Makna Langit yang Baru dan Bumi Yang Baru
MAKNA LANGIT YANG BARU DAN BUMI
YANG BARU
(WAHYU 21:1)
Pendahuluan
Wahyu adalah tulisan dari Rasul
Yohanes, yang diterima dari Yesus Kristus[1] di
pulau Patmos.[2] Surat ini ditujukan kepada ketujuh jemaat
yang ada di Asia Kecil[3]dimana
daerah itu dikuasai oleh kekaisaran Romawi yang sangat kejam.[4] Di tengah penderitaan yang sedang dialami
oleh umat Kristen pada masa itulah kitab ini dituliskan yang akan memberi
pengharapan yang baru bagi mereka. Salah
satu dari isinya adalah mengenai langit yang baru dan bumi yang baru.
Dalam makalah ini penulis akan
mengungkapkan apa yang menjadi makna dari “langit yang baru dan bumi yang baru
menurut kitab Wahyu dengan melihat beberapa catatan dalam Perjanjian Lama dan
mitologi berkaitan dengan “langit yang baru dan bumi yang baru”.
Makna Dalam Perjanjian Lama
Lokasi
Penggunaan istilah “langit yang baru
dan bumi yang baru” ditemukan dalam Perjanjian Lama sebanyak 2 kali (Yesaya
65:17; 66:22). Hal ini menunjuk kepada
pergantian dari surga yang pertama dan bumi yang pertama yang telah berlalu
secara tiba-tiba dan penuh teka-teki.[5] Hal ini berarti langit dan bumi yang ada
sekarang ini akan berlalu dan kemudian akan digantikan dengan langit dan bumi
yang baru.
Personifikasi
Secara eksplisit “langit yang baru
dan bumi yang baru” selalu dikaitkan dengan Yerusalem yang baru. Nabi-nabi Perjanjian Lama jika berbicara
mengenai bumi yang baru, maka sekaligus mereka berbicara tentang Yerusalem yang
baru (Yes. 65:17-18).[6] Hal ini juga menunjuk kepada kota yang
didiami oleh penduduk yang penuh dengan sorak-sorai dan kegirangan.
Walvoord dalam
tulisannya yang keempat mengenai doktrin millennium mengatakan bahwa:
The Old Testament, however, also
records promises to saints which are individual in their character. They for
instance, are promised resurrection (Job 19:25–27; Isa 26:19–20; Dan 12:2–3).
Along with the promise of their resurrection is the promise of reward such as
characterizes God’s dealings with the saints in eternity (Dan 12:3; Mal 3:16–17). In a few instances these promises specifically
are related to the new heaven and new earth and constitute a description of the
eternal state which follows the millennium (Isa 65:17-18, 66:22). From these passages it is evident that the
millennial reign of Christ on earth as such is not the ultimate hope of the
resurrected saints, but rather of the saints who enter the millennium in their
natural bodies and who are fitted for the earthly scene.[7]
Hal
yang sama juga dikatakan oleh Stedman, ia mengatakan bahwa Perjanjian Lama yang
memberi nubuat mengenai “langit yang baru dan bumi yang baru” tidaklah berbicar
mengenai sorga tetapi mengenai kerajaan seribu tahun yang mendahuluinya.[8] Jadi Perjanjian Lama memberi arti terhadap
“langit yang baru dan bumi yang baru” sebagai pemerintahan kerajaan Allah yang
berpusat di Yerusalem.[9]
Mitologi
Lokasi
Beberapa
catatan literatur non biblika memberikan arti terhadap “langit yang baru dan
bumi yang baru” sebagai penyucian moral dan bukan pembaharuan jasmani, meskipun
pemulihan jasmani harus diikutsertakan. Hal
ini ditulis di dalam 1
Henokh 45:4-5 dan 2Esdras 7:75 (bandingkan dengan 2Barukh 32:6; 1 Henokh 72:1;
91 :16), dimana digambarkan sebagai keadaan awal manusia ketika
sebelum diusir dari taman Eden.[10]
Di dalam
1 Henokh 45:4, berbicara mengenai tranformasi surga.[11] Di dalamnya dikatakan bahwa akan ada masa
kebangkitan secara umum dan penghakiman oleh Allah dan dunia akan berhenti dan
kematian akan berakhir dan surga akan menutup mulutnya. Pada saat itulah akan langit yang baru dan
bumi yang baru, sebagai tempat tinggal yang kekal.[12] Hal yang sama juga diungkapkan dalam
Jubilees, dimana akan ada dunia yang baru ketika langit dan bumi diperbaharui
sesuai dengan kuasanya.[13]
Makna “Langit yang Baru dan Bumi yang Baru dalam Kitab Wahyu
Dalam teks asli Wahyu 21:1 berbunyi
demikian: “Καὶ εἶδον
οὐρανὸν καινὸν καὶ γῆν καινήν· ὁ γὰρ πρῶτος οὐρανὸς καὶ ἡ πρώτη γῆ ἀπῆλθαν, καὶ
ἡ θάλασσα οὐκ ἔστιν ἔτι.” Kata “baru”
yaitu “καινὸν” tidak berarti “ yang lain” melainkan
“sesuatu yang baru”.[14] Hal ini tidak berarti “serba lain” tetapi
akan tetap ada langit, tetap ada bumi, tetap ada materi/ bahan; hanya bahan
yang lain baru.[15] Bukan bahan debu tanah (Kej. 2:7), melainkan
bahan terang/kekal (Mat. 17:2).
Unsur-unsur baru sesuai dengan dunia yang baru menggantikan unsur-unsur
dunia yang sudah lenyap (2 Pet. 3:12).[16]
Beale
juga memiliki pendapat yang sama, ia mengatakan bahwa “kata “kainos” yang berarti baru biasanya
digunakan untuk mengindikasikan sifat di dalam terminologi dari kualitas, bukan
waktu.”[17] Sementara itu sifat didalam terminologi dari
waktu biasanya digunakan kata “neos”.[18] Oleh karena itu, “langit yang baru dan bumi
yang baru’ dalam hal ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, dimana langit
dan bumi yang pertama dihancurkan dahulu, baru kemudian diciptakan ulang. Tetapi hal ini lebih menunjuk kepada
pembaharuan apa yang telah ada (langit dan bumi yang sekarang). Heer mengatakan jika langit dan bumi diciptakan
benar-benar baru (bukan diperbaharui), maka ciptaan Allah yang pertama haruslah
disebut gagal untuk selama-lamanya.[19] Dalam hal ini penglihatan Yohanes hanyalah
melihat bumi, di mana berlangsung suatu keadaan yang sangat baru.
Kesimpulan
Berdasarkan
apa yang telah dijelaskan diatas mengenai “langit yang baru dan bumi yang baru”
maka penulis menyimpulkan makna dari pernyataan Yohanes ini adalah pembaharuan
dari langit dan bumi yang ada sekarang.
Langit dan bumi yang baru lebih kepada kualitas yang lebih baik di mana
langit dan bumi yang baru akan kekal selama-lamanya.
Saran
Setelah
mengetahui bahwa langit yang baru dan bumi yang baru adalah hasil dari
pembaharuan daripada langit dan bumi yang ada sekarang ini, maka penulis
menyarankan kepada semua umat kristen secara khusu dan semua umat manusia
secara umum untuk menjaga dan melestarikan alam (dunia) ini. Dengan menjaga dan melestarikan alam ini
berarti kita juga sedang mempersiapkan alam ini untuk tetap baru. Hal ini juga akan sangat menguntungkan bagi
kita yang berdiam di dalamnya.
Daftar
Pustaka
A.H. Mandey. Kitab
Wahyu:Nubuatan Akhir Zaman . Jakarta: Mimery Press,1999.
Aune, David E. World
Biblical Commentary(WBC): Revelation 17-22.
Washville: Thomas Nelson Publishes, 1998.
Beale, G. K. The New
International Testament Commentary (NIGTC): The Book of Revelation. United States of Amerika: Grands Rapids, Michigan/
Cambridge, 1999.
Charlesworth, James
H. The
Old Testament Pseudepigrapha Volume 2.
United States of America: Bantam Doubleday Publishing Group, 1985.
Davids, Peter H. Ucapan
Yang Sulit dalam Perjanjian Baru. Malang:
Departemen Literatur SAAT, 2000.
De Heer, J. J. Tafsiran
Alkitab Wahyu Yohanes. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996.
Hill, Andrew E daan
John H. Walton. Survei Perjanjian Lama ed. Revisi, diterjemahkan oleh Triyogo
Setyatmoko. Malang: Gandum Mas, 2013.
Scheuneman,Volkhard. Apa
Kata Alkitab tentang Akhir Zaman (t.k: YPPI, t.t), 60.
Stedman, Ray C. Gods
Final Word: Membedah Kitab Wahyu.
Batam: Interaksa, 2002.
Van Daalen, David
H. Pedoman ke Dalam Kitab Wahyu Yohanes. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Walvoord, John F. The
Doctrine of the Millennium Part IV: The Heavenly Jerusalem; Internet; Jurnal on-line: diambil dari https://www.galaxie.com/article/bsac115-460-01?highlight=new%20heavens%20and%20new%20earth
Diakses tanggal 02 November 2014.
[4] A.H. Mandey,
Kitab Wahyu:Nubuatan Akhir Zaman (Jakarta: Mimery Press,1999), 4. Kaisar-kaisar Romawi begitu kejam menganiaya
umat kristen. Banyak orang Kristen yang
dibakar hidup-hidup dan dijadikan pelita untuk penerangan di malam hari. Mereka diikat pada tiang-tiang di pinggir
jalan kota Yerusalem, disiram dengan minyak lalu dibakar, dan sebagian besar
mereka juga dilempar ke kandang singa-singa yang lapar.
[5] David E.
Aune, World Biblical Commentary(WBC):
Revelation 17-22 (Washville: Thomas Nelson Publishes, 1998), 1116.
[7] John F. Walvoord, The Doctrine of the Millennium Part IV: The Heavenly
Jerusalem; internet; jurnal on-line: diambil dari
https://www.galaxie.com/article/bsac115-460-01?highlight=new%20heavens%20and%20new%20earth
diakses tanggal 02 November 2014.
[9] Andrew E.
Hill daan John H. Walton, Survei
Perjanjian Lama ed. Revisi, diterjemahkan oleh Triyogo Setyatmoko (Malang:
Gandum Mas, 2013), 524.
[10] Peter H.
Davids, Ucapan Yang Sulit dalam
Perjanjian Baru (Malang: Departemen Literatur SAAT, 2000), 370.
[13] James H. Charlesworth,The Old Testament Pseudepigrapha Volume
2(United States of America: Bantam Doubleday Publishing Group, 1985), 54.
[17] G. K. Beale, The New International Testament Commentary
(NIGTC): The Book of Revelation (United States of Amerika: Grands Rapids,
Michigan/ Cambridge, 1999), 1040.
Comments
Post a Comment
Jika anda Ingin Membantu pelayanan ini, silahkan kirimkan bantuan anda dengan menghubungi email charinmarbun@gmail.com. Jika anda diberkati silahkan Tuliskan dalam komentar. Jika ada pertanyaan dan permohonan Topik untuk dibahas, silahkan tuliskan dikolom komentar. Terimakasih sudah membaca, Tuhan Yesus memberkati selalu.