CERMIN YANG JUJUR
CERMIN YANG JUJUR
"Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin." (Yakobus 1:23)
Banyak orang ingin hidupnya berubah, tetapi sedikit yang berani melihat dirinya sendiri dengan jujur. Kita seringkali lebih suka memakai "topeng" rohani agar terlihat baik di mata jemaat atau sesama, namun melupakan kondisi batin yang sebenarnya. Rasul Yakobus memberikan kita sebuah gambaran yang sangat membumi melalui suratnya:
Mari kita bayangkan sebuah cermin, Saudara-saudara. Setiap pagi, hal pertama yang kita cari adalah cermin. Kita memastikan tidak ada sisa makanan di gigi atau noda di wajah. Cermin tidak pernah berbohong; ia menunjukkan apa adanya. Jika rambut kita acak-acakan, cermin akan mengatakannya. Jika wajah kita kusam, cermin tidak akan berkata kita bercahaya.
Firman Tuhan adalah cermin rohani bagi jiwa kita. Saat kita membaca Alkitab, kita sebenarnya sedang berdiri di depan "Cermin yang Jujur" ini. Bedanya, cermin kaca hanya memperlihatkan kulit, tetapi cermin Firman menembus hingga ke kedalaman hati. Ia menunjukkan kesombongan yang kita bungkus dengan keramahan, atau kepahitan yang kita simpan rapi di balik senyuman.
Saudara-saudara, mengapa Yakobus menekankan tentang "mendengar dan melakukan"? Karena banyak dari kita memperlakukan Firman Tuhan seperti cermin yang hanya dilihat sekilas. Kita datang ke gereja, mendengar khotbah yang indah, merasa tertegur, lalu setelah keluar pintu gereja, kita melupakan segalanya. Kita melihat noda dosa di hati kita melalui khotbah itu, tetapi kita enggan membasuhnya. Kita membiarkan noda itu tetap di sana, sementara kita terus menjalani hidup seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Perubahan sejati tidak akan pernah terjadi tanpa kejujuran untuk mengakui apa yang kita lihat di cermin itu. Jangan takut jika cermin Firman menunjukkan bahwa Saudara-saudara masih memiliki sifat pemarah, kikir, atau tidak jujur dalam bekerja. Jangan lari dari kenyataan itu! Justru di titik itulah Tuhan ingin bekerja. Pengakuan adalah pintu gerbang menuju transformasi. Tanpa kejujuran, perubahan hanyalah kosmetik; ia hanya menempel di permukaan tetapi tidak mengubah substansi.
Saudara-saudara, saya ingin memotivasi setiap kita: jadikanlah saat teduh dan pembacaan Alkitabmu sebagai momen "berkaca". Jangan terburu-buru. Diamlah sejenak dan tanyakan, "Tuhan, apa yang Engkau lihat di hatiku hari ini melalui ayat ini?" Saat kita berani jujur di hadapan-Nya, kasih karunia Tuhan akan mengalir untuk memampukan kita berubah. Kita tidak berjuang sendirian. Roh Kudus adalah pribadi yang akan membantu kita "merapikan" apa yang berantakan di dalam jiwa kita.
Saudara-saudara, jika kita melihat relevansinya dengan zaman digital saat ini, tantangan untuk menjadi "jujur" menjadi jauh lebih berat. Kita hidup di era di mana "cermin" kita telah digantikan oleh layar gadget. Di media sosial, kita memiliki kendali penuh untuk menyaring (filter) kenyataan. Kita bisa mengedit foto agar terlihat sempurna, menyunting kata-kata agar terlihat bijak, dan hanya menampilkan sisi hidup yang paling bahagia. Kita menjadi generasi yang sangat ahli dalam pencitraan, namun sangat asing dengan kejujuran diri.
Dunia saat ini memaksa kita untuk terus melihat "cermin orang lain" (membanding-bandingkan hidup) sehingga kita kehilangan fokus pada cermin Firman. Kita lebih khawatir tentang bagaimana orang lain melihat kita di layar ponsel, daripada bagaimana Tuhan melihat kita di kedalaman hati. Akibatnya, banyak dari kita mengalami "krisis identitas rohani"—kita terlihat suci di status WhatsApp atau Instagram, tetapi rapuh dan penuh kompromi dalam keseharian yang nyata.
Hal yang perlu kira renungkan saat ini bagi kita adalah: apakah kita lebih sering menghabiskan waktu di depan "layar" yang penuh kepalsuan, atau di depan "cermin Firman" yang penuh kebenaran? Ingatlah, Saudara-saudara, filter manusia mungkin bisa menipu mata dunia, tetapi ia tidak pernah bisa menipu mata Tuhan. Mari kita meletakkan gadget kita sejenak, menanggalkan semua topeng digital kita, dan kembali bersimpuh di depan cermin yang jujur—Firman Tuhan. Sebab hanya melalui kejujuran di hadapan Allah, "Aku" yang lama benar-benar bisa menjadi "Aku" yang berubah.

Thanks pak dom, untuk Firmanya
ReplyDeleteAmin makasih renungan nya p dom
ReplyDelete