IMAN LINTAS GENERASI

 IMAN LINTAS GENERASI

(ULANGAN 6:4-9)



 

 

BACALAH BERSAMA ULANGAN 6:4-9

 

Pendahuluan:

Apakah yang paling membahagiakan pada masa Tua Kita??

Rumah Besar? Menjadi Kaya? Mobil banyak? Sehat masa tua? Punya anak banyak??

Apa yang paling membahagiakan bapak ibu saudara setelah Tua Nanti??

Menurut saya hal paling membahagiakan pada masa Tua nanti adalah Ketika anak-anak kita, dan cucu-cucu kita berjalan Bersama kita ke gereja dan beribadah Bersama, berdoa Bersama dan memuji Tuhan Bersama sama kita. Betul??

Untuk apa mobil banyak, untuk apa rumah besar, untuk apa kaya? Kalo di masa Tua akhirnya anak-anak kita, dan cucu-cucu kita tidak lagi bisa Bersama kita.

 

Bapa, ibu saudara,  semua. Thema khotbah hari ini adalah Iman Lintas Generasi  yang artinya dari generasi kepada generasi.  Thema ini diambil dari teks firman yang tertulis dalam Ulangan 6: 4-9.  

 

Nah  Bapa, ibu saudara,  semua apa yang dapat kita belajar dari firman Tuhan ini. Ada 2 poin utama yang kita belajar sehingga apa yang menjadi tema khotbah ini bisa terjadi yaitu Iman lintas Generasi Yaitu:

 

1.     Mengasihi Tuhan

 

Firman ini disampaikan oleh Musa kepada bangsa Israel supaya mereka mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan mereka. Di dalam ayat yang keempat adalah pengakuan iman daripada bangsa Israel. Oleh karena itulah Musa menyerukan di dalam Ayat 4: Dengarlah Hai Orang Israel: TUHAN ITU ALLAH KITA, TUHAN ITU ESA. Inilah Iman orang bangsa Israel, mengakui TUhan sebagai Allah mereka, sebagai Raja mereka. Sehingga dengan pengakuan itu, maka berikutnya mereka diperintahkan  harus mengasihi Tuhan dengan keseluruhan hidup mereka.

Demikian juga bagi kita semua Bapa, ibu saudara,  , kita harus menjadi generasi yang mengasihi Tuhan. Mari memastikan diri kita menajdi orang-orang yang mengasihi Tuhan. Orang orang yang dekat dengan Tuhan. Orang orang yang rindu selalu akan terhubung dengan Tuhan.

 

2.     Mengasihi Sesama

 

 Dalam ulangan 6:6-9 musa Selanjutnya berkata Iman ini tidak boleh berhenti hanya kepada generasi musa tersebut, tetapi harus diteruskan ke generasi berikutnya yaitu anak cucu mereka dengan mengajarkannya Iman/kepercayaan itu kepada anak cucu mereka secara berulang-ulang, Ketika duduk, Ketika dalam perjalanan, Ketika berbaring atau bangun. Artinya Iman itu harus diteruskan dengan mengajarkannya di dalam segala situasi. 

 

             Mengasihi sesama.  Orang yang mengasihi sesamanya akan menjadi teladan bagi sesamanya, teladan bagi teman-temannya. Orang yang mengasihi sesamanya Akan mengajar orang-orang di sekitarnya untuk mengasihi Tuhan. Dengan demikian generasi di sekitar kita akan menjadi generasi yang mengasihi Tuhan.l/

 

Mari Bapa, ibu saudara,  semua, kita menjadi generasi yang mengasihi Tuhan dan menjadi generasi yang mengasihi Sesama. Maka iman itu, akan terus bersinar dari generasi-kepada generasi, iman itu akan terus bersinar hingga lintas generasi, kepada anak kita, kepada cucu kita, kepada cicit kita.

 

Kesimpulan:

 Bapak Ibu saudara Mari menjadi orang-orang yang mengasihi Tuhan dan mengasihi Sesama kita. Orang yang mengasihi Tuhan akan bersinar kasihnya kepada sesama. Sesame bisa berarti anak cucu kita, sesame bisa berarti keluarga kita, sesama bisa berarti tetangga kita, sesama bisa berarti sahabat-sahabat kita, teman-teman kita dan semua orang yang terhubung dengan Kita.

Sebagai penutup, mari kita membaca apa yang di saksikan oleh Raja Daud dalam pengatamannya, dalam Mazmur 37:25, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benat ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

 

Sharing:

1.     Apakah anda adalah orang yang mengasihi Tuhan? Jika ya, jelaskan! Jika tidak, jelaskan mengapa?

2.     Bagaimana anda memancarkan kasih Tuhan kepada sesama?

3.     Apakah anda bisa menjadi teladan dalam mengasihi Tuhan bagi orang-orang di sekitar anda? Dengan cara apa, Jelaskan!

 

Penutup:

-       Nyanyi lagu , Ku mau SpertiMu Yesus.

-       Semua Jemaat saling mendoakan satu dengan yang lain.

PENTINGNYA MENGAMPUNI

PENTINGNYA MENGAMPUNI


    Refleksi hari ini adalah bagaimana pengampunan itu menjadi sangat penting di dalam kehidupan orang percaya.  Pertama, Pengampunan berhubungan erat kaitannya antara kita dengan Tuhan.  Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, ia sudah bertobat dan menerima pengampunan, namun naturnya sebagai manusia masih tetap.  Oleh karena itu, secara realita pengampunan masih tetap diperlukan, karena manusia masih terus saling mengampuni, karena masih selalu saling menyakiti dan melakukan kesalahan.  Pengampunan berhubungan dengan natur manusia sebagai makhluk yang berelasi yang menjadi kebutuhan dari manusia itu.  Jika dengan Allah saja kita bisa terputus hubungannya dan melanggar kehendaknya, terlebih jika dengan sesama.  Dalam hubungan sesama manusia tidak bisa dielakkan bahwa setiap orang membawa pandangan negative dari dirinya sendiri, sehingga ketika seseorang menyampaikan/melakukan sesuatu sekalipun hal itu positif maka kita terkadang menangkapnya negative. Oleh karena itulah, pertentangan, perbedaan dan ketidaksepahaman ada sesuatu tindakan yang tidak dapat dielakkan.  Oleh karena itu sering hal ini menjadikan kita sakit hati, kepahitan dan tidak mengampuni.  Hal inilah yang secara pribadi juga terkadang saya lupa, bahwa dalam setiap hubungan kita pasti selalu terjadi perbedaan dan konflik.  Namun kesadaran akan hal ini terkadang lupa sehingga membuat saya secara pribadi mempertahankan ego dan pendapat sendiri.  Padahal terkadang sering saya menyadari di dalam setiap konflik yang ada, jika bukan saya yang merasa kecewa, maka orang yang berlawanan dengan saya tersebut yang kecewa.  Maka dari itu, seharusnya hal ini membawa kita kepada kesadaran, bahwa perbedaan pemahaman dan konflik bisa saja terjadi setiap hari.  Saya juga menyadari bahwa orang-orang di sekitar saya bisa saja melaklukan hal yang mengecewakan saya, bisa saja membuat saya sakit hati, namun saat ini pilihan di tangan saya apakah saya akan memilih mengampuni mereka yang menyakiti, mereka yang mengecewakan atau justru memilih sakit hati dan mempertahankan sakit hati itu sehingga hal itu memang menjadi bagian dari diri saya.  Tentulah melalui ini, maka saya akan memilih untuk terus mengampuni, mengampuni dan mengampuni oleh karena melaluinya saya dapat disembuhkan dan dipulihkan.  Hal ini juga mengahruskan saya untuk mengampuni, disamping itu perintah Tuhan, sebab tidak mengampuni juga merupakan sebuah penyakit karena berdasarkan penelitian 61 % orang yang mengidap kanker mengalami masalah kemarahan dan kebencian.  Hal ini memberikan kepada saya secara pribadi kesadaran bahwa menyimpan kemarahann dan kebencian mendatangkan penyakit.  Terkadang sering saya juga menyimpan kemarahan karena tidak berani menyampaikan kepada orang tersebut bahwa saya tersakiti melalui perkataan, sikap seseorang tersebut, sehingga lebih sering menyimpannya dan meluapkannya ketika berdoa dan membaca mazmur seperti Daud.  Dengan kesadaran bahwa Menyimpan sesuatu dan tidak bisa mengampuni, maka Marah dan benci akan mendatangkan ketidakdamaian di hati, dan hal itu mendatangkan penyakit, maka saat ini saya secara pribadi akan lebih terbuka, dan lebih memilih untuk mengampuni dari pada menyimpan amarah dan kebencian.  Kesadaran bahwa setiap orang pasti melakukan kesalahan terhadap kita, dan kita juga melakukan kesalahn terhadap orang lain maka kita harus mengampuni.

 

Teratur Membaca Alkitab



Teratur membaca Alkitab


Menurut KBBI, kata teratur merupakan sesuatu yang sudah diatur dengan baik dan dilakukan secara berturut-turut.[1] Hidup secara teratur bisa juga dikaitkan dengan hidup yang disiplin. Seseorang yang melakukan segala sesuatu dengan teratur, artinya ia mampu menjalani hidupnya dengan baik.[2] Teratur membaca Alkitab dapat di katakan di mana seseorang mampu mengatur waktunya dan mampu membaca Alkitab dengan berturut-turut sesuai dengan jadwal yang sudah di atur. Membaca Alkitab dengan teratur merupakan sebuah kegiatan pendisiplinan diri yang sangat baik sebagai orang percaya. Ketika seseorang mampu dengan teratur melakukan pembacaan Alkitab dan ia menyadari betapa pentingnya untuk membaca Alkitab, secara tidak langsung akan ada sebuah “kebiasaan” yang terbangun. Sehingga dengan kebiasaan itu yang akan membawanya kepada perasaan terus bergantung kepada firman Tuhan.[3] Dengan terus teratur membaca kebenaran Firman Tuhan maka seorang anak akan mampu mengenal Tuhan dan mengenal kebenaran.[4]

Dalam beberapa penelitian, ternyata tidak begitu banyak presentase orang percaya yang mampu membaca Alkitab secara teratur secara khusus di kalangan anak-anak muda.[5] Bahkan tidak sedikit juga banyak orang yang menjadi pembacaan Alkitab sebagai suatu sarana untuk membawa ia tidur. Hal ini cukup miris secara khusus bagi anak-anak ada masa kini.

Teratur Berdoa

Doa merupakan sebuah hubungan antara manusia dan Allah untuk saling berkomunikasi. Ketikaseseorang berdoa artinya ia sedang berhadapan langsung dengan Allah.[6] Oleh sebab itu merupakan sebuah hubungan yang cukup vital dan personal dengan Tuhan. Doa juga dikatakan seperti darah yang mengalir dalam iman kepercayaan bagi setiap orang percaya,[7] dan doa tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan orang-orang percaya. Bahkan ada juga yang melihat bahwa seluruh kehidupan beriman itu merupakan suatu kesatuan hidup berdoa.[8]

Menyadari betapa pentingnya doa bagi orang percaya, oleh sebab itu perlu adanya kesadaran untuk melakukan disiplin doa secara teratur. Dalam mendisiplin diri untuk berdoa perlu adanya pengorbanan dan menyediakan waktunya untuk berdoa.[9] Mekipun manusia telah diberikan waktu 24 jam, masih akan sangat sulit untuk beberapa orang memberi sedikit saja waktunya untuk berdoa. Perlu menjadi hal yang diperhatikan di mana sikap hati yang malas berdoa merupakan sebuah dosa yang menyebabkan seseorang terhalang untuk mengenal Yesus lebih dalam.[10]

J.C. Ryle mengatakan bahwa kekristenan sesorang Kristen yang suka berdoa akan lebih nyata dibandingkan mereka yang tidak suka berdoa.[11] Artinya adalah ketika seseorang membangun hubungannya dengan Tuhan secara dalam melalui berdoa, maka akan ada perubahan secara signifikan yang dilihat di dalam dirinya. Oleh sebab itulah dalam teratur berdoa, perlu sekali untuk memeriksa hatinya apakah ketika ia memberi waktu untuk berdoa tidak hanya sebuah rutinitas belaka. Perlu di sadari bahwa doa yang sejati bukanlah doa yang sekedar cukup memberikan waktunya tetapi doa yang sejati adalah di mana seseorang mengerti bahwa ketika ia membangun mezbah doa adalah karena ia mengasihi Allah.[12]

Di dalam kehidupan berdoa juga perlu adanya sebuah perubahan. Menurut Foster dalam bukunya “Berdoa berarti mengubah”.[13] Artinya di dalam berdoa perlu adanya kesadaran seseorang untuk tidak hanya sekedar datang kepada Allah lalu meminta berkat dan menyatakan apa yang di alami namun juga adanya kesadaran untuk berubah dari kehidupan yang lama kepada kehidupan yang dikehendaki oleh Allah.



Teratur Pelayanan

Pada hakikatnya, manusia tidak dapat terpisahkan dengan dunia pelayanan bahkan dimulai sejak lahir bahkan sampai meninggal duniapun, manusia akan selalu saja berada dalam proses pelayanan baik itu dilayani ataupun melayani.[14] Di dalam kehidupan orang percaya juga tak terlepas dari yang dinamakan pelayanan. Seorang yang mau memberi diri untuk melayani menyadari bahwa betapa besarnya kasih Tuhan bagi mereka. Dalam kehidupan pelayanan, perlu disadari bahwa pelayanan adalah sebuah anugerah. Di mana dalam pelayanan kita yang sebenarnya tidak layak diperkenankan dan diizinkan untuk melayani Dia.[15] Namun karena begitu besarnya anugerah Allah, kitapun diperkenankan dan dilayakkan untuk bisa melayani Dia.

Dalam melayani, seseorang harus haruslah dengan jalur dan jalannya Tuhan.[16] Artinya adalah dalam melakukan sebuah pelayanan perlu untuk menjadikan Yesus sebagai teladan yang baik. Dapat dilihat bagaimana Yesus selama Ia berada di bumi. Salah satunya adalah pelayananNya diutamakan kepada penginjilan.[17] Orang-orang percaya yang melayani, perlu memperhatikan hal ini. Di dalam melakukan pelayanan, tujuan utama adalah memberitakan injil bukanlah untuk keperntingan pribadi atau mencari uang.



Teratur Beribadah

Dalam bahasa Yunani kata “ibadah” merupakan “proskuneo” yang diartikan sebagai tanda penghargaan dan pernghormatan dengan cara berlutut dan mencium tanah, hal ini dilakukan untuk menyatakan rasa hormat atau membuat permohonan kepada Allah.[18] Dengan beribadah juga, perasaan hampa dari manusia seakan terpenuhi, karena menurut salah satu pakar mengatakan bahwa di dalam hidup manusia Allah sengaja menciptakan sebuah lubang yang hanya bisa diisi oleh Allah itu sendiri.[19] Sehingga setiap orang yang merasakan adanya kekurangan pasti menyadari betapa pentingnya dirinya untuk diisi oleh Allah.

Dalam melakukan ibadah, tidak terlepas dari penyembahan. Sebuah penyembahan yang benar berasal dari hati yang sungguh-sungguh dan tulus dan sebuah penyembahan berarti mengalami realitas yang mampu menyentuh seluruh kehidupan seseorang. Sehingga melalui penyembahan seseorang mampu lebih dalam mengenal, merasakan serta mengalami kehadiran Kristus di dalam ibadahnya.[20] Seseorang yang melakukan penyembahan kepada Tuhan perlu memiliki motivasi yang benar sehingga ia bisa benar-benar menghadirkan Allah di dalam ibadah penyembahnya. Penyembahan dan ibadah yang murni adalah ketika fokus utama adalah kepada Tuhan saja.[21]







[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia.

[2] M. Noor Said, Hidup Teratur Dengan Jujur dan Disiplin (TK: ALPRIN: 2020), 39.

[3] Watchman Nee, Cara Membaca Alkitab (__: Yasperin, 2020).

[4] Indra instutute

[5] Verne Becker, et all, Muda-Mudi, Inilah Jawabnya.(Jakarta: Gunung Mulia, 2002), 57.

[6] Harison J Ompusunggu, 100 Renungan Doa: Menjadikan Doa Lebih dari Sekedar Rutinitas (Yogyakarta: ANDI, 2013), 41.

[7] Theo Riyanto, Mari Belajar Berdoa (Yogyakarta: PT Kanisius,2019), 5.

[8] Liem Khiem Yang, Jemaat Berdoa (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), 7.

[9] Hope Macdonald, Belajar Berdoa: 9 Langkah untuk Berdoa dengan Baik (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 26.

[10] Ibid, 27.

[11] Harison J Ompusunggu, 100 Renungan Doa: Menjadikan Doa Lebih dari Sekedar Rutinitas (Yogyakarta: ANDI, 2013), 41.

[12] Witness Lee, Doa (__: Yasperin, 2019).

[13] Richard J. Foster, Tertib Rohani: Sudahkah Anda Menapakinya? (Malang: Gandum Mas, 1996), 54..

[14] Rudi Bastaman, Great Servise, Get Happiness: 4 Tips Melayani dengan Hati yang Hebat dan Membahagiakan (Yogyakarta: Budi Utama, 2020), 73.

[15] Watchman Nee, Seri Pembinaan Dasar: Konsikrasi (__: Yasperin, 2020).

[16] Witness Lee, Standar Perkataan Sehat (4): Pelaksanaan Jalan Baru (TK: Yasperin, 2020).

[17] Makmur Halim, Model-model Penginjilan Yesus: Suatu Penerapan Masa Kini (Malang: Gandum Mas, 2018), 42.

[18] Rifai, Gemar Belajar Agama Kristen-Jilid 1: Buku Penunjang Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (Sukoharjo: BornWin’s Publishing, 2019), 1.

[19] Jeremia Rim, Iman dan Ibadah Yang Otentik (Yogyakarta: ANDI, 1994), 57.

[20] Richard J. Foster, Tertib Rohani: Sudahkah Anda Menapakinya? (Malang: Gandum Mas, 1996), 231.

[21] Dimin Bansai, Menjadi Penyembahan Sejati (__: Lulu, 2012), 25.