beberapa pengertian penting. Pertama, jika catatan-catatan seperti itu diamati dari dekat akan terlihat bahwa pengarang ingin menulis sejarah secara cermat dan lengkap. Ia bermaksud menulis suatu sejarah, bukan sekedar catatatn.
    Pengarang menekankan ini melalui penggunaan sinkronisme dengan Timur Dekat kuno (yakni untuk menunjuk pada raja-raja Mesir, Asyur, dan Babilonia), atau menantang pembacanya untuk menguji masalah-masalah itu sendiri dengan menariknya (membandingkannya) kepada catatan-catatan resmi dari istana. Sejarah Israel dan Yehuda bisa diuji sebagaimana sejarah siapa saja,
    Kedua, bagaimanapun juga, catatan-catatan ini bukanlah sejarah yang tidak memihak, obyektif , atau “sejarah untuk kepentingan sejarah itu sendiri”; ia adalah sejarah teologis. Pengarang menulis sejarah dengan sorotan teologis, pertama, dengan memberikan penilaian singkat dari sisi teologis kepada setiap raja, selanjutnya menyampaikan kisahan tentang para raja serta nabi-nabi secara luas.
    Ketiga, pengarang bermaksud karyanya menjadi bagian dari sejarah lengkap tentang pengalaman Israel sebagai satu bangsa.25 Efek beruntun dari kronologi mendetail ini bisa memperlihatkan satu bangsa dalam lintasan sejarah yang panjang. Jika kronologi itu ditambahkan pada tanggal awal dalam kitab ini tanggal mana berkaitan dengan periode bahwa Bait Suci dibangun 480 tahun setelah peristiwa Keluaran -- I Raja-Raja 6:1. Jadi seluruh sejarah ini dirangkum oleh peristiwa besar pada permulaan sejarah Israel sehingga terbentuk satu pemikiran: bahwa bagaimanapun juga, kedua kerajaan yang memberontak ini disatukan oleh keberadaan umat perjanjian sejak zaman Keluaran.2
    Keempat, sinkronisme cermat terhadap pemerintahan masing-masing raja berikut hal serupa pada kerajaan kembarannya, membuktikan bahwa penulis ingin menyajikan baik sejarah Israel maupun Yehuda sebagai sejarah dari satu bangsa, bukan dua bangsa.27 Kedua kerajaan itu tak mungkin dipisahkan satu dengan lainnya, bukan saja oleh kronologi dan kejadian-kejadian sejarah dari zaman tersebut, tetapi bahkan oleh sejarah mereka sebelumnya sebagai satu bangsa yang dipimpin Allah, di mana keduanya tetap bertanggung jawab kepada Dia.

Sumber diambil dari buku Howard Jr. David M. Kitab-kitab Sejarah dalam Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2009.

RENUNGAN 2 SAMUEL 19:1-43

RENUNGAN 2 SAMUEL 19:1-43

            Kisah 2 Samuel 19: 1-43 dibagi oleh LAI menjadi enam (6) perikop. Perikop pertama (ayat 1-8) berbicara mengenai kesedihan Daud yang diberitakan kepada Yoab. Perikop kedua (ayat 9-14) berbicara mengenai pemikiran untuk membawa kembali raja Daud. Perikop ketiga (ayat 15-23) berbicara tentang Simei menyongsong raja.  Perikop keempat (ayat 24-30) berbicara tentang Mefiboset menyongsong raja.Perikop kelima (ayat 31-39) berbicara mengenai Barzilai ikut mengantarkan raja Daud.  Perikop Keenam (ayat 40-43) berbicara mengenai orang-orang Israel dan orang-orang Yehuda bertengkar mengenai raja Daud.

 RENUNGAN 2 SAMUEL 19:1-43

            Dalam renungan ini kita akan membahas kelima bagian perikop ini satu persatu dan mengambil rhema yang dapat kita renungkan menjadi pelajaran maupun nasehat-nasehat firman Tuhan bagi kita.

 Perikop pertama kesedihan Daud yang diberitakan kepada Yoab ((ayat 1-8).

 

Kebesaran kasih seorang Ayah

            Perikop ini dimulai dengan kesedihan Daud ketika mendengar kematian Absalom di dalam peperangan. Daud menangis dan berkabung atas kematian Absalom.  Ini menunjukkan betapa Daud mengasihi Absalom sebagai anaknya sekalipun Absalom telah berhianat, memberontak bahkan melakukan kudeta sehingga Daud harus keluar dari Istana.  Pemberontakan yang dilakukan Absalom itu bahkan menjadikan perang saudara di antara sesama Israel. Semua yang dilakukan oleh Absalom tidak mengikis kasih Daud seorang Ayah kepada anaknya.  Dari hal ini kita belajar mengenai ketulusan kasih seorang ayah kepada anaknya.  Seburuk apapun seorang anak, sebagai ayah harus tetap menerima si anak.

Kerendahan Hati seorang Pemimpin

            Kesedihan hati Daud ini kemudian diketahui semua prajurit yang yang ikut berperang melawan Absalom. Oleh itulah semua tentara pendukung Daud ini pulang dengan diam-diam sekalipun sebenarnya mereka mengalami kemenangan.  Hal ini dikarenakan Daud yang berkabung oleh kematian Absalom.  Mendengar kesedihan Daud dan apa yang dialami oleh semua tentara itu, maka Yoab sebagai panglima perang yang membunuh Absalom datang menghadap Daud dan menasehati serta menegur Daud dengan Keras.  Yoab mengatakan bahwa Daud mempermalukan anak buahnya yang telah menyelamatkan Daud dan seluruh keturunannya dari tangan Absalom.  Yoab menyuruh supaya Daud menyambut para tentara yang telah pulang berperang dan berbicara kepada mereka.  Apa yang dilakukan Yoab ini sebenarnya sangat berani, sebagai seorang Panglima perang kepada raja. Namun kita juga bisa melihat apa yang menjadi respon Daud kepada Yoab ini adalah sebuah kerendahan hati, dimana Daud mau melakukan apa yang menjadi nasehat dari anak buahnya. Tidak banyak pemimpin yang mau mendengar nasehat/masukan dari anak buahnya ataupun bawahannya.  Tidak banyak orangtua yang mau mendengarkan masukan dari anak-anaknya.  Tapi melalui hal ini kita melihat bahwa masukan dari bawahan pun perlu kita pertimbangkan.  Ini salah satu contoh kerendahan hati.  Tentu juga Daud memperhitungkan kesetiaan Yoab kepadanya selama masa jabatannya dan masa pelariannya.  Marilah kita sebagai pemimpin yang memiliki kerendahan hati, dan jika sebagai bawahan menunjukkan kesetiaan dan memberi masukan2 yang benar kepada pemimpin kita.

 

Perikop kedua pemikiran untuk membawa kembali raja Daud (ayat 9-14).

Respon atas setiap keputusan

            Perikop kedua ini berbicara mengenai perbantahan yang terjadi diantara orang-orang Israel mengenai raja Daud yang rencana akan kembali memimpin bangsa itu. Sebagian dari rakyat itu mendukung dan menerima untuk Daud kembali ke Istana kerajaan karena Absalom telah mati, namun sebagian lagi tidak setuju.  Hal inilah yang membuat perbantahan terjadi.  Sebagian besar yang setuju mengingat akan apa yang telah diperbuat oleh Daud terhadap bangsa itu, yakni kemenangan-kemenangan atas bangsa-bangsa lain dan kebaikan-kebaikan Daud.  Sementara yang belum setuju kemungkinan besar dikarenakan oleh mereka berada dipihak Absalom yang berlawanan dengan Daud.  Ini adalah hal yang wajar di dalam sebuah masyarakat yang besar, akan selalu ada yang setuju dan tidak setuju.  Apapun yang kita lakukan, seperti apapun keputusan kita dalam memimpin akan selalu ada 2 respon ini, yaitu setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka. 

Hikmat bagi Pemimpin

Namun kita tidak boleh berhenti oleh respon ketidaksetujuan. Oleh karena itulah Daud dengan Hikmatnya/kebijaksanaannya menyuruh imam Zadok dan Imam Abyatar untuk berbicara kepada tua-tua Yehuda agar membujuk seluruh rakyat itu untuk menerima Daud dan seluruh anak buahnya kembali ke Istana. Hikmat dan ide Daud inipun akhirnya berhasil.  Orang-orang Yehuda dan juga orang-orang Israel akhirnya juga menerima Daud dan anak buahnya kembali memimpin.  Hikmat adalah hal yang mutlak kita perlukan dalam memimpin apapun, baik itu dalam lingkup gereja, pekerjaan maupun dalam lingkup memimpin keluarga.  Hikmat itu berasal dari pengenalan akan Tuhan.  Penulis Amsal mengatakan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.  Tentulah juga hikmat yang dimiliki oleh Daud ini berasal dari pengalaman hubungannya dengan Tuhan, karena tanpa hubungan dengan Tuhan mustahil seseorang memperoleh Hikmat.

Pengampunan seorang Pemimpin

Dalam bagian ini juga kita dapat melihat bagaimana hikmat Daud bekerjasama dengan pengampunannya atas Amasa.  Amasa yang sebelumnya membelot dan mendukung Absalom untuk melawan Daud.  Tetapi Daud menerima kembali Amasa di dalam pemerintahannya.  Dalam hal ini kita melihat kebijaksanaan Daud yang lebih memikirkan hal yang lebih besar yaitu keutuhan bangsa itu disbanding hanya sekedar sakit hati dan balas dendam.  Sakit hati dan balas dendam adalah bentuk keegoisan yang bisa berdampak buruk akan setiap hubungan-hubungan baik hari ini, maupun masa depan.  Tetapi Daud lebih mengutamakan hal-hal yang jauh lebih penting yaitu kesatuan bangsa ini, sehingga ia memberikan tempat kembali bagi Amasa.  Dalam bagian ini kita belajar bahwa dalam sebuah konflik, kita harus mengutamakan hal hal yang lebih utama dan berpikir untuk kepentingan yang lebih besar dan jauh ke masa depan.  Tinggalkan sakit hati dan dendam kita, karena itu hanya akan menghancurkan kita kembali.

 

Perikop ketiga  Simei menyongsong raja Daud (ayat 15-23)

Pengampunan seorang Pemimpin

            Dalam bagian ini menceritakan kembalinya raja Daud ke Yerusalem setelah semua perang saudara yang telah terjadi.  Setelah raja Daud sampai di tepi sungai Yordan, maka Simei pun datang menyongsong dan menyambut raja Daud.  Simei adalah orang yang dulunya mengutuki Daud ketika bersama-sama memberontak dengan Absalom.  Oleh karena itulah Abisai, anak Zeruya mengatakan kepada Daud bahwa Simei patut di hukum Mati.  Simei datang kepada raja dan mengakui semua kesalahannya dan meminta belas kasihan dan pengampunan raja.  Daudpun mengampuni Simei dan menerima kembali Simei.  Hal ini kita melihat ketulusan Daud.  Sebagai seorang pemimpin atas sebuah bangsa, Daud memberikan pengampunan kepada Simei dan tidak menghukum/ membunuh Simei.  Daud malahan bersumpah bahwa Simei tidak akan mati.  Pengampunan itu membebaskan. Seseorang yang telah diampuni dosanya akan bebas dari rasa bersalah dan hutang dosanya. Daud membebaskan Simei dari kesalahannya dan menerimanya kembali. Pengampunan itu juga berbicara mengenai jaminan.  Daud memberi jaminan kepada Simei bahwa ia tidak akan mendapat hukuman/mati atas kesalahannya. Pengampunan yang kita terima memberikan jaminan bagi kita untuk hidup dengan merdeka.

 

Perikop Keempat  berbicara tentang Mefiboset menyongsong raja (ayat 24-30). 

Kemurahan Raja

    Dalam bagian bagian ini berbicara mengenai Mefiboset yang adalah keturunan Saul datang menyambut raja Daud. Mefiboset mencoba menjelaskan apa yang dialaminya dengan ziba, hambanya.  Mefiboset menceritakan bahwa ziba telah menipu dia dan mengadu domba Mefiboset dengan Daud.  Namun Daud memutuskan untuk membagi ladang milik mefiboset dengan Ziba. Akan tetapi Mefiboset malah bersedia memberikan seluruh ladang nya kepada Ziba asalkan dapat kemurahan dan pengampunan raja Daud.  Mefiboset memilih hal yang benar dan menysukuri pengampunan dan kemurahan yang diberikan raja Daud.  Mefiboset lebih menginginkan raja kembali dan mendpat kemurahan dari raja Daud disbanding dengan semua ladangnya/hartanya.  Mendapatkan kemurahan raja adalah hal yang paling utama dibandingkan semua harta, ini menajdi pelajaran yang penting bagi kita.  Kemurahan adalah hal yang akan membawa kita kepada kedamaian, tetapi cinta akan harta akan membawa kita kepada kelicikan seperti yang dilakukan oleh Ziba kepada Mefiboset.

 

Perikop kelima Barzilai ikut mengantarkan raja Daud (ayat 31-39).  

Pemberian Yang Tulus 

Dalam Bagian ini menceritakan seorang bernama Barzilai yang juga ikut mengantarkan raja Daud kembali ke Yerusalem.  Barzilai sudah sangat tua, namun dia adalah orang yang sangat kaya.  Barzilai lah yang menyediakan makanan bagi raja Daud dan anak buahnya selama berada di Mahanaim.   Oleh karena kebaikan Barzilai kepada Daud, maka Daud mengajaknya untuk ikut ke Yerusalem dan berjanji akan memberika tempat baginya. Daud mengingat segala kebaikan Barzilai dan ingin membalasnya kembali.  Tetapi Barzilai adalah seorang yang tulus.  Barzilai menolak permintaan raja Daud dengan halus dan mengatakan bahwa ia belum melakukan apa apa. Barzilai pun meminta untuk membawa hambanya Kimhan menggantikan dia ke Yerusalem bersama-sama dengan Daud.  Permintaan Barzilai inipun disanggupi oleh raja Daud. Dalam bagian ini kita melihat sebuah ketulusan yang di tunjukkan oleh Barzilai.  Memberi sesuatu tanpa memperhitungkan kembali apa yang sudah diberikan.  Demikian juga apa yang dilakukan Daud.  Daud mengingat segala kebaikan yang dilakukan oleh Barzilai kepadanya dan bersedia membalaskannya. Jangan juga kita melupakan kebaikan orang lain kepada kita. Sebisa mungkin marilah juga kita berbuat baiok 

 

Perikop Keenam orang-orang Israel dan orang-orang Yehuda bertengkar mengenai raja Daud (ayat 40-43).

            Dalam bagian perikop terakhir ini berbicara mengenai orang-orang Israel dan orang-orang Yehuda yang bertengkar karena raja Daud.  Pertengkaran ini terjadi dikarenakan orang-orang Yehuda membawa raja Daud lebih dulu.  Dalam bagian ini dapat kita melihat sebagai cikal bakal perpecahan bangsa itu.  10 suku yang disebut sebagai Israel mengklaim bahwa merekalah yang lebih layak menyambut lebih dulu raja Daud.  Sementara 2 suku lainnya yakni Yehuda dan Benyamin juga mengklaim bahwa mereka lebih layak.  Melihat pertengkaran yang terjadi ini seharusnya Daud sebagai raja mengambil keputusan yang bijak yang dapat merangkul kedua kepentingan ini sehingga tidak berkelanjutan.  Namun Daud tidak melakukan apa apa untuk mengatasi ini dan akhirnya terus berkelanjutan.   Dalam bagian ini kita melihat kelemahan Daud sebagai raja.  Kita juga melihat keegoisan dari setiap kelompok baik dari orang-orang Yehuda maupun dari orang-orang Israel sehingga perselihan itu semakin berat. Bukannya mereka mencari solusi atas masalah, tetapi yang dilakukan malah saling melukai dengan perkataan-perkataan yang Pedas (ayat 43).  Dalam bagian ini kita juga belajar dimana ketika kita mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok kita, maka kita akan cenderung menyakiti orang lain ataupun kelompok lain.


Ayat Alkitab 2 Samuel 19:1-43.

19:1 Lalu diberitahukanlah kepada Yoab: "Ketahuilah, raja menangis dan berkabung karena Absalom."19:2 Pada hari itulah kemenangan menjadi perkabungan bagi seluruh tentara, sebab pada hari itu tentara itu mendengar orang berkata: "Raja bersusah hati karena anaknya."19:3 Sebab itu tentara itu masuk kota dengan diam-diam pada hari itu, seperti tentara yang kena malu kembali dengan diam-diam karena melarikan diri dari pertempuran.19:4 Raja menyelubungi mukanya, dan dengan suara nyaring merataplah raja: "Anakku Absalom, Absalom, anakku, anakku!"19:5 Lalu masuklah Yoab menghadap raja di kediamannya serta berkata: "Pada hari ini engkau mempermalukan semua hambamu, yang telah menyelamatkan nyawamu pada hari ini dan nyawa anak-anakmu laki-laki dan perempuan dan nyawa isteri-isterimu dan nyawa gundik-gundikmu,19:6 dengan mencintai orang-orang yang benci kepadamu, dan dengan membenci orang-orang yang cinta kepadamu! Karena pada hari ini engkau menunjukkan bahwa panglima-panglima dan anak buah tidak berarti apa-apa bagimu. Bahkan aku mengerti pada hari ini, bahwa seandainya Absalom masih hidup dan kami semua mati pada hari ini, maka hal itu kaupandang baik.19:7 Oleh sebab itu, bangunlah, pergilah ke luar dan berbicaralah menenangkan hati orang-orangmu. Sebab aku bersumpah demi TUHAN, apabila engkau tidak keluar, maka seorangpun tidak akan ada yang tinggal bersama-sama dengan engkau pada malam ini; dan hal ini berarti celaka bagimu melebihi segala celaka yang telah kaualami sejak kecilmu sampai sekarang."19:8 Lalu bangunlah raja dan duduk di pintu gerbang. Maka diberitahukanlah kepada seluruh rakyat, demikian: "Ketahuilah, raja duduk di pintu gerbang." Kemudian datanglah seluruh rakyat itu menghadap raja. Adapun orang Israel sudah melarikan diri, masing-masing ke kemahnya.19:9 Seluruh rakyat dari semua suku Israel berbantah-bantah, katanya: "Raja telah melepaskan kita dari tangan musuh kita, dialah yang telah menyelamatkan kita dari tangan orang Filistin. Dan sekarang ia sudah melarikan diri dari dalam negeri karena Absalom;19:10 tetapi Absalom yang telah kita urapi untuk memerintah kita, sudah mati dalam pertempuran. Maka sekarang, mengapa kamu berdiam diri dengan tidak membawa raja kembali?"19:11 Raja Daud telah menyuruh orang kepada Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, dengan pesan: "Berbicaralah kepada para tua-tua Yehuda, demikian: Mengapa kamu menjadi yang terakhir untuk membawa raja kembali ke istananya?" Sebab perkataan seluruh Israel telah sampai kepada raja.19:12 "Kamulah saudara-saudaraku, kamulah darah dagingku; mengapa kamu menjadi yang terakhir untuk membawa raja kembali?19:13 Dan kepada Amasa haruslah kamu katakan: Bukankah engkau darah dagingku? Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau tidak tetap menjadi panglimaku menggantikan Yoab."19:14 Demikianlah dibelokkannya hati semua orang Yehuda secara serentak, sehingga mereka menyuruh menyampaikan kepada raja pesan ini: "Kembalilah, tuanku dan semua anak buahmu."19:15 Lalu berangkatlah raja pulang dan sampailah ia ke tepi sungai Yordan. Sementara itu orang Yehuda telah sampai ke Gilgal untuk menyongsong raja dan untuk membawa raja menyeberang sungai Yordan.19:16 Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud.19:17 Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja,19:18 lalu menyeberang dari tempat penyeberangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, ketika raja hendak menyeberangi sungai Yordan,19:19 dan berkata kepada raja: "Janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah, dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada hari tuanku raja keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi.19:20 Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa; dan lihatlah, pada hari ini akulah yang pertama-tama datang dari seluruh keturunan Yusuf untuk menyongsong tuanku raja."19:21 Lalu berbicaralah Abisai, anak Zeruya, katanya: "Bukankah Simei patut dihukum mati karena ia telah mengutuki orang yang diurapi TUHAN?"19:22 Tetapi Daud berkata: "Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya, sehingga kamu pada hari ini menjadi lawanku? Masakan pada hari ini seorang dihukum mati di Israel! Sebab bukankah aku tahu, bahwa aku pada hari ini adalah raja atas Israel?"19:23 Kemudian berkatalah raja kepada Simei: "Engkau tidak akan mati." Lalu raja bersumpah kepadanya.19:24 Juga Mefiboset bin Saul menyongsong raja. Ia tidak membersihkan kakinya dan tidak memelihara janggutnya dan pakaiannya tidak dicucinya sejak raja pergi sampai hari ia pulang dengan selamat.19:25 Ketika ia dari Yerusalem menyongsong raja, bertanyalah raja kepadanya: "Mengapa engkau tidak pergi bersama-sama dengan aku, Mefiboset?"19:26 Jawabnya: "Ya tuanku raja, aku ditipu hambaku. Sebab hambamu ini berkata kepadanya: Pelanailah keledai bagiku, supaya aku menungganginya dan pergi bersama-sama dengan raja! sebab hambamu ini timpang.19:27 Ia telah memfitnahkan hambamu ini kepada tuanku raja. Tetapi tuanku raja adalah seperti malaikat Allah; sebab itu perbuatlah apa yang tuanku pandang baik.19:28 Walaupun seluruh kaum keluargaku tidak lain dari orang-orang yang patut dihukum mati oleh tuanku raja, tuanku telah mengangkat hambamu ini di antara orang-orang yang menerima rezeki dari istanamu. Apakah hakku lagi dan untuk apa aku mengadakan tuntutan lagi kepada raja?"19:29 Tetapi raja berkata kepadanya: "Apa gunanya engkau berkata-kata lagi tentang halmu? Aku telah memutuskan: Engkau dan Ziba harus berbagi ladang itu."19:30 Lalu berkatalah Mefiboset kepada raja: "Biarlah ia mengambil semuanya, sebab tuanku raja sudah pulang dengan selamat."19:31 Juga Barzilai, orang Gilead itu, telah datang dari Ragelim dan ikut bersama-sama raja ke sungai Yordan untuk mengantarkannya sampai di sana.19:32 Barzilai itu sudah sangat tua, delapan puluh tahun umurnya. Ia menyediakan makanan bagi raja selama ia tinggal di Mahanaim, sebab ia seorang yang sangat kaya.19:33 Berkatalah raja kepada Barzilai: "Ikutlah aku, aku akan memelihara engkau di tempatku di Yerusalem."19:34 Tetapi Barzilai menjawab raja: "Berapa tahun lagikah aku hidup, sehingga aku harus pergi bersama-sama dengan raja ke Yerusalem?19:35 Sekarang ini aku telah berumur delapan puluh tahun; masakan aku masih dapat membedakan antara yang baik dan yang tidak baik? Atau masih dapatkah hambamu ini merasai apa yang hamba makan atau apa yang hamba minum? Atau masih dapatkah aku mendengarkan suara penyanyi laki-laki dan penyanyi perempuan? Apa gunanya hambamu ini lagi menjadi beban bagi tuanku raja?19:36 Sepotong jalan saja hambamu ini berjalan ke seberang sungai Yordan bersama-sama dengan raja. Mengapa raja memberikan ganjaran yang sedemikian kepadaku?19:37 Biarkanlah hambamu ini pulang, sehingga aku dapat mati di kotaku sendiri, dekat kubur ayahku dan ibuku. Tetapi inilah hambamu Kimham, ia boleh ikut dengan tuanku raja; perbuatlah kepadanya apa yang tuanku pandang baik."19:38 Lalu berbicaralah raja: "Baiklah Kimham ikut dengan aku; aku akan berbuat kepadanya apa yang kaupandang baik, dan segala yang kaukehendaki dari padaku akan kulakukan untukmu."19:39 Kemudian seluruh rakyat menyeberangi sungai Yordan. Juga raja menyeberang, setelah berpamitan dengan Barzilai dengan ciuman. Lalu orang inipun pulanglah ke tempat kediamannya.19:40 Sesudah itu berjalanlah raja terus ke Gilgal, dan Kimham ikut dengan dia. Seluruh rakyat Yehuda bersama-sama setengah dari rakyat Israel telah mengantarkan raja.19:41 Tetapi seluruh orang Israel datang menghadap raja dan berkata kepada raja: "Mengapa saudara-saudara kami, orang-orang Yehuda itu, menculik raja dan membawa dia menyeberangi sungai Yordan dengan keluarganya dan semua orang Daud yang menyertai dia?"19:42 Lalu semua orang Yehuda menjawab orang-orang Israel itu: "Oleh karena raja kerabat kami. Mengapa kamu menjadi marah karena hal ini? Apakah kami makan apa-apa atas biaya raja? Apakah kami mendapat keuntungan?"19:43 Tetapi orang-orang Israel itu menjawab orang-orang Yehuda: "Kami sepuluh kali lebih berhak atas raja. Sebagai anak sulung kami melebihi kamu. Mengapa kamu memandang kami rendah? Bukankah kami yang pertama-tama harus membawa raja kami kembali?" Tetapi perkataan orang-orang Yehuda itu lebih pedas dari pada perkataan orang-orang Israel.