Kemahakuasaan Allah




Frengki.K
KITAB KEJADIAN PASAL 1:26-28
Pendahuluan
 Dalam kamus KBBI kata “Mahakuasa”  diartikan dalam dua hal pertama teramat kuasa; dan kedua teramat besar kuasanya (Allah). Dalam pengertian yang diberikan juga kata ini diperuntukan bagi Allah . Kemahakuasaan Allah seperti yang diketahui oleh orang-orang pada umumnya bahwa Allah memperkenalkan dirinya dengan beberapa hal-hal tersebut.  Dengan aribut-atribut Allah yang dimaksud dalam hal ini ialah Allah maha tahu,Allah maha adil, allah mahakuasa, Allah maha pengasih, Allah maha hadir dan masih banyak yang  lagi.  Pada karya tulisan ini penulis ingin memahami dengan didasari oleh penelitian terhadap atribut Allah yang maha kuasa yang terdapat dalam kejadian 1:26-28.  Adapun tujuan penulis lebih jelas untuk memahami definisi serta rangkaian yang terhubung kepada Atribut Allah sebagai maha kuasa. Kemahakuasaan di sini bukanlah sekedar  pengertian umum, tetapi mempunyai isi yang terwujud yaitu hubungan dengan perbuatan-perbuatan Allah di dalam sejarah keselamatan.
Kemahakuasaan Allah Menurut Kitab kejadian 1:26-28
Dalam Kejadian 1 : 26 -28  tertulis : Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar  dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah  banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas  ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. "”
Dalam teks diatas Allah dinyatakan sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas Alam semesta.  Sebagai Allah yang mahakuasa Dia menciptakan segala sesuatu melalui Firman-Nya.  hal ini diperlihatkan sewaktu Ia menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dalam kejadian Pasal satu. Dalam pasal satu juga, puncak aktivitas kreatif allah adalah penciptaan Manusia, yaitu laki-laki dan perempuan,dalam kej. 1:27 .  Dengan demikian kemahakuasaan Allah yang pertama diperlihatkan melalui penciptaan langit dan bumi dan puncaknya adalah penciptaan manusia.
Allah yang mahakuasa (El-shaddai) adalah salah satu nama yang paling umum untuk Allah dalam kitab Ayub (terdapat 31 kali ), dan 8 kali terdapat dalam pentateukh dan juga El shaddai dapat berarti “Allah gunung,” dalam bahasa akad. Maksudnya disini adalah Allah yang berkuasa terhadap gunung-gunung yang sudah ada berabad-abad sebelumnya.  Gunung-gunung juga ciptaan lainnya menunjukan kemahakuasaan Allah yang tiada taranya.
Dalam kejadian 1:28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Selain kemahakuasaan Allah menciptakan segala sesuatu, hal ini juga terihat ketika ia memberkati manusia, memberikan mandat kepada mereka.  Allah sangat mengasihi ciptaan-Nya, terlebih manusia sebagai puncak dari karyanya, itu sebabnya Ia memberkati mereka. 
Manusia sebagai gambar Allah diciptakan untuk mewakili Allah sendiri sebagai penguasa tertinggi atas semua ciptaan.ini merupakan berkat yang diberikan Allah kepada manusia.  Hal ini menunjukan kemahakuasaan Allah, dimana ia dapat memberkati dan juga menunjuk wakilnya sebagai penguasa di bumi. Berkat ini harus di jalankan oleh setiap orang yang percaya kepada-Nya sebagai tanda ucapan syukur atas kemahakuasaan yang di tunjukan Allah.
Hubungan kemahankuasaan Allah dengan keterbatasan Manusia
Dari bahasan di atas dapat diketahui kemahakuasaan Allah pertama terlihat dari ciptaan-Nya. Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya.  Kata kerja “menciptakan” (bara) terdapat lima kali dalam kejadian 1(ay. 21,27), dan lima kali di antara kejadian 2:4 dan 6:7 dimana Allah selalu menjadi subyek dari kata kerja ini, dan tidak pernah disebut adanya bahan yang digunakan ketika Allah menciptakan sesuatu. Namun berbeda ketika Ia menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya ( Kej. 2:7). Secara logika hal itu tidak mungkin dilakukan tetapi mungkin bagi Allah.
Hal ini sangat berbeda dengan kemampuan manusia.  Ketika Manusia menciptakan benda apapun, tentunya memerlukan bahan dasar untuk membuatnya.  Sebagai contoh ketika membuat meja dan kursi tentunya memerlukan kayu sebagai bahan dasarnya.  Demikian juga dengan semua ciptaan manusia lainnya.  Manusia tidak dapat membuat seperti yang dilakukan Allah yang hanya melalui perkataan serta bahan dasar yang tidak mungkin secara logika.
Ketika allah menciptakan manusia ia memberkati mereka dengan mandat yang ditugaskan bagi mereka.  Namun Allah tidak lepas kendali, ia mengawasi ciptaan-Nya serta mencukupi setiap keperluannya.  Dalam kisah selanjutnya terlihat Allah memberikan hujan, memberikan segala tumbuhan yang berbiji sebagai makanan, serta meletakan mereka di Taman eden dimana Allah mengucupkan segala keperluan mereka.  Bukan hanya itu ia mau agar ciptaaan-Nya memiliki relasi dengan-Nya. Manusia ketika menciptakan sesuatu, belum tentu mengawasi semua ciptaanmya dan berharap ada relasi dari ciptaan tersebut.   Sebagai contoh pembuat ponsel belum tentu mengenali ciptaannya dan mengetahui apa yang  paling di perlukan oleh setiap  ponsel ciptaannya.
Relevansi kemahakuasaan Allah bagi kehidupan masa kini
Dari kejadian 1:26-28 dapat diketahui bahwa kemahakuasaan Allah terlihat dari bagaimana ia menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.  Sebagai manusia harusnya berterimaksih atas apa yang Allah perbuat dan juga menghargai ciptaan Allah.   Contoh sederhana adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan, dan menghargai satu sama lain. 
Selain itu kemahakuasaan Allah juga terlihat dimana ia memberkati manusia sebagai puncak dari ciptaan-Nya.  Ia juga tidak hanya menciptakan manusia dan membiarkan begitu saja tetapi ia mengawasi,mencukupi dan mengetahui apayang  paling diperlukan oleh ciptaan-Nya dan ia juga ia mau memiliki relasi dengan ciptaan-Nya.  Dengan demikian Allah yang mahakuasa bekerja dalam  kehidupan manusia bukan hanya pada waktu itu, tetapi sampai saat ini.
Kesimpulan
Kemahakuasaan Allah yang terlihat di kej. 1:26-28 terdiri dari dua bagian besar.  Pertama kemahakuasaan Allah di tunjukan melalui cara Dia menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.  Ia adalah pencipta langit dan bumi serta segala isinya dan puncak karya Allah Adalah penciptaan manusia.  Kedua, kemahakuasaan Allah juga diperlihatkan bagaimana Allah memberkati ciptaan-Nya (manusia) dan berkat itu harus disyukuri oleh setiap orang yang percaya kepada-Nya,  Selain itu Ia juga ia mengawasi,mencukupi dan mengetahui apayang  paling diperlukan oleh ciptaan-Nya dan ia juga ia mau memiliki relasi dengan ciptaan-Nya. 


DAFTAR PUSTAKA

Green, Dennis.  Pembimbing Pada Pengenalan Perjanjian Lama.  Malang:Gandum Mas,2004.
Niktrik G.C.Van dan B.J Boland.  Dokmatik Masa Kini. Jakarta: Bpk Gunung Mulia,2008.
Wolf,  Herbert.  Pengenalan Pentateukh.  Malang:Gandum Mas,2004.
Zuck Roy B.  A Biblical Theologi Of The Old Testament.  Diterjemahkan Oleh Suhadi Yeremia.  Malang:Gandum Mas, 2005.

Comments

Popular posts from this blog

Teologi Kitab 1 dan 2 Raja raja

Makna Baptisan Air dalam Tulisan Paulus

Teratur Membaca Alkitab