MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9



MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9

OLEH: Zuni Berkat Zai

Pendahuluan

    Murka merupakan respon sesuatu yang tidakadilan seringkali juga manusia mengalami tentang kemarahan, kejengkelan kesesalan, atau gangguan. Bukan hanya juga manusia yang mengekpresikan kemurkaan, tetapi juga Allah juga menjadi sifat-Nya. Namun ada perbedaan jauh antara murka Allah dengan murka Manusia. Murka Allah itu pasti kudus dan benar, sementara murka Manusia tidak pernah kudus dan jarang benar, maka hal tersebut manusia harus membedakan mana sebenarnya yang adil dan tidakadilan.

MURKA ALLAH BERDASARKAN 1 YOHANES 1:9

    Dalam Perjanjian Lama Murka Allah itu respon ketidaktaatan manusia, kemurkaan Allah kosisten ditujukan kepada kepada mereka yang tidak mengikuti kehendaknya (Ulangan 1:2-46; Yosua 7:1; Mazmur 2:1-6). Murka Allah terhadap dosa dan ketidaktaatan di benarkan sepenuhnya karena rencana-Nya atas umat manusia adalah kudus dan sempurna, sama seperti Allah sendiri adalah kudus dan sempurna. Sedangkan Kiasan antara Lazarus menceritakan tentang penghakiman Allah dan konsekuensi yang serius bagi pendosa yang tidak mau bertobat (Lukas 16:19-31). Begitu juga Yohanes 3:36 berkata, “barangsiapa percaya kepada anak, ia tidak akan melibat hidup, melaikan murka Allah tetap ada diatas-Nya.
    Setelah itu murka manusia di peringatkan dalam Roma 12:19, Efesus 4:26, dan Kolose 3:8-10. Allah sendiri dapat membalas karena pembalasan-Nya sepurna dalam kudus sementara murka manusia adalah penuh dosa, membuka dirinya kepada yang jahat. Bagi orang yang percaya kemarahan dan kemurkaan bertentangan dalam karakter yang seharusnya, yaitu menjadi serupa dengan karakter Kristus itu sendiri (2 Korintus 5:17). Untuk terbatas dari kemurkaan, orang-orang percaya membutuhkan pertolongan Roh kudus dalam menguduskan dan membersikan hati kita dari perasaan murka dan marah.

Definisi Murka Allah

    Di dalam Alkitab Murka Tuhan Allah sering di beritakan sebagai hukuman yang baru akan terjadi kelaka pada akhir zaman. Murka Allah bukan hanya dinyatakan kepada orang yang tidak mengenal Allah, bukan hanya kepada orang yang tidak bertuhan, melaikan juga kepada bangasa Israel, yang hidup dengan Tuhan, yang telah diberi hukum Taurat. Hal itu di sebabkan karena pikiran Israel juga telah di gelapkan oleh murka Allah, sehingga mereka tidak menganal Allah sehingga mareka tidak menganal kebenaran mereka sendiri (Rm. 10:3).[1] Jadi murka Allah yang dinyatakan kepada semua keturunan Adam dan yang juga menimpa Israel itu, bukan menjadi Israel melakukan hal-hal yang tidak pantas, melainkan menjadi israel ingin memperoleh keselamatan dengan amal-amalnya.

    Menurut Witness Lee, bahwa Yesus yang menyalamatkan manusia dari murka yang akan datang ( 1 Tes. 1:10), asalnya murka keadilan Allah, karena dosa manusia seperti bom waktu, menunggu untuk meledak di atas diri manusia. Sekarang Tuhan Yesus menurut tuntutan keadilan Allah, menerima hukuman murka Allah, lalu ia menebus dosa manusia, supaya manusia terhindar dari murka Allah pada masa yang akan datang.

    Alkitab berbicara tentang murka Allah dengan bahasa yang berintensitas tinggi ( Yes. 14:4, 6, 9; Yeh. 5:11-17). Ayat-ayat ini yang mendeskripsikan kemarahan Allah dapat di lipat gandakan hingga seratus kali. Bahkan di Wahyu, yang di tulis dalam genre apokaliptis, murka Allah di ekspresiakan dengan cara yang paling keras (wahyu 14).[2]

Perbedaan Murka Allah dengan Murka Manusia

Murka Allah

    Namun murka Allah jika di lihat dalam Alkitab bahwa di dalam kitab Roma 1:18. Paulus berbicara tentang Murka Allah yang telah dinyatakan (apokaluptetai) dengan cara yang persis sama seprti yang telah di katakan sebelumnya bahwa kebenaran Allah telah dinyatakan. Murka Allah bukan sesuatu luapan kemarahan yang sama seperti kemarahan manusia yaitu suatu luapan nafsu yang tak terkendali.[3] Oleh karena itu ada perbedaan dalam hubungan Allah yang dengan murka.

Paulus berbicara mengenai Murka Allah hanya tiga kali. Dalam Roma 1:18, Efesus 5:6 dan Kolose 3:6 dimana ia berbicara mengenai murka Allah dengan menimpa orang-orang durhaka. Tetapi seringkali paulus berbicara mengenai murka itu tanpa menyebutnya sebagai murka Allah, seolah-olah di tulis dengan huruf besar Murka itu sebagai suatu kekuatan yang sedang berlaku di bumi. Dalam Roma 3:5, terjemahan harfiahnya adalah “Allah menampakan murka”. Dalam Roma 5:9, ia berbicara mengenai di selamatkan dari murka itu. Dan dalam Roma 12:9, ia menasehatkan untuk tidak membalas dendam, tetapi menyerahkan orang yang berbuat jahat itu kepada murka itu. Dalam Rom 13:5, ia berbicara mengenai murka itu sebagai suatu dorongan, supaya orang tetap taat. Dalam Roma 4:15, ia mengatakan bahwa hukum Taurat membangkitkan murka itu. Dan 1Tes. 1:10, ia mengatakan Bahwa Yesus yang membebaskan manusia dari murka yang akan datang itu.[4] Sekarang, ada sesuatu di sisni yang cukup aneh. Paulus berbicara mengeani murka itu, dan sekaligus dari murka yang sama itulah Yesus yang menyalamatkan manusia. Kemurkaan Allah adalah tanggapan-Nya terhadap sesuatu yang pada dasarnya melawan kodratnya. Kemurkaan Allah tidak kejam melainkan adil.[5]

Murka Manusia

    Murka Allah jika diartikan lewat pemikiran manusia. maka, murka Allah bisa diartikan bahwa membawa dampak yang negatif bagi manusia atau seseorang yang bisa membuatnya sial ataupun bencana dan masalah yang diluar kendali manusia. Murka manu
sia sangat beda jauh dengan murka Allah karena amarah manusia lazimnya bersifat egois, sedangkan murka Allah tidak lepas dari kerinduannya akan kebahagiaan obyeknya, yakni manusia.[6]

    Menurut pemahaman “Fiman Menampakan Diri dalam Rupa Manusia” Tanpa murka Tuhan, manusia akan turun kedalam kondisi hidup yang tidak normal, dan semua hal yang adil, indah, dan baik akan di hancurkan dan tidak akan ada lagi. Tanpa murka Tuhan, hukum dan aturan keberadaan bagi makluk ciptaan manusia, Tuhan Telah terus menerus menggunkan watak benar-Nya untuk menjaga dan memelihara keberadaan normal untuk manusia.

    Dalam Alkitab berulangkali dijelaskan bahwa Allah “Murka” atas manusia yang menetang Tuhan (Keluaran 4:14; Ayb 42:7; Ul. 29:23; Rm. 1:18), tetapi murka Allah yang di maksudkan di sini, tidak sama dengan murka manusia. Murka Allah “tidak setujuan” Allah terhadap perbuatan manusia atas dasar pertimbangan yang benar-benar dituntut oleh keadilan dan kekudusannya. Kemurkaan Allah menuntut manusia kepada pertobatan yang sungguh-sungguh dan kesedian untuk tidak melakukan/berbuat dosa lagi ( Yoh. 4:1-42; 8:1-11). Allah mencari manusia dengan penuh kasih dalam kristus datang kedalam dunia untuk orang berdosa, orang-orang yang dalam masyarakat karena dosanya.[7]

    Murka diartiakan sebagai “Respon emosional atas sesuatu yang salah atau ketidakadilan”. Seringkali juga diibaratkan sebagai “kemarahan,” “kejengkelan,” “kekesalan,” atau “kegeraman.” Baik manusia ataupun Allah bisa mengekspresikan kemurkaan. Namun ada perbedaan jauh antara murka Allah dengan murka manusia. Murka Allah itu pasti kudus dan benar; sementara murka manusia tidak pernah kudus dan jarang benar.

Dampak Murka Allah dalam PL dan PB

Murka Allah dalam PL

    Dalam hukuman besar yang segera datang (Zef. 1:2-3:7) dan harapan akan keselamatan kelak (Zef 3:8-20). Selain seruang singkat untuk bertobat dalam 2:1-3, Zef 1:2-3:7 tetap menenkankan murka Allah. penghukuman Allah secar universal akan membawa dampak yang sedahsyat air bah pada masa Nuh (keajadian 6).[8] Zefaya melukiskan murka Allah yang menyala-nyala dengan cara yang hampir tidak ada bandingannya dalam Alkitab.

Segala sesuatu pasti ada dampaknya bagi diri sendiri begitu juga jika Allah murka kepada umatnnya. Dalam Perjanjian Lama murka Allah datang kepada Uza, Dalam PL kematian mendadak atau petaka yang mendadak dimengerti sebagai penyataan amarah/murka Allah dan dicarikan alasannya, seperti pada waktu Uza menyetuh Tabuh perjanjian dengan tangan yang najis (2Sam. 6: 7).[9]

Murka Allah dalam PB

    Dalam Perjanjian Baru juga berbicara tentang hari amarah, yaitu hari penghakiman mutlak (Matius. 25: 31-45).[10] Dampak dari keseluruhan murka Allah lebih penting dari perincian kejadiannya secara terpisah-pisah. Pada hal dalam Perjanjian Baru banyak di kemukakan tentang murka Allah terhadap dosa. Pada waktu paulus berkata dalam kolose 3:6 bawa murka Allah akan datang, tentu yang di maksudkan-Nya lebih dari pada bahwa hukum pembelasan akan datang.[11]

    Dalam kitab-kitab injil hanya terdapat satu pernyataan lansung mengenai murka Allah. dalam Yohanes 3:36 Yesus menegaskan bahwa murka Allah tetap di atas mereka yang tidak taat kepada anak, dalam hal ini murka Allah di hubungkan dengan kasih Allah kepada anak-anaknya. Dalam Wahyu 14:10 penghakiman di gambarkan sebagai anggur murka Allah yang di tanggukan kedalam “cawan murkaNya”, dengan gagasan ini di kembangkan lebih lanjut ketika melaikat penuai meleparkan anggur itu kedalam “kehilangan besar, yaitu murka Allah” (Wahyu 14:19).[12] Penglihatan ini menggambarkan murka Allah yang menakutkan yang tidak mungkin di tiadakan. Demikian juga dengan tujuh cawan yang di sebut sebagai murka sebagai anak Domba; jelas hal ini menghubungkan murka itu dengan salib dan menetapkan perwujudannya dalam sejarah.

Hubungan Kasih dengan Murka Allah

    Menurut Dodd, Walaupun ia berbicara menenai murka Allah, ia tidak pernah bicara mengenai Allah murka. Oleh karena itu ada perbedaan dalam hubungan Allah yang kasih dengan Murka.[13] Timbul peranyaan bahwa, bagimana hubungan “murka” ini dengan “kasih” Tuhan, jelaskan pengertian murka tidak mungkin lepas dari pengertian kasih, bahkan harus di tafsirkan di dalam terang kasih itu.[14]

    Perlu disadari bahwa dalam membicarakan “kasih”, “Murka” Tuhan, kita memang memakai bahasa kiasan. Bertolak dari pengalaman yang timbul dan pergulangan antar manusia, kita membahasakan pengalaman diri sendiri mengenai Tuhan.[15] di simpulkan bahwa murka dengan kasih adalah suatu interaksi yang tidak lepas antara menusia dengan satu yang lain.

    Kasih Ilahi pasti jauh melebihi kasih manusiawi, maka lebi dari murka Tuhan lain dengan amarah manusia lazimnya bersifat egois, sedangkan murka Allah yang tidak lepas dari karinduannya akan kebahagiaan obyeknya, yakni manusia.[16] Sebanarnya kasih dan kemarahan sama sekali tidak bertentangan karena kita jarang sekali marah atas sesuatu atau orang yang terhadapnya kita tidak menaruh perhatian yang dalam. Hal yang sama berlaku bagi pandangan profetis tentang murka Allah. ia marah kepada Israel karena ia memperhatikannya dan telah memilihnya.[17] Dalam 1 Yohanes merumuskan bagaiman rupa kasih itu atau apa yang dibuatnya.[18]

    Jika kita membaca di 1 Yohanes 1: 9 mengatakan bahwa: “jika kira mengaku dosa kita, maka ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita”. Tetapi jika kita melihat di terjemahan Alkitab sederhana mengatakan bahwa “tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, maka sesuai dengan janjinya, Allah yang sangat adil dan setia itu pasti mengampuni kita dan membersihkan hati kita dari setiap perbuatan jahat yang sudah kita lakukan.”[19]

    Murka Allah adalah suatu yang tindakan yang tidakadilan kepada umat manusia. Murka itu terbagi dua dalam Alkitab yaitu murka Allah dan murka manusia. Murka ini ciri emosianal dan kemarah dan sebaginya. sebagai orang percaya di dalam dunia kekristenan ini, konsep tentang murka Allah kadang menimbulkan reaksi yang kurang positif. Beberapa pihak menunjukkan keengganan ketika mencoba membahas doktrin tentang murka Allah karena doktrin ini dianggap bisa menyebabkan keresahan dan bersifat tidak toleran. Di zaman ini, kita lebih sering dan lebih terbiasa mendengar tentang Allah yang kasih, baik, dan peduli terhadap manusia.

    Dalam hal ini penting bagi kita untuk memahami murka Allah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sifat Allah yang kudus dan adil. kita sebagai orang percaya mengerti apa itu murka Allah? Murka Allah itu kemarahan Allah yang disadari pertimbangan yang benar-benar mantang yang memancar dari kekudusannya. Murka Allah bukanlah permusuhan yang timbul dari hati yang jahat, melaikan kemarahan yang benar dan tempatnya

Kesimpulan

    Murka Allah adalah ketidakadilan. Murka Allah juga di pahami sebagai suatu reaksi Allah pada suatu tindakan dosa atau tindakan kejahatan manusia. Allah tidak pernah berkopromi dengan dosa karena itu ia akan selalu menghukum setiap tindakan tercela khususnya penyembahan barhala yang masih di partekkan sekarang ini. karena itulah jemaat tidak boleh terpengaruh dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan penyembahan kepada berhala, serta harus lebih mendekatkan diri pada Allah serta membangun iman yang setia, agar mendapat kehidupan yang terpelihara di dalam kasih Allah.

    Belajar dari teks Yeremia bahwa Allah tidak pernah mentolerir dosa, dan menghacurkan perbuatan dosa di dalam diri setiap manusia, yakni mematikannya dengan kasih karunia-Nya dan meyembuhkan kita kembali dari hal-hal yang jahat, sebesar apapun itu.




DAFTAR PUSTAKA

Albata, Alkitab Perjanjian Baru dalam Terjemahan Sederhana Indonesia, (Jakarta: Yayasan Alkitab Bahasa Kita, 2015)

Berclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: surat Roma, ( Jakarta: Gunung Mulia 2007)

Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008)

Guthrie, Donald, Teologi Perjanjianbaru 1: Allah, Manusia, Kristus, (Jakarkata: Gunung Mulia 2008)

Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006)

Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta : Gunung Mulia, 2007)

Iswara Rintis Purwantara, Sepuluh Ajaran yang Keliru Tentang Kasih ( Yogyakarta : Andi 2018)

I.J. Cairns, Tafsiran Alkitab: Kitab Ulangan Pasal 1-11, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008)

Lasor, W,S. Perjanjian Lama 2 (Jakarta : Gunung Mulia 2003)

Novi Huang, Allah yang Berkarya, (Jakarta : Gunung Mulia 2009)

Tony Evas, Teologi Allah: Allah Kita Maha Agung, (Malang: Gandum Mas, 1999)

W. R. F. Browning, Kamus Alkitab(A Dictionary of The Bible): Panduan Dasar ke Dalam Kitab-kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istilah Alkitabiah, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007),







No comments:

Post a Comment

Jika anda Ingin Membantu pelayanan ini, silahkan kirimkan bantuan anda dengan menghubungi email charinmarbun@gmail.com. Jika anda diberkati silahkan Tuliskan dalam komentar. Jika ada pertanyaan dan permohonan Topik untuk dibahas, silahkan tuliskan dikolom komentar. Terimakasih sudah membaca, Tuhan Yesus memberkati selalu.