STUDI EKSEGESIS TERHADAP TEKS PASANGAN TIDAK SEIMBANG YANG TERDAPAT DALAM 2 KORINTUS 6:14

Oleh: Iwan Gaho
BAB I
Pendahuluan
            Mendapatkan pasangan yang seimbang atau sepadan adalah impian semua manusia, karena dengan mendapatkan pasangan yang seimbang atau sepadan akan  menuntun kehidupan manusia kepada kemuliaan Allah.[1] Pasangan yang sepadan atau seimbang  pada dasarrnya memiliki kekuatan dalam segi-segi tertentu agar fungsi dari pasangan yang merupakan satu kesatuan yang telah ditetapkan Allah dapat terealisasikan.[2]
            Salah satu kisah di dalam Alkitab yang merupakan pasangan yang seimbang adalah Adam dan Hawa. Sebagai ciptaan yang diptakan sesuai dengan gambar Allah, Adam memiliki tanggung jawab yang besar. Dengan tanggung jawab yang telah diberikan oleh Allah, maka Adam membutuhkan penolong yang bisa menolongnya. Sebelum Allah menciptakan Hawa, Allah melihat bahwa tidak ada satupun diantara ciptaaan yang telah Ia ciptakan yang dapat dijadikan sebagai pasangan yang sesuai bagi Adam dalam menjalankan tujuanNya, hal ini lah yang kemudian mendorong Allah untuk menciptakan Hawa.[3]
            Di dalam kitab Kejadian 2:18, sangat jelas dituliskan bahwa Hawa diciptakan oleh Allah sebagai penolong atau pasangan yang seimbang. Hawa diciptakan tidak terpisah dari Adam oleh Allah, Hawa diciptakan dari sebuah rusuk yang diambil dari Adam. Hal ini menunjukkan bahwa Hawa dan Adam berasal dari satu sumber yang sama dengan tujuan yang sama.[4] Sebagai penolong yang sepadan atau seimbang berarti Hawa juga diberikan oleh Tuhan tanggunga jawab yang sama pentingnya dengan Adam.[5]
            Dengan dijadikanNya Hawa sebagai pasangan yang seimbang, berlangsunglah cinta yang mempersatukan kedua manusia tersebut dalam satu hubungan yang saling ketergantungan.[6] di dalam Kejadian 2:24, Allah menjelaskan bahwa pasangan yang seimbang yang dimaksudkan dalam hal ini ialah pasangan hidup atau lebih kepada suami istri. Dari keterangan-keterangan diatas telah menjelaskan bahwa maksud Allah menciptakan Hawa sabagai pasangan yang seimbang ialah menjadikan dia sebagai Istri yang sama derajatnya dalam melakukan kehendak Allah.[7]
Latar belakang masalah
            Pasangan yang seimbang merupakan satu pembahasan yang tidak ada habisnya, hal ini dikarenakan pasangan yang seimbang merupakan salah satu faktor penentu tercapainya satu tujuan dari Allah.  Pentingnya memiliki pasangan seimbang ini menjadi semakin jelas dengan didukungnya oleh tulisan daripada Rasul Paulus di dalam kitab 2 Korintus 6:14. Di dalam 2 Korintus 6:14 rasul Paulus mengatakan “ janganlah hendaknya kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya”.  Tidak hanya berhenti pada kalimat perintah tersebut, di ayat selanjutnya rasul Paulus menjelaskan beberapa alasan mengapa harus memilih pasangan yang seimbang ( 2 Korintus 6:14-16).
Topik pasangan seimbang dalam kisah penciptaan Hawa dan pasangan seimbang yang dimaksud oleh rasul Paulus tampaknya memiliki kesamaan di dalam tujuan, yaitu agar orang-orang percaya memilih pasangan yang seimbang.  Akan tetapi jika dilihat dari bentuk pasangan yang seimbang yang dimaksud dalam kedua teks tersebut, tampaklah suatu perbedaan. Perbedaan tersebut dikarenaka bentuk pasangan yang seimbang yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:14  tidak terlepas dari maksud Paulus sebelumnya ditulisan di dalam 1 Korintus 5:9.[8] Di dalam teks tersebut rasul Paulus mengatakan “ dalam surat ku telah ku tuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Pasangan seimbang yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam hal ini ialah pasangan seimbang dalam pergaulan dengan orang-orang yang ada dilingkungan jemaat Korintus pada saat itu dan tidak membahas kepada pasagan hidup atau pernikahan.
            Pasangan seimbang dalam pergaulan yang dimaksud oleh teks diatas mendapat dukungan dari buku yang ditulis oleh Jhone Drane, Jhon Drane mengatakan bahwa beberapa ahli sependapat bahwa teks 1 Korintus 5:9 yang diperjelas di dalam ayat yang kesebelas tetap terpelihara di dalam 2 Korintus 6:14.[9] Selain pandangan dari Jhon Drane, hal ini juga semakin diyakinkan oleh Pidyanto Gunawan Dalam buku Rubrik konsultasi iman. Pidyanto menjelaskan bahwa tujuan teks pasangan yang tidak seimbang dalam 2 Korintus bukanlah mengenai larangan menikah kepada orang yang beda agama atau non Kristen. Namun tujuan Paulus menuliskan teks ini ialah untuk melarang orang-orang percaya bergaul terlalu akrab dengan orang-orang atau penyembah-penyembah berhala yang ada dilingkungan jemaat Korintus pada masa tersebut.[10]
            Lebih jelas lagi dipaparkan oleh R. Kent Hughes, Maksud utama Paulus akan penulisan teks ini telah  terbukti selama berabad-abd,
       Paul was concerned about the enemy within — the unbelieving in the
church. And his warning command echoes down the centuries to us: “Do
not be unequally yoked with unbelievers” — that is, do not be allied with
unbelievers as to their teaching or way of life or false worship. This is not a
call to split theological hairs, seeing those who disagree with you as “unbelievers.”
Church history is tragically full of this. Neither is this a command
to bar unbelievers from the fellowship of the assembled church.[11]

            Menurut R. Kent Hughes tujuan Paulus dalam teks tersebut agar orang-orang percaya tidak dipengaruhi oleh pergaulan dan pengajaran dari orang-orang yang tidak percaya.
            Beberapa sumber atas beberapa pandangan diatas tidak menjadikan hal tersebut sebagai satu kebenaran yang dapat diterima atau dipahami oleh semua orang. Pada faktanya masih terdapat beberapa pandangan lainnya yang memberikan makna yang berbeda dari teks tersebut. Di dalam beberapa sumber terdapat beberapa pandangan yang mengatakan bahwa maksud dari pada teks tersebut mengacu kepada pasangan hudup atau pernikahan.    
Beberapa pandangan yang dimaksudkan dalam hal ini ialah seperti apa yang ditafsirkan oleh Bo Berry dalam bukunya. Bob Berry mengatakan bahwa pemakain istilah pasangan tidak seimbang dalam dalam teks tersebut memberi kesan bahwa seorang Kristen yang memilih pasangan yang tidak seimbang atau berpasangan dengan orang yang tidak percaya akan membuat perjalanan hidup seorang Kristen tersebut menjadi terhalang.
Tidak berhenti pada pernyataan tersebut, Bob Berry melajutkan dengan pernyataan bahwa wanita-wanita yang menikah dengan orang-orang yang tidak percaya akan membuat tangung jawab rohaninya semakin berat dan tidak seimbang.[12] Bob Berry mengarahkan pandangannya mengenai pasangan hidup dalam teks 2 Korintus 6:14 tersebut kepada pasangan hidup atau pernikahan.
Selain dari beberapa pandangan tersebut, Russel P. Spitter juga memberi pandangannya terhadap teks tersebut. Russel mengatakan bahwa bila tidak perlu, orang beriman hendaknya menghindari persekutuan dengan orang yang tidak beriman, oleh karena pasangan yang tidak seimbang dalam pernikahan ataupun dalam hubungan  kekerabatan dalam usaha perdagangan akan membawa siksa terhadap jiwa orang-orang beriman tersebut.[13] Dalam pernyataan ini dapat dipahami bahwa Russel memahami makna dari teks pasangan tidak seimbang ini dengan makna yang lebih luas, yaitu makna yang mengarah kepada pernikahan dan makna terhadap hubungan sesama dalam bidang bisnis.
Masalah lainnya muncul dari pernyataan yang di tuliskan oleh Raymond F. Collins di dalam buku Second Corinthians, ia mengatakan:
Particularly problematic for the interpretation of the passage are the first two significant expressions, “unevenly yoked” (heterozygountes) and “unbelievers” (apistois). The contextual issue is crucial to the meaning of these keywords. The first word is one of several terms in the passage that do not occur elsewhere in Paul’s writings—nor, for that matter, in any other NT text. The term is obviously metaphorical, but what does it mean in this context? Etymologically the term refers to mismatched animals whose different size and strength leads them to pull on a yoke in different ways.[14]
F. Collins mengatakan bahwa kalimat pasangan tidak seimbang dalam teks ini memiliki istilah metaforis, dan jika dilihat dari asal kata yang dipakai oleh Paulus hal ini menjadi hal yang membingungkan terutama dalam fungsi pemakaian kata. Secara etimologis istilah ini mengacu pada hewan yang tidak cocok yang ukuran dan kekuatan yang berbeda membuat mereka tarik sebuah kuk dengan berbagai cara.[15]
Dengan melihat beberapa pandangan teori yang berbeda dalam memaknai teks tersebut, maka tidak menutup kemungkinan akan terdapat beberapa perbedaan penerapan terhadap teks tersebut. Oleh sebab itu penulis juga mencatumkan beberapa sumber yang menunjukkan beberapa perbedaan penerapan terhadap teks pasangan tidak seimbang dalam 2 Korintus 6:14.
PERNYATAAN MASALAH
Beberapa pandangan yang berbeda dalam mengartikan makna pasangan tidak seimbang dalam teks 2 Korintus 6:14 telah menjadi satu permasalahan. Permasalahan yang muncul pada teks ini adalah apakah pasangan tidak seimbang dalam teks ini memiliki makna pasangan tidak seimbang dalam ruang lingkung pasangan hidup ataukah memilki makna pasangan tidak seimbang dalam ruang lingkup lingkungan masyarakat luas?
Pertanyaan Riset
1.         Bagaimana cara memahami kitab Korintus?
2.         Apakah maksud utama dari rasul Paulus mengenai pasangan tidak seimbang dalam 2 Korintus 6:14.
3.         Bagaimana relevansinya terhadap kehidupan keKristenan zaman sekarang?.
Pernyataan Thesis
            Pernyataan Thesis 2 Korintus 6:14 “Pasangan tidak seimbang” tidak sedang menjelaskan pasangan dalam situasi pemilihan pasangan hidup atau pernikahan. Teks ini sedang merujuk kepada pergaulan hidup dalam masyarakat luas secara khusus kepada jemaat di Korintus pada masa itu, oleh karena pada saat itu lingkungan jemaat di Korintus bercampur dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus. Pada masa kini terdapat beberapa orang yang memakai teks ini sebagai dasar untuk membahas pemilihan pasangan hidup atau pernikahan, sehingga melupakan tujuan Paulus yang sebenarnya dalam teks kitab teresebut.
Tujuan penulisan
            Penelitian yang dituangkan dalam karya tulis ini bertujuan agar dapat menemukan tujuan mula-mula dari penulisan frasa “Pasangan yang tidak seimbang” 2 Korintus 6:14 serta agar dapat mengajarkan kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Signifikasi Penulisan
            Signifikasi penulisan dari teks ini ialah, menambah wawasan penulis mengenai frasa  pasangan tidak seimbang dalam teks 2 Korintus 6:14 dan menambah literatur dalam dunia akademis mengenai frasa pasangan tidak seimbang yang terdapat dalam teks 2 Korintus 6:14. Signifikasi lainnya ialah memberi sumbangsih kepada hamba-hamba Tuhan, pengajar dan lainnya untuk lebih memperhatikan tujuan mula-mula penulisan frasa tersebut sehingga pengajaran yang disampaikan tidak berbeda dari tujuan awal penulisan teks terbut.
            Tidak hanya memberi sumbangsih kepada hamba-hamba Tuhan, pengajar atau pemimpin gereja lainnya, akan tetapi teks ini juga memberi sumbangsih yang baik kepada orang-orang percaya kepada Kristus dalam hal menjaga sikap pergaulan di masyarakat luas atau secara khusus dalam masyarakat yang beragam etnis.
Pembatasan Masalah
            Penulisan dari karya tulis ini hanya akan dipusatkan kepada penelitian frasa “ pasangan tidak seimbang” yang terdapat dalam kitab 2 Korintus 6:14.
Metodologi penelitian
            Di dalam melakukan penelitian terhadap teks ini penulis menggunakan Metode eksegesis, dan proses penelitian ini akan dilakukan oleh penulis di perpustakan Sekololah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka, Batam. Proses eksgesis yang akan dilakukan oleh penulis akan memakai pendekatan historico-gramatical.
           




BAB II
Memahami Kitab
Pendahuluan
            Secara keseluruhan isi dari kitab-kitab perjanjian baru sangat relevan dengan kehidupan di dunia modern ini. Namun walaupun demikian, ini tidak memberi artu bahwa perjanjian baru dapat dipahami dengan cara yang mudah. Hal ini dikarenakan latar belakang kehidupan Yesus dan Jemaat Kristen mula-mula berbeda dengan latar belakang kehidupan dunia modern ini.[16]
            Selain oleh karena latar belakang zaman yang berbeda, beberapa kitab dalam perjanjian baru juga memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Secara khusus kitab 2 Korintus, kitab ini dianggap memiliki isi yang lebih sulit untuk dipahami dibanding beberapa kitabnya lain. [17] Hal ini diungkapkan oleh Ben Witherington III, Ben mengatakan:   
2 Corinthians is one of the most difficult of Paul's letters for the interpreter because of the critical problems in regard to the letter's integrity and because some of the issues raised in the letter are so explosive.[18]

Kitab ini dinilai menjelaskan masalah dengan kritis dalam hal integritas surat dan karena
beberapa masalah yang dituliskan di dalam kitab tersebut bersifat eksplosif.
            Walaupun faktanya demikian, ini tidak memberi arti bahwa  tidak ada solusi untuk memahami kitab-kitab ini dengan benar. Karena pada faktanya ada beberapa yang harus dipahami dan langkah –langkah yang bisa dilakukan agar dapat memahami tujuaan kitab tersebut dengan benar. Salah satu hal yang harus dipahami untuk hal ini ialah bahwa secara umum kitab-kitab dalam perjanjian baru memiliki isi dan bentuk yang saling berkesinambungan satu sama lain.[19]  Tidak hanya hal tersebut, seorang yang ingin memahami teks dengan benar harus melakukanbeberapa langkah. Langkah-langkah tersebut ialah meyelidiki identitas pengarang kitab, waktu dan tempat penulisan kitab, tujuan penulis, memahami metode eksegesis yang benar, serta keterangan sumber-sumber atau catatan yang mendukung kitab tersebut.[20] Jika beberapa hal diatas dapat dilakukan dengan benar maka kemungkinan besar kitab-kitab tersebut dapat dipahami dengan benar.
Penulis
            Sebagaimana yang di cantumkan oleh teks 2 Korintus 1:2 ” Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya”. Rasul Paulus Adalah penulis dari kitab 2 Korintus. Paulus menulis kitab ini pada masa ketiga dari perjalanan misinya bersama dengan beberapa kitab lainnya seperti kitab Roma.[21]
            Menurut Yohane B. Mulyono, Rasul Paulus merupakan seorang rasul yang menduduki tempat ”teratas” dalam Alkitab, oleh karena Rasul Paulus telah memberi pengaruh yang luar biasa di dalam sejarah pertumbuhan Kristen sepanjang abad.[22] Hal ini terbukti dari beberapa surat yang dituliskan oleh rasul Paulus telah mendominasi Alkitab perjanjian baru , surat-surat tersebut sangat kaya dan memiliki makna iman yang dalam.[23]
            Tidak salah jika surat-surat yang dituliskan oleh rasul Paulus mendominasi kitab perjanjian baru, hal ini dikarenakan rasul Paulus adalah seorang yang sangat terpelajar secara khusus dalam bidang hukum Yahudi.[24] Rasul Paulus merupakan orang Yahudi dari suku Benyamin dan merupkan bagian dari kelompok Farisi (Rm. 11:1; Flp. 3:5; Kis 23:6). Rasul Paulus lahir di kota Tarsus, pada masa tersebut kota ini merupakan pusat ilmu pengetahuan.[25] Di kota Tarsus Paulus belajar banyak mengenai filsafat dan berbagai aliran kepercayaan lainnya.
            Tidak cukup hanya dengan pendidikan yang  Paulus peroleh di kota yang berkebudayaan Yunani tersebut, pada masa remajanya orang tuanya mengirimnya ke Yerusalem untuk memperdalam pengetahuan mengenai hukum taurat.[26] Di Yerusalem Paulus dididik oleh seorang guru besar Yahudi yang bernama Gamaliel, Gamaliel adalah seorang ahli waris pemikiran Rabi Hillel dan merupakan wakil utama dari aliran kaum Farisi.[27] Farisi sendiri adalah nama golongan agama Yahudi yang sangat taat mengikuti aturan hukum taurat dan undang-undang agama yang diberikan oleh Musa.[28]
            Pada mulanya Paulus sangat membenci orang-orang yang percaya kepada Kristus, bahkan kebencian Paulus tersebut mendorongnya untuk menyiksa orang-orang yang percaya kepada Kristus. Salah satu bukti dari kekejaman rasul Paulus ialah kematian Stefanus. Stefanus adalah seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, Allah memberikannya kuasa untuk melakukan mujizat. Nanun Pelayanan Stefanus tidak dapat diterima oleh semua orang Yahudi oleh karena dia adalah seorang yang percaya kepada Kristus, sehingga ia dirajam dengan batu sampai mati.[29] Setelah melakukan pembunuhan tersebut, kemudian orang-orang yang melempari batu tersebut meletakan jubah mereka dibawah kaki Paulus.[30] Dengan pernyataan tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa Pauluslah yang memimpin pembunuhan tersebut.
            Selain terlibat dalam pembunuhan Stefanus, Paulus juga memimpin beberapa gerakan penangkapan orang-orang percaya di Yerusalem maupun diluar Yerusalem.[31] Pada satu hari ketika ia bersama teman-temannya akan melakukan gerekan penangkapan tersebut ke daerah Damsyik, ia melihat cahaya dan mendengar suara yesus. Dalam keadaan demikian, kemudian Paulus mengalami perubahan, ia menjadi percaya kepada Yesus dan memutuskan untuk memberitakan nama Yesus kepada bangsa-bangsa.[32]
            Paulu adalah seorang yang sangat menetang Yesus, Paulus memiliki berpendidikan yang tinggi. Paulus juga sangat terhormat dikalangan orang-orang yang beragama Yahudi dan ia seorang penduduk Roma yang sangat menjunjung nilai hukum bangsa Roma pada saat itu. Namun pertemuannya kepada Yesus telah menjadikannya sebagai seorang yang percaya kepada Kristus, bahkan Paulus mengabdikan dirinya untuk menjadi pekabar Injil di seluruh wilayah Romawi.[33] Paulus menjadi seorang pekabar Injil besar dam memenangkan banyak orang bagi Kristus.[34]
Waktu Penulisan
            Menurut Jhone Drane kitab Korintus dituliskan oleh Paulus pada perjalanan misinya yang ketiga.[35]  Perjalanana misi ketiga Paulus dilakukan pada tahun 52-58 yang dimulai dari kota Antiokia-Frigia-Efesus dan berakhir di kota Kaisarea.[36] Pada perjalanan misi ini, Paulus mengunjungi kota Efesus pada tahun 52 tepat pada musim semi.[37] Di kota ini Paulus tinggal dalam waktu yang cukup lama yaitu sekitar  3 tahun, dan di kota ini jugalah Paulus memberi informasi luas mengenai pengumpulan dana persembahan bagi orang-orang Kudus di Yerusalem. Salah satu informasi pengumpulan dana persembahan ini ditujukan kepada jemaat di Korintus, sehingga menurut beberapa pertimbangan maka Paulus menulis Kitab 1 Korintus ialah pada tahub 54.[38]Dengan fakta tersebut maka dapat diperkirakan bahwa penulisan kitab 2 korintus dituliskan pada tahun-tahun berikutnya.
            M. E. Duyverman memberi pandangannya mengenai waktu penulisan dari kita ini ialah pada akhir tahun 56.[39] Dalam pandangannya ini, Duyvermane berpatokan pada jangka waktu perjalanan yang dipakai oleh Rasul Paulus yang dimulai dari keberangjkatannya dari Filipi menuju Yerusalem.[40] Tahun penulisan ini mendapat dukungan dari pernyataan Karel Sosiapater, menurut Karel buku ini ditulis sekitar tahun 56-57. Menurut Karel kitab ini ditulis setahun setelah  surat 1 Korintus dikirim, hal ini terjadi karena adanya berita bahwa kelompok-kelompok penentang di Korintus yang masih menyerangnya.[41] 
            Berdasarkan dari berbagai pandangan diatas, maka penulis menentukan bahwa tahun penulisan kitab ini ialah pada tahun 56. Adapun alasannya karena penulis melihat bahwa buku ini bener adanya ditulis pada perjalanan misi ketiga dari rasul Paulus menurut berbagai sumber, dan kitab ini dituliskan setelah penulisan kitab 1 Korintus yang ditulis pada tahun 54. Kitab ini ditulis sebelum berakhirnya perjalanan misi ketiga rasul paulus yang dikarenakan oleh penangkapan rasul Paulus pada tahun 58.[42]
Tempat Penulisan
            Mengenai tempat dimana rasul Paulus menuliskan kitab ini mendapat beberapa Pandangan dari beberapa pihak, salah satu pihak tersebut ialah M. E. Duyverman. Menurut Duverman Kitab ini ditulis oleh rasul Paulus di salah satu tempat yang ada di Mekedonia, adapun alasan ini didasarkan oleh berita bahwa Makedonia merupakan tempat dimana rasul Paulus bertemu dengan Titus.[43] Titus disuruh kembali ke Korintus oleh rasul Paulus dengan membawa surat 2 Korintus, dan ditemani oleh beberapa wakil jemaat di Makedonia.[44]
            Makedonia sebagai tempat penulisan kitab 2 Korintus yang Maksud oleh oleh M. E. Duyverman mendapat dukungan dari Karel Sosiapater, menuru Sosiapater kitab ini ditulis pada saat rasul Paulus berada di Makedonia.(2 Kor. 2:13)[45] Adapun alasan dari pengirimanan surat ini ialah karena adanya berita yang memberitahukan mengenai serangan dari kelompok-kelompok penentang dari Korintus terhadapa kerasulan Paulus.[46] Pandangan yang serupa lainnya datang dari Frances Blankenbaker, Blankenbaker memberi pandangan bahwa kemungkinan sura ini dituliskan di Makedonia.[47]
            Namun pandangan yang berbeda datang dari Willi Marxen, Willi Marxen menghubungkan pandangannya ini dengan perkataan rasul Pulus yang tertulis di 1 Korintus 16:11. Pada ayat tersebut Paulus mengatakan bahwa ia bermaksud menunggu di Efesus sampai Timotius kembali.[48] Willi Marxen semakin yakin dengan pandangannya tersebut oleh karena 2 Korintus 1:1 menuliskan bahwa Timotius adalah rekannya dalam mengirimkan surat yang ia tuliskan.[49] Dari beberapa pandangan diatas, penulis memberi dukungannya terhadap pandangan M. E. Duyverman yang menentukan Makedonia sebagai tempat penulisan oleh karena beberapa alasan yang diikutsertakan dalam beberapa pandangan tersebut.
Penerima Kitab
            Sebagaimana yang dijelaskan diatas, Kitab 2 Korintus adalah kitab lanjutan dari kitab 1 Korintus yang dituliskan rasul Paulus kepada jemaat-jemaat di Korintus.[50]     Jemaat di Korintus merupakan hasil pembentukan yang dilakukan oleh rasul Paulus pada perjalanan misi keduanya. Pada tahun 49-52 Paulus melakukan perjalananya misi keduanya dengan mengajak Barnabas (Kis 15:36), namun oleh karena ada suatu konflik maka keduanya berpisah dan masing-masing membawa kerabat yang lain untuk menemani mereka dalam melanjutkan perjalanan misi tersebut (Kis. 15:37-40).
            Setelah berpisah dengan Barnabas, rasul Paulus mengajak Silas untuk menemaninya untuk meneruskan perjalanan misinya. Pada perjalanan misi kedua ini rasul Paulus mengunjungi beberapa kota, dan salah satunya adalah kota Korintus. [51] Pada perjlanan misi tersbut, rasul Paulus melakukan penginjilan kepada penduduk Korintus sehingga banyak dari penduduk kota tersebut percaya dan mau menjadi pengikut Kristus.[52] Dengan adanya beberapa orang percaya di kota tersebut, maka ini menjadi bahan perhatian rasul Paulus sehingga rasul Paulus terus mengirimkan surat untuk menasihati jemaat-jemaat tersebut.
Tujuan Kitab
            Menurut Pandangan Frances Blankenbaker kitab 2 Korintus dituliskan oleh Paulus setelah ia mendengar informasi bahwa jemaat yang ada di Korintus telah menerima ajaran palsu. Selain membawa pengajaran palsu, para guru palsu juga mendorong jemaat untuk berpaling dari rasul Paulus.Dan oleh karena berita tersebut, maka rasul Paulus menuliskan surat 2 Korintus dengan tujuan memberi nasihat kepada para jemaat serta memberi informasi mengenai pelayanannya.[53]
            Secara umum isi dari 2 Korintus berbeda dengan isi yang dituliskan rasul Paulus pada suratnya yang pertama, isi dari 2 Korintus lebih bersifat pribadi oleh karena banyak menjelaskan mengenai perasaan, keinginan, harapan, dan rasa kewajiban dari rasul Paulus kepada jemaat di korintus.[54] Adapun maksud Paulus dari ke semua isi surat tersebut adalah untuk membela diri terhadap kecaman yang dilontarkan oleh jemaat-jemaat Korintus, dan juga terhadap fitnahan atau tuduhan yang dilontarkan oleh lawan-lawannya terutama mengenai kerasulannya.[55] Jika pada surat 1 Korintus Paulus menegur jemaat tersebut oleh karena berbagai kesalahan yang dilakukan mereka, namun pada surat yang kedua ini Paulus lebih kepada dorongan agar jemaat tersebut tetap taat pada pengajaran-pengajaran yang telah rasul Paulus ajarkan.[56]
Paul to the Corinthians, that his relationship with them deteriorated after he
wrote 1 Corinthians. In 2 Corinthians Paul must resort to defense and attack in
regard to his own ministry to the Corinthians.[57]

            Ben Witherington  menjelaskan bahwa setelah rasul Paulus menuliskan kitab 1 Korintus, Hubungan rasul Paulus dengan jemaat di Korintus memburuk. Dengan situasi demikian, maka rasul Paulus menuliskan kitab 2 Korintus dengan tujuan pertahanan dan serangan sehubungan dengan pelayanannya kepada jemaat di Korintus.
Situasi Sosial
The city was located at the crossroads of two major trade routes, one by sea, the other by land. Located on a narrow isthmus, Corinth controlled the port of Cenchreae to the east and the port of Lechaeum to the west. Corinth was therefore a port city with access eastward through the Saronic Gulf to the Aegean Sea and westward through the Gulf of Corinth to the Adriatic Sea.[58]
            Kota korintus yang berada di dua jalur utama rute perdagangan membuat kota ini menguasai beberapa pelabuhan. Posisi yang demikian telah membuat kota ini kaya dan padat penduduknya,  kota Korintus menjadi salah satu tempat yang sering dikunjugi oleh orang-orang dari seluruh bangsa di dunia.[59] Walaupun dalam masa perjalanan sejarah kota Korintus  kota ini pernah mengalami kehancuran oleh serangan Lucius Mummius (jenderal Roma) padat tahun 146 sM, namun posisinya yang berada di jalur perdagangan tidak membuat kota ini menjadi mati.[60] Faktanya, pada tahun 46 sM kota ini dibangun kembali oleh Julius Caesar dan mengembalikan kota ini sebagai kota yang maju dan kota yang sering dikunjungi oleh orang-orang dari seluruh penjuru dunia.[61] Tahun37 sM, kota ini menjadi pusat provinsi Romawi , yaitu kota Akhaya sekaligus kota metropolitan yang berkembang.[62]
            Sebagai kota yang merupakan jalur perdagangan telah membuat kota ini menjadi sangat maju denga penduduk campuran. Tampaknya baik, namun pada faktanya keberagaman penduduk di kota ini telah menjadikan kota ini sebagai kota yang imoralitas seksual, bahkan lebih buruknya lagi pemujaan dewa-dewi di koto ini semakin berkembang.[63] Demikianlah dapat dilihat bahwa hubungan sosial di tempat ini sangat beragam oleh karena ragam penduduk, ragam agama dan ragam budaya.
Teologi Kitab
Setiap orang yang memikirkan dan mengekspresikan iman keKristenannya serta melakukannya, mereka dapat disebut sebagai seorang Teolog ataupun sebagai orang yang berfungsi Teologis. Paulus adalah seorang Teolog Kristen pertama dan terhebat, ia konsiten terhadap panggilannya untuk melayani Tuhan. Ia telah mengartikulasikan keKristenannya melalui tulisan dan pengajaran terhadapa orang-orang yang disekitarnya, Ia mengabdikan sebagian besar dari kehidupannya untuk melayani Allah.[64]
2 Korintus 8-9 telah memberi gambaran jelas mengenai salah satu Teologi Paulus yang indah dan kaya, dalam teks ini rasul Paulus dengan semangat mendorong jemaat-jemaat untuk memberikan persembahan. Persembahan yang dimaksud dalam hal ini ialah persembahan dalam bentuk sumbangan kepada orang-orang kudus di Yerusalem.[65] Melalui kebiasaan jemaat pada masa itu, persembahan bukanlah sesuatu hal yang penting atau dapat dikatakan sebagai kegiatan sampingan dalam tata ibadah. Namun pada teks 2 Korintus 8-9 Paulus memberi gambaran penting mengenai persembahan, dalam pejelasan ini Paulus mengibaratkan persembahan dengan harta yang tersembunyi yang dituliskan dalam kitab Matius 13:44-46.[66] Memberi persembahan berarti mengorbankan segalas sesuatu oleh karena pertemuan kepada satu pihak yang sangat berharga yaitu Yesus Kristus.



[1] Chang Kui and Liana, Dating Insight (Bandung: Visi Anugerah Indonesia, 2014), hal 42.
[2] Yongky Karman, Bunga serampai (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), hal 52.
[3] Witness Lee, lima penekanan dalam Pemulihan Tuhan (Surabaya: Yasperin, 2019).
[4] Witness Lee, Pelajaran Hayat Roma( Surabaya; Yasperin, 2020). hal 2.
[5] Retnowati, Perempuan-perempuan dalam Alkitab (Jakarta; Gunung mulia, 2004), hal 3.
[6] Yongky Karman, 59.
[7] Ibid, 52.
[8] Richard W. Haskin, Pengantar perjanjian baru (Jakarta : Gunung mulia, 2008), hal 77.
[9] Jhon Drane, memahami perjanjian baru (Jakart: gunung mulia,  2005), hal 348.
[10] Pidyanto Gunawan, Rubrik Konsultasi iman 3 (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 21.
[11] R. Kent Hughes, 2 Corinthians, power in weakness (Wheaton: Crossway, 2006), 141.
[12] Bo Berry, bila kekasih belum percaya, diterj oleh Jenny Natanael (Jakarta: Gunung Mulia, 2001). hal 3.
[13] Russel S. Spiter Allah Sang Bapa (Malang; Gandum Mas, 2019), Hal 95.
[14]  Raymond F. Collin, Second Corinthians (Amerika: Baker Academic, 2013), 142.
[15] Ibid.
[16] Jhon Drane, 15.
[17] Ben Witherington III Wm, Community Corinth ; A Socio-Rhetorical Commentary on 1 and 2 Corinthians (America: B. Eerdmans Publshing Co, 1995), 418.
[18]  Ibid.
[19] M. E. Duyverman, pembibing ke dalam perjanjian baru (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 5.
[20] Ibid.
[21] Jhon Drane, 346.
[22] Yohane B. Mulyono, Firman Hidup 55 (Jakarta: Gunung Mulia, 2002), 34.
[23] Ibid Yohanes.
[24] David Self, Paulus (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 6.
[25] F. D. Wellem, Hidupku bagi Kristus (Jakarta: Gunung Mulia, 2005), 42.
[26] YM Seto Marsunu, Paulus sukacita rasul Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 15.
[27] Ibid.
[28] J. Reiling and J.L. Swellengrebel, Pedoman Penafsiran Alkirab: Injil Lukas (Jakarta: LAI, 2005), 244.
[29] V. Gilbert Beers, langkah demi langkah menelusuri Alkitab (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 359.
[30] Ibid.
[31] Th. Van den end, Tafsiran Alkitab, Kitab Roma (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 1.
[32] Ibid.
[33] Meryl Doney, Kitab yang mengubahkan dunia (Jakarta: Gunung Mulia, tt), 3.
[34] William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari, Surat 1 dan 2 Korintus (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 153.
[35] Jhone Drane, 346.
[36] Ant. Hari Kustono, Pr, Paulus dari Tarsus (Yogyakarta: Kanisius, 200/), 30.
[37] Ulrich Beyer and Evalina Simamora, memberi dengan sukacita (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 13.
[38]Ibid, Ulrich.
[39] M. E. Duyverman, 107.
[40] Ibid.
[41] Karel Sosiapater, Etika perjanjian baru ( Jakarta: Suara harapan bangsa, 2010), 401
[42] Darsono Ambarita, perspektif misi dalam perjanjian lama & perjanjian baru (Medan: pelita kebenaran press, 2018), 79.
[43] M. E. Duyverman, 107.
[44] M. E. Duyverman, 107
[45] Karel Sosiapater, 401.
[46] Karel Sosiapater
[47] Frances Blankenbaker, Inti Alkitab untuk para pemula ( Jakarta: Gunung Mulia, 207), 272.
[48] Willi Marxen, Pengantar perjanjian baru: pendekatan kritis terhadap masalah-masalahnya (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 85.
[49] Willi Marxen
Frances Blankenbaker, 272.
[50] Karel Sosiapater,
[51] YM Seto Marsunu, 27.
[52] YM Seto Marsunu, 29.
[53] Ibid.
[54] Merril C. Tenney, Survey perjanjian baru (Malang: Gandum Mas, 2003), 371.
[55] Ibid.
[56] Gerald Bray and Friend, Ancient Christian Commentary on Scripture, 1-2 Corinthians (New York: Routledge, 2012), 191.
[57] Ben Witherington III, 419.
[58] Raymond F. Collins, Second Corinthians (Amerika: Baker Academic,2013), 22.
[59]  William Barclay, 11.
[60] Ibid, 13
[61] William Barclay, 13
[62] V. C. Pfitzner, Ksatuan dalam kepebagaian; Ulasan atas 1 Korintus ( Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 2.
[63] Ibid,
[64] James .D. G. Dunn, The Theology of Paul Apostle (Cambridge: Wm. B. Eerdmans Publishing, 1998), 2.
[65] Ulrich beyer and Evalina Simamora, Memberi dengan sukacita (Jakarta: Gunung Mullia, 2008), 113.
[66] Ibid.

Comments

Popular posts from this blog

Teologi Kitab 1 dan 2 Raja raja

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus

Teratur Membaca Alkitab