Makna Menyembah Dalam Roh dan Kebenaran Berdasar kan Yohanes 4:21-42 dan Aplikasinya Terhadap Ibada Online
Oleh:Prastika Jangin.
BAB I
Pendahuluan
LATAR BELAKANG
Menyembah merupakan kata kerja, yang artinya adalah “memandang dengan rasa hormat, penghargaan, atau kesetiaan yang luar biasa”. Ini merupakan ungkapan yang aktif dari kasih sebagai orang percaya kepada Allah. Penyembahan bukanlah suatu kegiatan yang ritual atau emosi musikal. Penyembahan mewujudkan dan mencerminkan kemurahan hati Kristus yang tidak mementingkandiri sendiri. Penyembahan adalah gerakan hati, pikiran, dan kemauan kita meuju hati, pikiran, dan keendak Allah.[1]
Banyak pendangan tentang penyembahan. Penyembahan adalah suatu respons manusia terhadap penerimaan terhadap suatu kehadiran kudus, suatu kehadiran yang lebih penting dari aktivitas manusia normal dan kudus adanya. Yesus mengatakan bahwa Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Rasul Paulus juga mengatakan bahwa , “….. supaya kamu mempersembahakan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” Roma 12:1)[2]. Allah adalah pribadi layaknya penyembah manusia. Allah adalah Roh, tidak terbatas, kekal dan tidak berubah dalam sifat-Nya. Untuk menyembah Allah yang adalah pribadi sekaligus Roh maka kita harus menyembah-Nya dalam roh kita. Roh Kudus membawa kerinduan kepada Yesus yang menghantarkan kita kepada Allah[3]. Menyembah dalam roh dan dalam kebenaran adalah konteks karunia Allah dalam Kristus. Dimin Bansai mengatakan bahwa:
Penyembahan tanpa kasih tidak akan berkenan kepada Tuhan. Karena setiap orang yang mengasihi, lahir dari Tuhan dan mengenal Tuhan. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Tuhan, sebab Tuhan adalah kasih (1 Yohanes 4:7-8).[4]
Kata penyembahan sudah menjadi tren di dalam komunitas gereja, dan dikenal dengan pujian dan penyembahan. Pernyataan bahwa setiap orang percaya harus menyembah Bapa dalam Roh dan dalam kebenaran sesuai dengan kebenaran Alkitab. Jhon MacArthur mengatakan bahwa:
“Penyembahan bukanlah masalah berada di tempat yang benar, pada waktu yang tepat. Penyembahan juga bukanlah kegiatan lahiriah yang menuntut terciptanya suasana tertentu. Penyembahan yang sejati lahir dari dalam hati dalam didalam roh”[5]. “Sifat dasar penyembahan adalah memberikan penyembahan kepada Allah dari bagian diri kita yang paling dalam, dalam pujian, doa, nyanyian, memberi bantuan, dan hidup, selalu berdasarkan kebenaran-Nya yang dinyatakan.
Penyembahan merupakan pembahasan yang cukup penting dalam komunitas Kristen.Akan tetapi banyak orang salah mengartikannya. Banyak yang mengatakan bahwa penyembahan merupakan bentuk ibadah atau pujian kepada Tuhan. Akan tetapi, penyembahan lebih dari pada sekedar beribadah. Menyembah Tuhan bukan hanya beryanyi melainkakn bentuk ketundukan kepaa-Nya dan mengikuti kehendak-Nya. Dalam Yohanes 4:24a menjelaskan bahwa menyembah Allah yang adalah roh berarti kita menyembah Allah yang berbentuk roh dan tidak terbatas oleh waktu, tempat dan keadaan. Dan pada ayatnya yang ke 24b mengatakan bahwa sebagai orang yang percaya harus menyembah dalam kebenaran.Hal ini berarti bahwa dalam penyembahan seharusnya dengan sikap hati yang sungguh-sungguh, tidak setengah hati, melainkan dengan cara yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Penyembah yang benar dan penyembah yang sejati bukanlah mereka yang pergi ke ten;mpat-tempat yang benar dan mengucapkan doa-doa dengan kata-kata yang benar. Allah adalah roh, dan seharusnya sebagai orang percaya mengerti dan mengakui kodrat-Nya, akan tetapi harus bisa menyesuaikan antara penyembahan dan kodrat-Nya. Roh yang dimaksudkan disini adalah Roh Kudus.[6] Rob Harbison mendefinisikan penyembahan sebagai latihan spriritual kudus yang menghubungkan manusia dengan Allah melalui ekspresi hati yang mengasihi. Pandangan Kevin J. Conner, kata “penyembahan” berarti bersujud, membungkuk,lebih rendah atau merendahkan diri sendiri. Untuk menyembah Allah yang adalah pribadi sekaligus Roh maka kita harus menyembahnya dalam roh kita. Akan tetapi, roh kita harus diperbaharui oleh Roh Kudus yaitu roh Allah sendiri. Roh Kudus membawa kerinduan kepada Yesus yang menghantarkan kita kepada Allah.
Horrison mengatakan,
“Hal yang penting ialah bahwa orang menyembah Bapa, yang sudah diberitakan melalui kedatangan Sang Anak. Keselamatan datang dari bangsa Yahudi di dalam arti bahwa penyataan khusus tentang cara mendekati Allah dengan benar disampaikan kepada mereka: dan Yesus sendiri, Sang Juruselamat, berasal dari bangsa ini (Rom. 9:5). Bahkan sebelum sistem keagamaan yang baru diresmikan dengan sifatnya yang universal, para penyembah sejati memperoleh kehormatan untuk menyembah Allah sebagai Bapa di dalam roh dan kebenaran. Sedangkan kebenaran bertentangan dengan penyembahan orang Samaria yang tidak memadai dan palsu. Cara menyembah yang baru ini merupakan keharusan, sebab Allah itu Roh adanya.[7]
Penyembahan yang sejati terjadi saat roh seseorang memuja dan berhubungan dengan Roh Allah, saat jati diri seseorang sedang mengasihi Dia, hanyut dalam hadirat-Nya. Penyembahan sejati bukan tentang lagu yang dinyanyikan; juga bukan tentang ukuran orkes musiknya; dan bukan ukuran paduan suaranya.[8] Inti penyembahan adalah saat hati dan jiwa seseorang, serta semua yang ada di dalam dirinya, memuja danberhubungan dengan Roh Allah. Nyanyian dari hati yang suci yang lebih merindukan hadirat Allah dan mengurangi keinginannya sendiri adalah musik yang memgang kunci banyak kemenangan dan menyukakan Allah.[9]
Pada konteks dewasa ini. telah terjadi kegairahan besar-besaran untuk “memuji dan menyembah Tuhan, yang berusaha untuk meninggikan, mengagungkaan, memuliakan dan membesarkan nama Allah sebagai Raja. Tuhan ditinggikan, dimuliakan, dan disembah, dan penyembahan sering terjadi dengan iringan musik yang meriah. Tuhan sendiri mengatakan bahwa sekarang ini penyembah yang benar bukan hanya menyembah Allah di dalam roh mereka, tetapi juga didalam kebenaran (realitas).[10] Hal ini cukup sulit dimengerti oleh orang-orang Kristen dewasa ini. Dahulu, Allah menetapkan agar umat-Nya menyembah Dia di tempat yang telah ditentukan dan dengan membawa kurban persembahan. Umat-Nya tidak diperkenankan menyembah Allah di tempat pilihan mereka sendiri, dan juga tanpa kurban persembahan. Mereka memerlukan kurban karena adanya dosa. Ketika mereka datang berkontak dengan Allah, mereka harus mempersembahakn kurbanyang beraneka ragam. Dan semua kurban merupakan lambang aspek kehidupan Yesus. Kristus merupakan kurban penebus dosa yang sejati. Dan pada saat ini, kita bukan lagi menyembah Allah ditempat khusus tertentu atau tempat yang sdah ditentukan, melainkan dengan Kristusyang realistis dari segala kurban.
Zaman sekarang atau saat ini, kita harus menyembah Allah di tempat satu-satunya yaitu roh kita, dengan Kristus sebagai realistis. Dalam Ibrani 10:25 mengatakan: Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. ayat ini seperti menjelaskan bahwa meskipun kita sebagai orang-orang yang percaya dapat melakukan penyembahan secara pribadi sesuai dengan waktu yang sudah kita tentukan, ayat diatas seperti mengajarkan kepada kita untuk tidak mengabaikan ibadah kebaktian gereja sebagaimana yang sudah disebutkan[11]. Dikatakan juga bahwa ketika kita menjauhkan diri dari ibadah itu sama halnya dengan kita tidak lagi saling menguatkan satu sama lain dan tidak memberikan pertolongan terhadap saudara seiman.
Pernyataan Penelitian
Studi eksegesis diharapkan menjawab pertanyaan;
1. Apakah makna dari ”Penyembahan” berdasarkan Yohanes 4:21-42
2. Apakah Penyembahan berdsarkan Yohanes 4:21-42 dapat di aplikasikan dalam ibadah online?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah:
1. Untuk mencari dan menemukan arti ‘Penyembahan” dalam Yohanes 4:21-24
2. Mencari fakta “Penyembahan” dalam dewasa sekarang ini dengan adanya ibadah online
Signifikasi Penilitian
1. Bagi Gereja untuk lebih menerapkan tentang makna “Penyembahan”
2. Bagi Jemaat untuk lebih mengerti dan memahami serta menerapkan makna “Penyembahan” yang benar bagi kehidupan mereka
3. Bagi Pemimpin Pujian dan Penyembahan guna untuk lebih memaknai arti dari “Penyembahan” yang seharusnya dilakukan
Batasan Penelitian
Batasan penelitian yang akan diteliti dalam karya tulis akan dibatasi oleh penggalian makna “Penyembahan” dalam Yohanes 4:21-42.
Definisi Istilah
Untuk menghubungkan presepsi penulis dengan pembaca, ada beberapa istilah yang akan digunakan dan perlu untuk dicantumkan dalam penulisan karya tulis ini.
Penyembahan
Penyembahan adalah lebih dari sekedar menyanyikan lagu penyembahan kepada Allah, melainkan mengerjakan segala sesuatu tentang Allah dan iilah yang dinamaka dengan penyembahan yang sejati, penyembahan yang berpusat kepada Allah.[12]
Ibadah Online
Ibadah online merupakan sebuah persekutuan tanpa adanya pertemuan secara langsung atau pertemuan bertatap wajah satu sama lain. Ibadah online juga merupakan sistem ibadah yang bisa menggunakan alat-alat digital zaman sekarang. Ibadah online juga merupakan ibadah yang bisa dinikmati oleh banyak orang tanpa harus pergi ke suatu tempat atau gereja yang sedang mengadakan kebaktian/ibadah.
Metode Penilitian
Studi merupakan arti dari “pnelitian” sedangkan eksegesis merupakan pengertian dan penjelasan tentang teks Alkitab[13]. Dalam karya tulis ini, penulis akan menuliskan dan meneliti secara sistematis tekas dari Injil Yohanes 4:21-42 untuk menemukan arti asli yang dimaksudkan oleh penulisnya dan penelitian ini akan dilakukan di perpustakaan STT Injil Bhakti Caraka dengan sumber buku yang ada dan juga memakai sumber buku yang ada di internet. Sehingga studi eksegesis dari Yohanes 4:21-42 sebagai landasan Alkitabiah dari makna “Penyembahan” dan aplikasinya terhadap Ibadah online dewasa ini.
BAB II
MEMAHAMI KITAB INJIL YOHANES
Pendahuluan
Untuk kebanyakan orang Kristen Injil Yohanes merupakan buku yang sangat menarik dan paling berharag di dalam Perjanjian Baru. Bagi mereka Injil Yohanes merupakan sumber makanan rohani dan penyegar jiwa serta menjadi sumber ketentraman.[14] Kitab Injil Yohanes, yaitu kitab injil yang keempat tidak memuat cerita-cerita tentang kelahiran, pembaptisan serta pencobaan yang di alami Yesus sendiri. Kitab ini juga tidak berbicara apa-apa tentang perjamuan malam terakhir, kisah tentang taman Getsemani, dan tentang kenaikan Yesus ke sorga. Dan yang mungkin paling mengherankan bahwa kitab ini sama sekali tidak memuat cerita tentang perumpamaan.Pada hal cerita perumpamaan merupakan cerita yang paling sering diceritakan dalam kitab injil yang lain.[15]
Di dalamnya menjelaskan perbedaan antara Injil Yohanes dan ketiga kitab injil yang lain.Eusebius yang merupakan seorang uskup dari Kaisara mengatakan bahwa:
Mula-mula Matius mengabarkan Injil kepada orang Ibrani. Lalu ia beralih mengabarkan ijil ke bangsa-bangsa yang lain. Sebelum ia pergi, terlebih dahulu ia menyiapkan cerita tentang kehidupan Yesus di dalam bahasa Ibrani, dan dengan demikian ia memberikan sesuatu bagi mereka yang akan ditinggalkannya. Setelah Markus dan Lukas menerbitkan kitab-kitab Injil mereka, Yohanes masih mengabarkan injil secara lisan dan belum menuliskan kitabnya. Akhirnya Yohanes menulis kitab injilnya dengan alasan-alasan yang berikut: Tiga Kitab Injil yang disbutkan di atas telah sampai ke tangan semua orang termasuk Yohanes.[16]
Pada dasarnya teologi Yohanes ialah kristologi. Pribadi Yesus kristus merupakan fokus tulisan-tulisan Rasul Yohanes. Injil Yohanes secara unik menekankan Firman
yangmenjad manusia, maupun dalam surat-surat Yohanes yang menekankan Firman yang hidup diantara kontroversi perpecahan Gereja, atau dalam kitab Wahyu dengan penglihatannya tentang Kristus yang akhirnya menang dan dimuliakan. Tema teologis utama yang diselidiki ialah kristologi. akan tetapi ini bukan hanya meliputi ulasan umum tentang perspektif Yohanes tentang pribadi Yesus Kristus, tetapi juga penelitian khusus atau gelar-gelar penting Yesus dalam tulisan Yohanes.[17]
Untuk kebanyakan orang Kristen Injil Yohanes adalah buku yang paling berharga di dalam seluruh Perjanjian Baru. Kebanyakan orang ketika membaca Injil Yohanes, mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan dan Yesus ketimbang mereka membaca kitab-kitab lainnya.[18] Injil Yohanes merupakan Injil yang tersendiri dikarenakan Injil Yohanes tidak memuat cerita-cerita tentang kelahiran, pembaptisan, dan percobaan yang dialami Yesus. [19]
Berhubungan dengan perbedaan-perbedaan antara kitab Injil Yohanes dan kitab-kitab Injil yang lain, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri dan bahkan yang harus dicatat, adalah kenyataan bahwa perbedaan-perbedaan bukan karena penulis Injil Yohanes bersikap masa bodoh atau memenag tidak mengerti dan mengetahui hal-hal yang disebut oleh penulis kitab-kitab Injil yang lainya. Akan tetapi, kitab Injil Yohanes memuat hal-hal yang tidak dimuat oleh kitab-kitab Injil yang lainya.[20]
Tujuan Penulisan
Kitab Injil Yohanes lebih banyak menguraikan tentang tanda-tanda ajaib serta percakapan dan pengajaran Yesus. Penulis Yohanes dengan terbuka menyatakan tujuan penulisannya, yaitu supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.[21] Tujuan Rasul Yohanes menuliskan kitab Injil Yohnes untuk menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah ekspresi Allah sebagai hayat kita dan Ia mati di kayu salib dengan tujuan membebaskan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebaga hayat. Kematian-Nya di kayu salib beryujuan menyalurkan hayat ilahi-Nya ke dalam kita.[22]
Seperti telah dinyatakan diatas, tujuan dari Injil Yohanes ini adalah untuk mempertahankan suatu keyakinan (apologetic). Semua Injil memang dimaksudkan untuk menanamkan kayakinan kepada mereka yang membaca atau mendengar orang membacakannya untuk mereka. Injil ini dimaksudkan bagi mereka yang telah memiliki sedikit minat filsafat, seperti yang bisa kita lihat pada kalimat pembukanya.[23]
Ada kemungkinan bahwa Injil Yohanes sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan pekerjaan Yesus yang sudah ada pada masa itu dan yang sudah dinyatakan secara tertulis dalam injil-injil Sinoptis. Berdasarkan pernyataan Klemens dari Alexsandria, seperti yang dikutip oleh Eusebius, orang dapat berkeras bahwa ada semacam hubungan antara Yohanes dan Injil-Injil Sinoptis.:
Tetapi bahwa Yohanes, yang terakhir di antara yang lainnya, sadar bahwa fakta-fakta yang Nampak dari luar (Yunani somatika, “lahiriah”) yang telah dikemukakan di dalam Injil-Injil itu, ditegaskan terus oleh para rasul, dan digerakkan secar luar biasa oleh Roh Allah, menjadi suatu Injil rohani(Yunani-pneumatikon).
Injil Yohanes merupakan Injil yang paling berbeda dan mungkin yang paling berharga di antara keempat Injil kanonik pengajaran Yesus yang dikutip di dalamnya lebih banyak menyangkut pribadi-Nya daripada ajaran etika tentang kerajaan. Injil ini sangat bercorak teologis, dan terutama membahas sifat-sifat pribadi Yesus serta makna iman kepada-Nya. [24]
Genre Kitab
Injil Yohanes bersifat paling teologis di antara keempat Inji, dan Injil Yohanes juga menyabungkan hal-hal penting bagi semua bidang uta teologi Kristen, seperti hakikat, dan sifat-sifat Allah.[25] Kitab Yohanes adalah sebuah “Injil sinoptis”atau pengumuman kabar baik (20:31).[26]
Karakteristik Kitab Yohanes
Ciri Khas
Tulisan berisi percakapan sebagai ciri khas stilistik Injil Yohanes. Percakapan-percakapan panjang yang terjadi, misalnya dalam Yohanes 3:1-21, 31-36; serta percakapan diruang atas (ps. 14-17), menyajikan bagian-bagian panjang dari ajaran Yesus dihadapan orang banyak da percakapan-percakapan pribadi.[27] Selain percakapan yang panjang lebar, Yohanes menggunaan permainan kata bermakna ganda, dan juga penggunaan gaya bahasa ironi oleh Yohanes.[28]
Tema-Tema Utama
Yohanes menyajikan bahan ceritanya bukanlah terutama menguraikannya secara teratur dan logis. Jalinan yang disampaikan Yohanes lebih mirip dengan suatu rangkaian nada lagu dan indah. Yohanes memperkenalkan suatu tema yang kemudian diikuti oleh suatu tema yang kemudian diikuti tema kedua dan tema ketiga, dan seterusnya. Tema-tema itu terjalin dalam suatu pola. Disepanjang kitab Injil ini, pribadi dan karya Yesus Kristuslah yang menggabungkan beragam tema dan menjadi suatu kesatuan yang terjalin erat. Dengan cara inilah penulis Injil Yohanes mencapai tujuannya.[29] Berikut beberapa tema penting yang tercantum di dalam Injil Yohanes:
Allah
Allah dikenal dalam Injil Yohanes lewat dua cara: dalam Yohanes 5:37 “Bapa yang mengutus” dan dala Yohanes 5:17-23 “Bapa dari Anak-Nya”. Maka dalam hal ini dapat dilihat bahwa Allah sendiri bukanlah fokus langsung dari Injil Yohanes, dan fokus utama tulisan ini diberikan kepada Yesus.[30] Istilah “monogenes” mengambarkan Yesus sebagai Anak Tunggal Allah.[31] Jadi, “monogenes” menunjukka kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah yang mempunyai arti yang unik dimana Allah sebagai Bapa-Nya.[32]
Menggunakan istilah “monogenes” untuk Yesus, tekanan nya bukan hanya pada tunggal, melainkan juga kepada hal yang unik, yaitu satu-satunya.[33] L.Morris mengatakan:
Jesus is God’s Son in a anique way. no other is or can be the son of God as He is. The unique character of the relationship between the Father and the Son is one of the great themes of this Gospel.”[34]
Jadi istilah “monogenes” atau ada istilah lain “Exegeomai”( dari kata ini timbul kata “exegesis) kata ini biasa digunkan bagi bangsa Yahudi untuk menyatakan sabda Allah atau kebenaran Ilahi. Istilah ini merupakan suatu hal yang mudah dimengerti dan dipahami dimana Yesus sebagai Anka Allah, datang ke dalam dunia sebagai wahyu Allah.[35] Jadi dapat dikatakan bahwa Jesus is the Eexegesis of God. Satu kalimat yang dikatakan oleh M. C. Tenney yaitu “ Jesus is the only authorized revelation of God in human form and He is the only authorized representative of humanity to God”.[36] Penulis Injil Yohanes mengatakan bahwa :Anak Allah” membawa keselamatan bagi dunia, misalnya di dalam pasal 3:26, dan juga pasal 17;5:2.[37]
Tulisan-tulisan Yohanes meliputi penekanan penting gelar “Anak Allah”. Di dalam Yohanes 20:31 jelas menyatakan bahwa tujuan injil ialah “supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”. Maka dalam hal ini, konsep Anak ketika diterapkan pada Yesus menjadi salah satu tema menonjol dalam Injil Yohanes. Bagi Yohanes, Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian yang unik. [38] Yohanes memakai frasa hyios theou untuk menggambarkan Yesus dalam hubungannya yang unik dengan Bapa. Ditekankan juga dalam Yohanes 3:16,18 bagaimana Yesusdigambarkan sebagai “Anak Tunggal” Allah.[39]
Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah dalam Injil Yohanes, dan menekankan bahwa Yesus sebagai Anak Allah telah diutus ke dalam dunia oleh Bapa. Dinyatakan dalam Yohanes 3:17 dan diulangi dala Yohanes 3:34; 5:36-38; 6:29; 57; 7:29; 8:42.[40]
Yesus sebagai Anak Allah juga mendapatkan penekanan khusus dalam I Yohanes dan kata Anak disebutkan 22 kali. Dan sebagai Anak Allah, Yesus mengampuni dosa-dosa (4:10; “peendamaian”).[41] Yesus juga diberi gelar sebagai Anak Allah di dalam kitab Wahyu dan ditulis kepada jemaat di Tiatira.[42]
Mesias
Dari keempat kitab Injil, hanya Yohanes yang memakai bentuk literasi dari istilah Ibrani atau Aram untuk Mesias. Dan pada saat yang sama, memberika terjemahan bahasa Yunani (Christos). Kata Christos muncul 17 kali dan gelar gabungan dengan nama Yesus (Iesous Christos) kata ini muncul dua kali. Yohanes pembaptis menekankan bahwa dia bukanlah Kristus, dan muris-murid mengakui bahwa Ia adalah Mesias.[43] Status Mesias Yesus yang digambarkan dalam Injil Yohanes agak berbeda dengan yang digambarkan oleh Injil-Injil Sinoptik. Waktu murid-murid pertama kali berjumpa dengan Yesus, mereka nyaris mempercayai bahwa Yesus adalah Mesias. Dalam Yohanes 4:25, istilah “Mesias” dipakai oleh perepuan Samaria, dan dalam pengertian umum bahwa ia tidak mngerti dengan pasti apa arti misis dari kedatangan Yesus Kristus. Dalam hal ini, bagi orang-orang Samaria gelar “Mesias” tidak mengandung makna yang politis dan bisa disalahpahami, seperti halnya dengan pemahaman orang-orang Yahudi.[44]
Pemakaian gelar Mesias lebih lanjt ditemukan dalam pengakuan Marta (Yoh 11:27), dan gelar Mesias juga ditemukan dalam Yohanes 20:31. [45] Disini ada bagitu banyak penafsir yang melihat itu sebagai pernyataan utama mengenai tujuan penulisan. Orang memperoleh gambaran dalam Injil Yohanes bahwa Yesus itu Mesias, aka tetapi dalam hal ini tidak diartikan sebagai harapan politis yang dikenal orang, melainkan dalam arti yang berbeda yang dikaitkan dengan status Anak-Nya yang ilahi dan sejalan dengan Perjanjian Lama bukan harapan orang-orang Yahudi abad pertama.[46]
Secara keseluruhan, tujuan Injil Yohanes terkait dengan Kristologi. Yohanes berusaha untuk mendemonstrasikan bahwa Yesus adalah Mesias, dan Anak Allah (Yoh 20:30-31).[47] Dalam Yohanes 20:30-31,dapat dikatakan bahwa ini juga merupakan tujuan dari Injil Sinoptik. Yohanes 2:11 “Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya”. Hal ini perlu dilihat dengan jelas bahwa murid-murid percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan manurut W.H. Harris:
“The frist sign-miracle had the same purpose as that of all the following sign-miracles, namely, to reveal the person of Jesus”.[48]
Dalam surat-surat Yohanes, istilah Mesias dipakai sebagai gelar yang dikaitkan denganYesus. Istilah Mesias (Kristus) hanya tiga kali muncul dalam kitab Wahyu. Semuanya ini dikombinasikan dengan nama Yesus dan dipakai sebagai sebuah gelar yang serupa dengan bentuk kombinasi, yaitu “Yesus Kristus” di dalam surat-surat Yohanes.[49]
Keselamatan
Sejumlah pihak berpendapat bahwa Yohanes, dalam gaya gnostik yang baik, mengajarkan keselamatan lewat Wahyu. Ada beberapa para ahli perbendapat bahwa konsep penebusan substitusionari merupakan konsep yang asing bagi pemikiran Yohanes. [50] Di sebagaian tulisan dari Yohanes, lebih banyak menyiratkan dari pada secara eksplisit mengembangkan konsep penebusan subsititusionari. Yohanes juga mempresentasikan bahwa Yesus sebagai wahyu Allah yang terakhir. [51]
Aspek penting lainnya dari soteriology Yohanes adalah universalitas keselamatan yang tersedia di dalam Yesus. Dalam Yohanes 4:42 dikatakan bahwa Yesus adalah “Juruselamat manusia”, dan Ia juga menawarkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya.[52] Pelaksanaan rencana keselamatan Allah merupakan salah satu tema utama dari Injil Yohanes. Dalam Yohanes 3:16-17, terkait dengan misis Bapa sehingga mengutus Sang Anak. Surat-surat Yohanes dan Kitab Wahyu juga menekankan tentang kematian Yesus sebagai kurban dan persembahan, dan ini merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah.[53] Inkarnasi Kristus langsung manjawab kebutuhan mutlak manusia tentang keselamatan. Anselmus berkata bahwa
“Dosa manusia dan kejatuhannya gambling membuktikan betapa manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita. Tapi sebaliknya, karen akita sendirilah yang berdosa, maka tindakan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah harus datang dari pihak kita”.[54]
Maka dalam hal ini, hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita, padahal seharusnya kitalah yang mengambil tindakan itu. Karena kedatangan Allah dalam daging tidak dengan sendirinya menyelamatkan kita. Kematian Allah-manusia itu mutlak dibutuhkan, seperti yang sudah dijelskan dalam Yohanes dan dalam lanjutan Injil-Nya. Dalam manjadi manusia, Yesus Kristus layak bertindak bagi kita dan atas nama kita, sebagai pengantara dan penebus.[55]
Roh
Dari semua Kitab Injil yang ada, Yohanes memiliki pengajaran yang paling lengkap mengenai Roh Kudus. Hanya dalam Kitab Injil ini istilah prakletos digunakan untuk merujuk Roh Kudus. Konteks dari pengajaran Yesus tentang Roh Kudus dalam Injil Yohanes adalah “kepergian” Yesus dari antara murid-murid-Nya yang akan segera terjadi.[56] Alih-alih bertindak secara bertindak secara independen, Roh Kudus menempatan diri-Nya dan misi-Nya sendiri lebih rendah daripada Yesus.
Ada tiga sebutan untuk Roh, yang pertama disebutkan sebagai parakletos (pembela atau kehadiran pertolongan), yang kedua Roh Kudus (difokuskan pada kekudusan Roh) dan yang ketiga adalah Roh Keenaran (difokuskan pada kebenaran Roh).[57] Fungsi dari Roh ialah Roh kudus sebagai Roh yang melahirbarukan seorang atau Roh yang memberi hidup, Roh Kudus sebagai penghibur dan penolong, Roh Kudus sebagai Guru.[58] Referensi lain tentang Roh Kudus ditemukandalam kesimpulan dari Yohanes.[59]
Komunitas Kovenan Baru
Istilah “gereja” tidak muncul dalam Yohanes juga dalam kitab-kitab Injil lainnya. Sebuah metafora lain bagi gereja dalam Injil Yohanes adalah tentang kawanan domba bersama Yesus sebagai gembala yang baik yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.[60] Sejumlah pihak telah menunjukkan bahwa Yohanes secara khusus menyoroti penting-Nya manusia secara pribadi beriman kepada Yesus. Yohanes juga menyampaikan bahwa pentingnya keseimbangan antara iman yang pribadi dengan pengajaran-pengajaran yang terpadu dalam sebuah gereja.[61]
Injil Yohanes dengan tegas menekankan pentingnya pelayanan misi, dan memiliki visi akan bergabungnya bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam komunitas Allah. Yang terakhir Yohanes menonjolkan istilah “percaya” (pisteuo) sebagai inti pengajaranya tentang persyaratan keanggotaan di dalam komunitas mesianik yang didirikan Yesus. Istilah tersebut muncul lebih dari seratus kali dan dibandingkan dengan gabungan kemunculannya di kitab-kitab Injil lain.[62] Komunitas Perjanjian yang Baru: Yesus adalah Israel baru, dan komunitas mesianik-Nya yang baru hanya ditandai dengan satu hal: Iman kepada Yesus sebagai Mesias. Saat Yohanes mengaitkan tulisannya dengan gambaran PL, ia menggambarkan orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai “kawanan domba” milik Yesus sebagai “ranting-ranting” Yesus, Sang Anggur yang baru.[63]
Akhir Zaman
Banyak pihak memberikan tekanan khusus pada “eskatologi yang sudah direalisasi” dalam Injil Yohanes.[64] Menurut Yohanes, kita dapat beroleh hidup yang kekal kini telah berpindah dari kematian kepada kehidupan. Yohanes terbukti memerhatikan sejarah penebusan. Pandangan eskatologisnya tidak sama dengan dualism bergaya hnostika (antara materi dan roh), namun merefleksikan pengaruh dari paham bangsa Yahudi yang membedakan antara “zaman ini” dengan “zaman yang akan datang”.[65]
Apa yang sudah digabambarkaan oleh Injil Yohanes seperti menunjukkan Kerajaan Allah yang disebut sebagai “hidup (yang kekal).” Seorang pendeta Baptis dan profesor tafsir Perjanjian Baru di Fuller Theological Seminary di Pasedena yang bernama George Ladd mengatakan bahwa “meskipun istilah yang dipakai berbeda, dan kita tidak akan mengidentifikasi Kerjaan Allah dan hidup yang kekal, struktur teologis yang mendasarinya tetap sama, meskipun diekspresikan dalam kategori yang berbeda.” [66]
Maka dalam hal ini, hidup yang kekal dalam Yesus sudah tersedia saat ini dan pada masa yang sekarang ini. Yesus akan menjadi wakilnya Allah dalam penghakiman akhir zaman. Sehingga orang-orang yang percaya harus mengikutinya zaman kedatangan-Nya yang kedua kali.[67]
Garis Besar Kitab Injil Yohanes
- Prolog tentang Logos
(Yoh 1:1-18) - I. Memperkenalkan Kristus kepada Israel
(Yoh 1:19-51) - A. Oleh Yohanes Pembaptis
(Yoh 1:19-36) - B. Kepada Murid-Murid Pertama
(Yoh 1:37-51) - II. Tanda-Tanda dan Ajaran-Ajaran Kristus kepada Israel dan Penolakan-Nya
(Yoh 2:1-12:50) - A. Penyataan Kristus kepada Israel
(Yoh 2:1-11:46) - 1. Tanda Pertama -- Air Menjadi Air Anggur
(Yoh 2:1-11)
Selang Waktu
(Yoh 2:12) - 2. Kesaksian Mula-Mula kepada Orang Yahudi di Yerusalem
(Yoh 2:13-25)
Hari Raya di Yerusalem (Paskah)
(Yoh 2:23-25) - 3. Ajaran Pertama: Kelahiran dan Kehidupan Baru
(Yoh 3:1-21)
Selang Waktu: Tentang Yohanes Pembaptis dan Yesus
(Yoh 3:22-4:3) - 4. Ajaran Kedua: Air Kehidupan
(Yoh 4:4-42)
Selang Waktu di Galilea
(Yoh 4:43-45) - 5. Tanda Kedua: Penyembuhan Anak Pegawai Istana
(Yoh 4:46-54)
Hari Raya di Yerusalem
(Yoh 5:1) - 6. Tanda Ketiga: Penyembuhan Orang di Betesda pada Hari Sabat
(Yoh 5:2-18) - 7. Ajaran Ketiga: Keilahian Kristus
(Yoh 5:19-47) - 8. Tanda Keempat: Memberi Makan Lima Ribu Orang
(Yoh 6:1-15) - 9. Tanda Kelima: Berjalan di Atas Air
(Yoh 6:16-21) - 10. Ajaran Keempat: Roti Hidup
(Yoh 6:22-59) - 11. Penyaringan Murid-Murid
(Yoh 6:60-71)
Selang Waktu
(Yoh 7:1) - 12. Hari Raya di Yerusalem (Pondok Daun)
(Yoh 7:2-36) - 13. Ajaran Kelima: Roh yang Memberi Hidup
(Yoh 7:37-52)
(Wanita yang Tertangkap dalam Perzinaan)
(Yoh 7:53-8:11) - 14. Ajaran Keenam: Terang Dunia
(Yoh 8:12-30) - 15. Perdebatan dengan Orang Yahudi
(Yoh 8:31-59) - 16. Tanda Keenam: Penyembuhan Orang Buta Sejak Lahirnya
(Yoh 9:1-41) - 17. Ajaran Ketujuh: Gembala yang Baik
(Yoh 10:1-21)
Hari Raya di Yerusalem (Penahbisan)
(Yoh 10:22-42) - 18. Tanda Ketujuh: Kebangkitan Lazarus
(Yoh 11:1-46) - B. Penolakan Kristus oleh Israel
(Yoh 11:47-12:50) - III.Kristus dan Permulaan Umat Perjanjian Baru
(Yoh 13:1-20:29) - A. Perjamuan Terakhir
(Yoh 13:1-14:31) - 1. Mencuci Kaki Murid-Murid dan Lanjutan Percakapan
(Yoh 13:1-38) - 2. Yesus, Jalan kepada Bapa
(Yoh 14:1-31) - B. Ajaran Tentang Pokok Anggur yang Benar dan Manfaat Persekutuan
dengan Kristus
(Yoh 15:1-16:33) - C. Doa Penyerahan bagi Diri-Nya dan Umat Perjanjian Baru
(Yoh 17:1-26) - D. Hamba yang Menderita
(Yoh 18:1-19:42) - 1. Penangkapan
(Yoh 18:1-12) - 2. Pengadilan Yahudi
(Yoh 18:13-27) - 3. Pengadilan Romawi
(Yoh 18:28-19:16) - 4. Penyaliban
(Yoh 19:17-37) - 5. Penguburan
(Yoh 19:38-42) - E. Tuhan yang Bangkit
(Yoh 20:1-29) - Pernyataan Tentang Tujuan Penulis
(Yoh 20:30-31) - Epilog
(Yoh 21:1-25)
[1] Darlene Zschech. Extravagant Worship (Jakarta: Immanuek Publishing House, 2003), 29.
[2] Kim, Woo Young. Yesuslah Jawaban. (Jakarta: Gunung Mulia, 2005), 202.
[3]Hengky Wijaya. KAJIAN TEOLOGIS TENTANG PENYEMBAHAN BERDASARKAN INJIL YOHANES 4:24 [Artikel Online] ; https://www.researchgate.net/publication/282652236_Kajian_Teologis_Tentang_Penyembahan_Berdasarkan_Injil_Yohanes_424. Diakses pada tanggal 8 April 2020.
[4] Dimin Bansai. Menjadi Penyembah Sejati. (Lullu: 2012), 7.
[5] Hengky Wijaya. KAJIAN TEOLOGIS TENTANG PENYEMBAHAN BERDASARKAN INJIL YOHANES 4:24 [Artikel Online] ; https://www.researchgate.net/publication/282652236_Kajian_Teologis_Tentang_Penyembahan_Berdasarkan_Injil_Yohanes_424. Diakses pada tanggal 8 April 2020.
[6] Stanley M.Horton. Oknum Roh Kudus. (Malang: Gandum Mas), 95.
[7] Ibid., 95
[8] Ibid, Extravagant Worship , 25.
[9] Ibid, 26.
[10] Witness Lee. Pelajaran Hayat Yohanes (1) (Yogyakarta: Yayasan Perpustakaan Injil Indonesia, 2019),
[11] Lim Halim. 40 Hari Transformasi Hidup Menjadi Baru. (Visi Press, 2011), 40.
[12] Lim Halim. 40 Hari Transformasi Hidup Menjadi Baru. (Visi Press, 2011), 34.
[13] Barclay M. Newman, Eugene A. Nida. Pedoman Penafsiran Alkitab Injil Yohanes. (Jakarta: LAI, Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2014), iv.
[14] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasa 1-7, (Jakarrta: Gunung Mulia, 2008), 1
[15] Ibid. 5
[16] Ibid. 5
[17] Roy B. Zuck, Darrell. Book dan diterjemahkan oleh Paulus Adiwijaya, A Bliblical Theology of the New Testament, (Malang: Gandum Mas, 2011).191-192.
[18] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Yohanes Pasal 1-7 (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1982), 1.
[19] Ibid, 2.
[20] Ibid, 8.
[21] S. Wismoady Wahono, Di sini Kutemukan Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 451.
[22] Witness Lee, Pelajaran Hayat Yohanes 3, (Jakarta: Yayasan Pepustakaan Injil, 2019), 42
[23] Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2001), 244.
[24] Ibid, 231.
[25] Ibid, Yohanes, 30.
[26] Ibid, 35.
[27] Roy B. Zuck, Darrell. Book dan diterjemahkan oleh Paulus Adiwijaya. A Bliblical Theology of the New Testament, (Malang: Gandum Mas, 2011), 192-193.
[28] Ibid, 193
[29] Ibid, 221
[30] Andreas J. Kostenberger, Encountering Jhon, (Malang: Literatur Saat, 2015), 42.
[31] David Iman Santoso, Theologi Yohanes, (Malang: Literatur Saat,2005), 40.
[32] Ibid, 40.
[33] Ibid, 40.
[34] Ibid, 41.
[35] Ibid, 41.
[36] Ibid, 41
[37] Ibid, 42
[38] Roy B. Zuck, Darrell. Book dan diterjemahkan oleh Paulus Adiwijaya, A Bliblical Theology of the New Testament, (Malang: Gandum Mas, 2011), 209.
[39] Ibid, 209.
[40] Ibid, 209.
[41] Ibid, 210.
[42] Ibid, 211.
[43] Ibid, 213.
[44] Ibid, 214.
[45] Ibid, 215.
[46] Ibid,215.
[47] Andreas J. Kostenberger, Encountering Jhon, (Malang: Literatur Saat, 2015), 43.
[48] David Iman Santoso, Theologi Yohanes Intisari dan Aplikasinya, (Malang: Anggrek Merpati, 2005), 35
[49] Ibid, A Bliblical Theology of the New Testament, 215.
[50] Ibid, Theologi Yohanes Intisari dan Aplikasinya, 44.
[51] Ibid, 44.
[52] Ibid, 45.
[53] Ibid, A Bliblical Theology of the New Testament, 241.
[54] Bruce Milne, Yohanes, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993), 60.
[55] Ibid, 61.
[56] Ibid, Encountering Jhon. 44.
[57] Ibid, 44
[58] Ibid, Theologi Yohanes, 52-57.
[59] Ibid, A Bliblical Theology of the New Testament. 225.
[60] Ibid, Encountering Jhon. 45
[61] Ibid, 45.
[62] Ibid, 45.
[63] Ibid, 48.
[64] Ibid, 45.
[65] Ibid, 46.
[66] Ibid, 46.
[67] Ibid, 48.
Comments
Post a Comment
Jika anda Ingin Membantu pelayanan ini, silahkan kirimkan bantuan anda dengan menghubungi email charinmarbun@gmail.com. Jika anda diberkati silahkan Tuliskan dalam komentar. Jika ada pertanyaan dan permohonan Topik untuk dibahas, silahkan tuliskan dikolom komentar. Terimakasih sudah membaca, Tuhan Yesus memberkati selalu.