Apa Itu Homiletika?

A. Apa itu Homiletika?
Homiletika berasal dari kata Yunani “omou” (homou) yang berarti bersama-sama dan “lia” (lia) yang berarti khalayak ramai. Jika kedua kata ini digabung, maka pengertian yang didapatkan adalah “percakapan atau pembicaraan satu dengan yang lain untuk mencapai suatu pengertian.”[1] Dalam terjemahan Indonesia yang kita gunakan sehari-hari, tetap dapat dipakai istilah “homili” untuk menyatakan seseorang yang berbicara untuk menguaraikan sesuatu dalam rangka upacara liturgis.[2] Kata ini dikenal pula dengan istilah “khotbah.”Homiletika merupakan puncak dari penerapan semua prinsip hermeneutika (penafsiran Alkitab) dalam upaya memahami suatu nas Alkitab dan kemudian menyampaikannya kepada pendengar.[3]Apa itu Homiletika?
Sebagai suatu ilmu, homiletika adalah ilmu yang mengkaji bentuk, susunan, dan isi dari khotbah. Oleh karena itu, homiletika juga berbicara tentang bagaimana mempersiapkan khotbah, struktur, dan penyajian khotbah. Sebagai sebuah seni, homiletika adalah cabang dari retorika yang memberikan perhatian khusus kepada pembicaraan keagamaan. Secara retorika, khotbah boleh disebut sebagai “berpidato tentang hal-hal yang bersifat rohani.” Artinya, orang berbicara di depan umum yang sifatnya monolog (pidato) bukan menyampaikan gagasannya sendiri, melainkan menyampaikan gagasan rohani yang bersumber dari Alkitab dan juga penggalian dari sumber-sumber lain. Semua hal ini dikemas dalam bentuk seni berbicara di depan umum. Hal ini berarti, homiletika juga berbicara mengenai penampilan pengkhotbah, cara berbicara, dinamika suara, dan penggunan media.[4] Sebagai suatu kesimpulan, homiletika adalah seni berkhotbah atau ilmu tentang berkhotbah, yakni bagaimana mempersiapkan khotbah secara sistematis dan ilmiah serta membuat strategi supaya khotbah itu dapat berhasil.[5]Makna dari Homiletika adalah isi khotbah yang disampaikan adalah Firman Allah. Yesus datang kedalam dunia oleh karena kerinduanNya untuk memberitakan kabar baik tersebut. Isi khotbah hendaknya relevan, kontekstual mengikuti perkembangan zaman dan hendaknya khotbah menjawab isi pergumulan jemaat yang mendengarkan khotbah. Tujuan ilmu ini adalah salah satu cara atau usaha agar khotbah tentang keselamatan dari Allah melalui Yesus Kristus dapat disampaikan secara nyata, terang, jelas dan berkuasa.[6]
B. Apa pengertian dari khotbah?
Di atas telah dijelaskan bahwa homiletika berbicara mengenai seni dan sekaligus ilmu dari berkhotbah. Bagian ini akan menjelaskan lebih terperinci pengertian dari khotbah itu sendiri. Khotbah berasal dari bahasa Arab “khutbah” yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kata “khotbah.” Khotbah berarti penjelasan mengenai ajaran agama atau sikap yang saleh, benar, dan baik menurut ajaran agama. Bahkan penjelasan itu bisa berasal dari Kitab Suci, doktrin, tradisi sebagai dasar jawaban bagaimana orang hidup menurut ajaran agama.[7]Dari pengertian di atas, khotbah mempunyai pengertian yang lebih luas. Kata itu bukan sekedar memberikan penjelasan agama, melainkan dapat dimengerti pula sebagai kabar gembira, berita yang menyenangkan atau Injil. Sifat dasar dari kabar gembira ini dihubungkan oleh Perjanjian Baru dengan ungkapan: pewartaan (khotbah) Yesus, Injil Tuhan, kabar baik tentang kerajaan Allah. Gereja mula-mula mengungkapkannya dengan berita tentang Yesus yang wafat dan bangkit. Dalam Perjanjian baru kata didache (pengajaran) dan kerygma (pewartaan) kedua-duanya berjalan bersama-sama, dan kata itu dapat mengartikan khotbah sebagai pengajaran atau pewartaan tentang iman kita.[8]
Berkhotbah ialah penyampaian kebenaran oleh manusia kepada manusia. Di dalamnya terdapat dua unsur penting: kebenaran dan kepribadian. Kedua-duanya saling berhubungan satu sama lain. Definisi ini diberikan oleh Philips Brook, seorang pendeta Amerika terkenal pada abad ke-19. Berkhotbah juga dapat didefinisikan sebagai pengaliran kehidupan, penyaringan kebenaran ilahi melalui kepribadian manusia.[9] Jay Adams menambahkan bahwa sebuah khotbah tanpa melibatkan pekerjaan dari Roh Kudus adalah khotbah yang tidak bernilai.[10] Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa khotbah adalah Firman Tuhan yang diterima, dirasakan dan dilakukan oleh diri sendiri kemudian diutarakan dengan tegas dan nyata, supaya menjadi kesaksian dan jalan keselamatan bagi orang lain.
C. Mengapa kita harus berkhotbah
1. Amanat dari Yesus Kristus (Mat. 28:19-20). Perintah yang untuk “mengajar,” tentunya berhubungan langsung dengan penyampaian Firman Tuhan atau khotbah. Hal ini perlu untuk membangun jemaat, agar dapat melakukan perintah Tuhan.2. Dalam khotbah terdapat tegoran, nasihat, serta pengajaran yang diperlukan oleh semua orang percaya( 2 Tim. 4:2).
3. Manusia berdosa perlu mendengarkan Firman (Rm. 10:17; Rm. 10:13-14)
4. Khotbah membuat rohani kita bertumbuh (1 Ptr. 2:2)
5. Allah yang akan memperlengkapi kita (Ef. 4:11-12)
Mengapa Kita Harus Belajar Homiletika?
1. Khotbah yang tidak dipersiapkan dengan baik akan membuat pengkhotbah tidak maksimal, malah bisa menyesatkan jemaat.2. Khotbah yang disampaikan akan menjadi sasaran kritik yang empuk bagi pendengar.
3. Agar jemaat Tuhan tidak merasa jenuh dengan khotbah yang biasa-baiasa saja dan tidak sistematis.
4. Persiapan khotbah yang baik saja tidak cukup, perlu untuk mempelajari bagaiamana cara menyampaikan dengan menarik, sehingga dapat menarik respon jemaat
5. Agar pengkhotbah benar-benar menyampaikan maksud dan kehendak Allah bukan menyampaikan ide dan kehendak diri sendiri.
E. Tokoh dalam Alkitab yang Berhomiletik?[11
1. Yesus Kristus : Sekalipun relatif singkat hanya 33 tahun dan riwayat pelayananNya lebih singkat lagi, hanya tiga tahun, tetapi membawa dampak yang sangat luar biasa. KeberhasilanNya terjadi, karena ke mana saja Ia pergi Ia selalu menyampaikan Firman Tuhan (Mat. 4:17). Jika diperhatikan secara cermat, khotbah yang disampaikan bukan sekedar asal disampaikan saja, tetapi Dia melakukan perencanaan dengan rapi dan sistematis. Hal ini menunjukkan Yesus mengerti betul tentang Homiletika. *(metode homiletika Yesus Kristus akan dibahas terpisah ).
2. Petrus : sebagai orang desa yang minim dari segi pendidikan, tetapi tatkala menyampaikan khotbah yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2 sungguh mengejutkan dan mengagumkan, karena hasilnya dapat membawa pertobatan sebanyak tiga ribu orang (Kis. 2:41). Jika diteliti, isi khotbah Petrus menunjukkan hal yang sangat homiletis, yaitu terdapat pendahuluan, menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai landasan khotbahnya, ada pembagiannya, ada penerapan dan ada kesimpulannya. Memang harus diakui bahwa yang dilakukan Petrus itu adalah karya Roh Kudus. Tetapi bukan berarti bahwa di bawah bimbingan Tuhan Yesus selama kurang lebih tiga tahun, ia tidak mendapat pembekalan, khususnya dari segi ketrampilan berkhotbah.
3. Rasul Paulus : rasul Paulus yang menerima pendidikan langsung dari guru besar yang ternama pada waktu itu, yakni Gamaliel, tidak diragukan lagi pasti ia dibekali dengan ilmu berpidato yang sangat membantu dalam pelayanan mimbarnya. Ia sendiri mengungkapkan pentingnya homiletika itu. Karena itu menurutnya, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?”(Rm. 10:14).
F. Kedudukan Homiletika dalam Teologi[12]
Secara umum teologi dibagi dalam 4 bagian besar, yaitu:
1. Teologi Biblika: Teologi ini bertugas menggali arti dan makna yang benar serta kebenaran-kebenaran yang ada di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai pegangan iman. Ilmu yang termasuk di dalamnya antara lain: perkenalan PL dan PB, eksposisi PL dan PB, bahasa Ibrani dan Yunani, Hermeneutika, Eksegese (ilmu tafsir), Teologi PB dan PL.
2. Teologi Sistematika: Teologi ini bertugas menemukan, merumuskan dan mempertahankan dasar iman sambil menyelidiki cara dan pengalaman iman, dalam berpikir dan bertindak terhadap obyek yang bersifat dogmatis. Bidang-bidang yang termasuk antara lain: Teologi Proper, doktrin Trinitas, Kristologi, Pneumateologi, Eklesiologi, Sinologi, Angelologi, Teologi Paulus, Teologi Calvin dll.
3. Teologi Historika: teologi ini bertugas mengikuti dan menyelidiki perkembangan pengajaran dan sejarahnya, misalnya: sejarah Gereja dunia, Sejarah Gereja Asia, sejarah Gereja Indonesia, sejarah doktrin, dll.
4. Teologi Praktika: Teologi ini bertugas memberikan dan melancarkan cara penyampaian iman dalam usaha pemberitaan agar relevan dan mengenai sasaran. Singkatnya, teologi ini bertugas untuk memikirkan bagaimana ketiga teologi di atas dapat memaknai hidup manusia. Bidang-bidangnya antar lain: Homiletika, Kateketik, Evangelisasi, Misiologi, Pendidikan Kristen, Apologetika, Pertumbuhan Gereja, Manajemen Gereja, Kepemimpinan Kristen, Metode Pengabaran Injil, dll. Jadi jelas letak Homiletika atau ilmu berkhotbah adalah di bawah disiplin teologi praktika.
G. Ciri-ciri Homiletika[13]
1. Homiletika tidak terlepas dari Kitab Suci. Kitab Suci memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus, maka nats-nats Alkitab harus menjadi dasar khotbah. Karena tidak baik jika kita membaca nats khotbah saja, karena penghayatan dan Firman Allah disaksikan dalam nats Alkitab harus dihubungkan dengan masa, tempat, dan peristiwa-peristiwa tertentu. Jadi, nats khotbah selalu dihubungkan dan harus berdasar pada Alkitab. Sebuah khotbah tanpa nats Alkitab, kemungkinan jadi itu adalah pidato yang mengemukakan pikiran si pengkhotbah bukan Firman Allah.2. Homiletika adalah khotbah manusia yang berbicara tentang Allah kepada kita. Hal itu karena Allah lebih dulu berfirman kepada manusia yaitu menyatakan diri kepada kita dan yang paling sempurna yaitu di dalam Yesus Kristus (Ibr 1:1-3; Mat 13:16-17). Di dalam pemberitaan kita harus berpusat pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, karena oleh-Nya kita mendapat hidup yang baru. Itulah intisari “Uanggelion” yaitu kabar kesukaan.
3. Dalam hal menjalankan tugas pemberitaan injil, si pengkhotbah tidak tergantung atau tidak bertanggung jawab kepada Tuhan saja, melainkan juga kepada gereja yang memanggil dan mentahbiskan dia sebagai pendeta atau pemberita. Terlebih lagi kepada orang-orang yang mendengarkan pemberitaanNya.
H. Dasar Teologis Khotbah [14]
1. Keyakinan Akan Allah
Allah pencipta itu ada dan terus ada tetapi karena dosa manusia tidak dapat mengenal keberadaan Allah secara benar. Keberadaan Allah yang adalah terang, keberadaan Allah yang adalah kasih, keadilan dan kedaulatan Allah, pemeliharaan dan hukuman Allah, semua yang nyata jelas dalam Alkitab, harus diajarkan dan diberitakan melalui khotbah. Manusia perlu mengenal Allah. Allah berfirman, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran” Hosea 6:6. Hanya dengan mengenal Allah manusia akan mengerti siapa dirinya dan bagaimana harus menjalankan hidup ini. Dengan kata lain pengenalan akan Allah akan membuat manusia bahagia.2. Keyakinan Akan Alkitab
Alkitab adalah Firman Allah dari Allah yang kekal. Allah masih dan terus akan berbicara melalui Firman-Nya (Alkitab) yang berkuasa untuk mengajar, untuk menyatakan dosa dan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran Allah (2 Tim 3:6). Alkitab adalah terang dan hikmat bagi manusia. Dari Alkitab manusia dapat menemukan jalan keselamatan, dan menolong manusia untuk bertumbuh dalam kebenaran.3. Keyakinan Bahwa Allah Bisa Memakai Mulut Manusia Untuk Kemuliaan-Nya
Waktu Yesus akan meninggalkan para muridnya, Ia memberikan Amanat Agung, yaitu untuk menyaksikan pribadi dan karya-Nya. Itu berarti manusia dapat menjadi alat pemberitaan Firman Allah. Manusia harus mengenal Firman Allah dengan benar dan kemudian belajar untuk melakukannya baru dapat memberitakan Firman Allah dengan baik dan benar. Memang seorang dapat juga pengkhotbah memanipulasi ayat-ayat Alkitab dan menggunakannya untuk keuntungan pribadi, namun dari segi positif, Allah mau berkomunikasi kepada manusia lewat seorang pengkhotbah.4. Keyakinan Bahwa Sesungguhnya Manusia Butuh Firman Tuhan
Firman Tuhan menjawab semua kebutuhan manusia. Adapun kebutuhan manusia itu adalah:· Kebutuhan akan Injil : Manusia perlu mendengar Injil yang olehnya manusia dapat diselamatkan, dilepaskan, dari segala penderitaan karena dosa. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. (Rom 1:16-17)
· Kebutuhan akan Ajaran :Manusia perlu mendapat ajaran yang sehat yang mengajarkan segala kebenaran Allah dalam Alkitab. Ajaran-ajaran tersebut memberi pengertian kepadanya akan hal hidupnya yang dapat diberkati Tuhan. (Maz 119:66, 130).
· Kebutuhan Etika :Manusia perlu mengetahui bagaimana ia dapat menjalankan hidupnya dalam hubungannya dengan sesamanya, baik dalam keluarganya, di antara umat Tuhan, maupun di tengah-tengah masyarakat pada umumnya agar ada ketentraman. (Maz 119:165)
· Kebutuhan untuk Melayani: Manusia perlu mengetahui bagaimana ia dapat menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam pelayanan. Dengan kasih Kristus dalam hatinya ia tidak dapat menjadi anggota tubuh Kristus yang pasif saja. Ia harus melayani. Alkitab berkata, “Karena kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita ini hidup di dalamnya” (Efe 2:10) Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah adalah juga untuk melayani Dia.
· Kebutuhan untuk memuji dan menyembah Tuhan: Pemazmur berkata, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” (Maz 119:164) Manusia perlu mencurahkan hatinya kepada Tuhan pencipta dan juruselamatnya. Ia perlu menyatakan kasihnya kepada Tuhan dengan memuji dan menyembah-Nya.
I. Tujuan Khotbah[15]
1. Manusia Mengenal Allah Secara Benar
Manusia perlu mengenal Allah dengan benar agar mengerti jalan kebenaran (Yoh 14:6); manusia perlu mengenal Allah yang penuh kasih agar manusia mengenal kasih sejati yang penuh perhatian, penghargaan, penghiburan, dari Yesus Kristus; manusia perlu mengenal keadilan dan hukuman Allah agar manusia bertobat dan berhati-hati hidup dalam dunia ini; dan lain sebagainya. A. W. Tozer berkata, “Kepastian bahwa Allah (karena pengenalan akan Allah) itu selalu berada di dekat kita, hadir di segala bagian dunia ciptaan-Nya, lebih dekat kepada kita daripada pikiran kita sendiri seharusnya memberikan kebahagiaan batin kepada kita…” Jadi khotbah bertujuan agar manusia mengenal Allah dan mengenal-Nya semakin hari semakin baik.
2. Menerangkan yesus kristus dan karya-Nya yang sudah genap dan sempurna
Alkitab berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengarkan perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Sebagaimana Yesus menginginkan agar para pengikut-Nya memberitakan Injil, maka melalui khotbah hendaknya pribadi dan karya Kristus yang merupakan inti berita Alkitab diterangkan dan dengan demikian manusia mengenal Yesus.3. Mengubah kehidupan (pertobatan)
Seorang pengkhotbah sebaiknya juga mengharapkan agar Roh Kudus memakai khotbahnya, supaya orang berdosa mengalami peristiwa kelahiran baru di dalam Kristus dan didamaikan dengan Allah (Yoh 16:18).4. Mengubah orang menjadi semakin dewasa
Perubahan menuju kepada kedewasaan dalam iman yang dimaksud yaitu; dalam pengetahuan yang benar tentang Allah dan firman-Nya/doktrin (Efe 1:17), meneguhkan dan menimbulkan iman (Rom 10:17; Ibr 4:12), pertumbuhan karakter dan sifat, dan sebagainya (Mat 28:19-20; Gal 5:22-26)
5. Menghibur orang yang gelisah/kuatir/menderita
Jika seseorang diindoktrinasi secara benar dalam pengajaran Firman Allah maka ia menjadi cukup kuat dalam menghadapi pencobaan dan seperti Tuhan Yesus yang dicobai di padang gurun, Ia dapat berkata, “Ada tertulis” (Mat 4:4, 7, 10).
6. Supaya Alkitab dicintai sebagai pedoman hidup yang utama
Daud berkata, “Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” Maz 119:105. Alkitab adalah jawaban atas semua pergumulan, ketakutan dan kerinduan manusia. Oleh karena tujuan yang demikian mulia dari suatu khotbah, maka sebaiknya khotbah disampaikan dengan memperhatikan tiga prinsip yaitu:
· Pertama, khotbah harus disampaikan dengan menarik. Jika khotbah yang bagus disampaikan tanpa memperhatikan prinsip ini maka akan ada banyak orang yang tidak dapat mengikuti khotbah tersebut dengan seksama.
· Kedua, khotbah harus disampaikan sejelas mungkin sehingga sebagian besar jemaat (syukur kalau bisa semua) dapat mengerti. Khotbah perlu disampaikan dengan suara yang jelas, kata-kata yang jelas, alur pikiran yang jelas dan terutama berita/pesan yang jelas.
· Ketiga, pengkhotbah harus memikirkan bagaimana berita yang disampaikan mampu memotivasi pendengar sehingga jemaat mau melakukan apa yang diperoleh dari khotbah yang ia dengar. Prinsip ini membuat seorang pengkhotbah untuk berdoa agar kuasa Roh Allah bekerja melalui khotbah yang ia sampaikan.
J. Khotbah yang Efektif[16]
Sesuai dengan Alkitab: Berita yang disampaikan harus bersumber dari Alkitab dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang berotoritas dan sebagai jawaban terhadap semua permasa lahan dan kebingungan manusia di dunia.· Beritanya Jelas: Satu pokok/tema yang dibahas, kemudian dikembangkan/dijelaskan. Jangan buat khotbah yang membingungkan karena terlalu banyak pokok bahasan sehingga menjadi susah untuk diingat. Struktur, bahasa, pokok pikiran, suara harus jelas sehingga jemaat mengerti jelas apa yang disampaikan.
· Menarik: Gerakan tubuh: ada kerjasama dengan mata, tangan, dan badan. Suara: tidak monoton dan membosankan. Ada contoh atau ilustrasi atau analogi. Pendahuluan yang baik. Penutup yang sesuai.
· Relevan: Menyentuh kehidupan pendengar karena itu perlu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pendengar.
· Menjiwai: Ada penjiwaan dalam berkhotbah dan memperhatikan kaidah-kaidah ilmu berkhotbah sehingga khotbah terlihat lebih hidup.
K. Metode Homiletika Yesus Kristus[17]
1) Khotbah yang sederhana dan mudah dimengerti : bagi para pendengarNya khotbah Yesus dirasakan tidak sama seperti ahli-ahli Taurat, karena cara yang dipakai Tuhan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Contoh yang nyata dapat dilihat dalam pengungkapan kebenaran tentang kuatir. Dalam Matius 6:26, ia mengatakan, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” dengan penggunaan kata-kata yang sederhana, Tuhan Yesus bukan saja menggugah dan menyadarkan masalah yang sedang dialami orang lain, namun juga meyatakan pemecahan, sehingga membawa penghiburan yang luar biasa bagi pendengarNya.2) Khotbah yang hidup dan menarik: untuk mencapai tujuan dari khotbah Tuhan Yesus sering menggunakan cerita yang menarik sebagai bahan untuk mengungkapkan tujuan tersebut. adakalanya para pendengar dengan cepat melupakan kebenaran yang disampaikan; tetapi cerita yang disampaikan tidak mudah dilupakan. Oleh karena itu, ketika sedang berkhotbah, cerita yang disampaikan harus merupakan ungkapan dari kebenaran. Dengan demikian ketika pendengar mengingat cerita yang disampaikan, mengingat juga inti kebenaran Firman Tuhan.
3) Khotbah yang konkret ke abstrak: contoh yang konkret dapat kita lihat dalam perumpamaan “anak yang hilang” (Luk. 15:11-32). Tuhan memulai cerita itu dengan menyatakan hubungan antara orang tua dan anak; kemudian pendengar dibawa ke dalam hubungan antara Allah dan manusia. Pernyataan kasih yang dinyatakan orang tua terhadap anak yang sudah diketahui masyarakat umum, kemudian kemudian diungkapkan Tuhan Yesus sebagi wujud kasih Allah terhadap manusia.
4) Khotbah yang jelas tujuannya: dalam khotbah-khotbah Yesus yang pada umumnya berbentuk perumpamaan, ilustrasi maupun cerita pasti mempunyai satu tujuan yang jelas. Kita melihat dalam perumpamaan yang terdapat di dalam Lukas 13,15, dan matius 24. Meskipun perumpamaan yang dipakai berbeda-beda tetapi pada hakekatnya mengungkapkan satu tujuan atau satu kebenaran saja. Apabila satu khotbah mempunyai banyak tujuan, bukan saja menyulitkan pengkhotbah untuk menyimpulkan khotbahnya, tetapi juga akan membingungkan para pendengar dalam memahami maksud pengkhotbah.
5) Khotbah yang penuh kepastian: Tuhan Yesus menyampaikan khotbahNya dengan penuh keyakinan. Hal inilah yang membuat khotbah-khotbahNya penuh kuasa dan berbeda dengan ahli-ahli Taurat. Sikap ini tentunya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan pengetahuan Yesus terhadap Allah dan FirmanNya. Hal ini juga yang diharapakn dari pengkhotbah-pengkhotbah yang mau dipakai Allah secara luar biasa. Hal ini bisa dilakukan jika kita mempercayai Alkitab sepenuhnya tanpa keragu-raguan.
L. Khotbah menurut gunanya[18]
1. Khotbah biasa; hari minggu, persekutuan, kebaktian rumah tangga, dll.2. Khotbah istimewa; kaum bapak, kaum ibu, pernikahan, kematian, dll.
3. Khotbah yang memakai satu tema khusus; Mazmur, Habakuk, atau sebagai preventif terhadap ajaran sesat seperti Saksi Yehovah, Ajaran Pluralisme, dll. Di sini kita harus membeberkan kebenaran Alkitab.
M. Khotbah menurut isinya[19]
1. Pertobatan (misal: tema; Lahir Kembali, nats; Yoh 3:16)2. Penghiburan (tema: Allah mengerti, Rom 8:28)
3. Pemupukan Rohani (sifatnya teguran)
4. Penguraian Alkitab (Eksposisi)
5. Tokoh-tokoh Alkitab (Musa, Paulus, dll.)
6. Dogmatika (Doktrin Keselamatan)
7. Penghidupan (Keluarga, uang, sosial masyarakat, pendidikan, etika, dll.)
8. Kebangunan Rohani/Penyegaran Rohani
9. Natal, Paskah, dll.
N. Khotbah menurut strukturnya
1. Topikal yaitu khotbah yang punya tema, tema dipilih dahulu kemudian menerangkannya bagian demi bagian. Biasanya berkisar pada sebuah pokok yang diambil dari dalam atau luar Alkitab, misal; dosa, sorga, kelaparan, pemilu, hutang/kredit, soal-soal etika, dan sebagainya.[20] Khotbah topikal mulai dengan satu topik atau tema dan poin-poin khotbah itu, terdiri atas ide-ide yang lahir dari apa yang sedang dibahas. Bagian utama kerangka khotah harus diambil dari pokok Alkitab, dan setiap bagian utama harus ditunjang oleh sebuah ayat Alkitab pendukung. Perhatikan contoh di bawah ini: [21]Judul: “Pengharapan orang percaya”
Pokok: sifat-sifat pengharapan orang percaya
I. Itulah pengharapan yang hidup (1 Pet. 1:3)
II. Itulah pengharapan yang menyelamatkan (1 Tes. 5:8)
III. Itulah pengharapan yang pasti (Ibr. 6:19)
IV. Itulah pengharapan yang baik (II Tes. 2:16)
V. Itulah pengharapan yang tak kelihatan (Rm. 8:24)
VI. Itulah pengharapan yang penuh bahagia (Tit. 2:13)
VII. Itulah pengharapan yang kekal (Tit. 3:7)
2. Tekstual yaitu khotbah yang berdasarkan nats. Mengambil dua ayat atau lebih dan kemudian menerangkannya dengan jelas. Tema, kalimat kunci, pokok-pokok pikiran diambil dari dua ayat ini saja.[22] Teks dapat saja terdiri dari hanya satu baris dari suatu ayat, atau seluruh ayat bahkan dua atau tiga ayat juga bisa. Kadang-kadang teks itu begitu padat sehingga kita bisa mendapat banyak kebenaran atau hal-hal yang dapat dipakai untuk menguraikan pikiran-pikiran yang terdapat dalam suatu kerangka. Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa “teks memberikan tema khotbah”. Hal ini tentunya berbeda dengan khotbah topik, di mana kita mulai dengan tema atau topik, sekarang kita mulai dengan teks yang akan menunjukkan ide utama khotbah. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:[23]
Judul : “Pengajaran Alkitab yang Bermutu”
Nats: Ezra 7:10
Pokok: Hal-hal yang diperlukan dalam pengajaran Alkitab yang efektif
I. Memerlukan keputusan yang teguh, “Ezra telah bertekad.”
II. Memerlukan asimilasi yang rajin, “untuk meneliti taurat Tuhan.”
III. Memerlukan dedikasi sempuran, “melakukannya”
IV. Memerlukan penyebaran yang setia, “serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara irang Israel.”
3. Ekspositori yaitu didasarkan pada nats Alkitab yang dan pokok-pokok besar serta pokok-pokok kecilnya diambil dari nats tersebut.[24] Khotbah ekspositori adalah bentuk amanat mimbar yang paling efektif dari semua jenis khotbah. Khotbah jenis ini menghasilkan jemaat yang paham akan ajaran Alkitab. Dengan mengupas satu bagian Kitab Suci, pendeta telah menunaikan fungsi khotbah utama, yaitu menafsirkan kebenran Alkitab kepada manusia. Perbedaannya dengan khotbah tekstual, selain jumlah ayat yang dipakai, adalah seluruh pikiran khotbah ekspositori itu diambil dari teks ( baik bagian utama maupun penjelasan tambahan), dan khotbah itu benar-benar bersifat menjelaskan.[25]
Manfaat Khotbah Ekspositori:[26]
1. Bagi Pengkhotbah
a) Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan integritas. Pengkhotbah mewajibkan menyampaikan apa yang Allah katakan dan bukan apa yang pengkhotbah ingin katakan. Jadi ia tidak sembarangan berbicara, karena penyimpangan makna teks Alkitab bisa menghasilkan iman Kristen yang menyimpang. Pengkhotbah harus bekerja keras, bertanggungjawab.b) Memupuk rasa percaya diri yang benar. Otoritas yang paling kuat dari seorang pengkhotbah bukan terletak pada dirinya sendiri, melainkan pada amanat khotbah yang dibawanya. 1 Kor 2:4.
c) Memberi dukungan wibawa dalam mengaplikasi khotbah. Apabila aplkasi bersumber dari amanat teks maka jemaat tidak akan merasa “ditembak” atau disindir oleh sang pengkhotbah. Semua teguran, imbauan, dan nasihat akan diterima dengan wajar oleh pendengar sebagai pesan dari Tuhan sendiri.
d) Menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman Alkitab yang lebih menyeluruh. Khotbah ekspositori akan mendorong pengkhotbah untuk menggali dengan serius kekayaan teks , tidak hanya dari topik-topik yang ia sukai saja.
e) Menyediakan bahan khotbah yang tak pernah habis.Alkitab memiliki puluhan ribu teks Alkitab yang memiliki konteks yang berbeda-beda.
f) Mengurangi stress dalam memilih topik khotbah. Seorang pengkhotbah rasa stresnya akan berkurang karena Ia hanya perlu menentukan teks, bukan topiknya, kemudian ia menggalinya dengan setia dan tekun.
2. Bagi Pendengar
a) Firman Tuhan akan menjadi makanan rohani yang sehat. Seumpama makanan, khotbah ekspositori bukalah cemilan, melainkan makanan sehat yang kandungan gizinya mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan bagi pertumbuhan jemaat. Roma 10:17b) Menumbuhkan pemahaman Alkitab yang lebih baik dan utuh. Jemaat juga belajar memahami Alkitab lebih mendalam, sehingga mereka tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran sesat.
c) Memupuk kecintaan dan kekaguman pada firman Tuhan. Jemaat akan melihat kekayaan dan keunikan Alkitab sebagai Firman yang tidak habis-habisnya.
d) Mendapat makanan rohani yang seimbang. Tidak dipengaruhi oleh latar belakang teologi pengkhotbah, seperti ada yang lebih menekankan kemakmuran dan juga ada yang sebaliknya penderitaan. Khotbah ekspositori yang mendasari khotbah dengan amanat teks, bukan amanat favoritnya, dapat menghindari pengkhotbah dari kecendrungan tersebut.
Contoh khotbah Ekspositori:[27]
Judul: “Tuhan Kita yang tidak ada bandingannya”
Nats: Matius 14:14-21
I. Belas Kasihan Yesus (ay. 14)
a. Diperlihatkan dalam perhatianNya terhadap orang banyak (ay.14)
b. Diperlihatkan dalam pelayananNya terhadap orang banyak (ay.14)
II. Kelembutan Yesus (ay. 15-18)
a. Ditunjukkan dalam jawabanNya yang ramah kepada murid-muridNya (ay. 15-16)
b. Ditunjukkan dalam kesabaranNya ketika berurusan dengan murid-muridNya (ay. 17-18)
III. Kuasa Yesus (ay. 19-21)
a. Dinyatakan dalam meberi makan orang banyak itu (ay. 19-21)
b. Dinyatakan melalui pelayanan murid-muridNya (ay. 12-21)
4. Biografi biasanya lebih dari dua ayat. Tema, kalimat kunci, yaitu khotbah tokoh-tokoh yang ada dalam Alkitab.[28] Khotbah ini berisi penelaahan kehidupan salah seorang tokoh Alkitab. Semua fakta mengenai tokoh tersebut menjadi dasar pesan khotbah yang hendak disampaikan namun dengan aplikasi modern.[29] Contohnya kisah mengenai Yusuf, Daud, Musa, Abraham, dan lain sebagaianya.
5. Seminar yaitu khotbah yang mengambil satu tema khusus dan menguraikannya secara ilmiah dan diikuti dengan tanya jawab.[30]
6. Monolog Dramatis. Khotbah jenis ini adalah bentuk khusus dari khotbah biografi. Dalam khotbah bentuk ini, pengkhotbah sendiri menjadi tokoh yang berusaha dihadirkannya. Ia memerankan pesan tokoh tersebut, bahkan seringkali mendandani dirinya dengan busana otentuk yang ada dalam Alkitab.[31]
O. Bagian-bagian Khotbah
1) Judul atau Topik
· Harus pendek: judul yang pendek mefokuskan perhatian, sedangkan judul yang panjang cenderung memecah pikiran.
· Harus menarik
· Harus mengungkapkan isi khotbah
· Harus sesuai dengan tugas suci dari khotbah. Sebuah judul harus segar, menarik, dan merangsang pikiran tanpa mengorbankan rasa hormat terhadap Firman Allah.
· Harus berhubungan dengan keperluan dan minat para pendengarnya.
2) Pendahuluan :
· Adalah kalimat-kalimat awal yang berisi gagasan pertama yang mengantar pendengar kedalam keseluruhan khotbah.
· Pada tahap ini, seorang pengkhotbah hanya mempunyai waktu beberapa menit untuk menarik perhatian jemaat.
· Bila tahap ini gagal, akan sulit menarik perhatian jemaat untuk mendengarkan sisa khotbahnya.
Apa saja yang harus diperhatikan dalam membuatnya?
· Harus menarik perhatian jemaat
· Harus menyebutkan pokok pembicaraan dan mengungkapkan cara pengembangannya.
· Singkat dan jelas
· Harus mempersiapkan para pendengar untuk menerima kebenaran Alkitab dengan senang hati. Menarik perhatian saja tidak cukup karena pendengar harus memperhatikan dengan hati yang menerima. Ajakan kepada pendengar yang harus menjadi tujuan tiap khotbah, pada umumnya dimulai dalam pendahuluan.
Bagaimana cara membuat pendahulan?
· Bisa menggunakan suatu cerita atau ilustrasi
· Bisa membuka dengan kesimpulan
· Bisa menggunakan pertanyaan retoris
· Bisa menggunakan pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu
· Bisa memakai kutipan, peribahasa, puisi atau lagu
· Bisa menggunakan humor
· Bisa menggunakan latar belakang konteks
3) Kalimat peralihan: pertanyaan yang meghubungkan pendahuluan dengan isi atau pokok-pokok dalam sebuah khotbah
4) Pokok-pokok utama (poin-poin khotbah)
· Harus dinyatakan sebagai kalimat-kalimat yang pendek tetapi juga lengkap
· Harus ditopang oleh Firman Allah. Tiap pokok utama dan semua khotbah, khususnya ekspositori, perlu diperkuat oleh Firman Allah, biasanya dengan menutip langsung ayat-ayat Alkitab.
· Harus berdiri sendiri-sendiri. Apa yang sudah dikatakan dalam satu pokok, jangan diulagi di pokok lain.
· Harus cocok satu sama lain dalam kesatuan dan urutan. Urutan dari pokok-pokokdapat dibuat sesuai urutan pemikiran yang wajar.
· Harus ada perkembangan yang dapat dirasakan oleh pendengar yang menuju pada penutup yang kuat
· Sedapat mungkin bentuknya harus sejajar. Kesejajaran ide, yang dinyatakan dalam bentuk sejajar diperlukan untuk mengingat urutan poin-poin yang disampaikan kepada pendengar.
5) Ilustrasi
Fungsi ilustrasi dalam khotbah?
· Memperjelas kebenaran
· Mengingatkan kebenaran
· Meningkatkan kembali perhatian
· Menurunkan ketegangan
· Menyentuh perasaan
Apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat ilustrasi?
· Harus menyokong tujuan khotbah
· Harus benar
· Harus masuk akal
· Menyenangkan
6) Aplikasi
· Aplikasi adalah penerapan firman Tuhan yang telah kita uraikan kepada pendengar.
· Disinilah pendengar mengerti apa yang Tuhan inginkan dari dirinya, apa yang seharusnya ia lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
· Dalam aplikasi pendengar didorong untuk mengambil keputusan.
· Aplikasi merupakan konsumsi dari kemauan (kehendak/will)
karenanya dalam aplikasi pengkhotbah membujuk, meyakinkan, menasehati, bahkan mendesak pendengar untuk mengambil keputusan
Prinsip-prinsip aplikasi khotbah yang efektif
· Aplikasi harus sesuai dengan kebenaran
· Bersifat praktis
· Menyentuh kebutuhan jemaat
· Bersifat personal dan spesifik
· Disampaikan dengan rendah hati, sopan dan bersifat mengajak bukan menggurui
7) Kesimpulan/ penutup
· Pada umumnya penutup khotbah harus singkat, jelas dan spesifik.
· Kesimpulan harus mencerminkan pokok-pokok utama dari apa yang telah disampaikan
· Penutup khotbah harus disampaikan dengan keseriusan
· Dalam kesimpulan juga pengkhotbah mengimbau setiap pribadi untuk memberi tanggapan secara nyata, baik tindakan maupun tekad, janji untuk berserah atau kembali kepada Yesus atau ucapan syukur
· Hindari tanda-tanda yang membingungkan yang menandakan bahwa khotbah akan selesai padahal masih terus berjalan.
· Tidak memunculkan ide baru
· Kesimpulan bisa diakhiri dengan ilustrasi, ayat Alkitab yang berkaitan dengan khotbah, dan harus diakhiri dengan kalimat penutup yang memberikan dampak.
P. Kerangka Khotbah
Judul :
Teks :
Tujuan Khotbah :
Pendahuluan
1.
2.
Kalimat tanya
Kalimat peralihan
Poin-poin Khotbah: (disesuaikan dengan poin-poin khotbah)
I.
a. Penjelasan
b. Ilustrasi
c. Aplikasi
Kalimat peralihan
II.
a. Penjelasan
b. Ilustrasi
c. Aplikasi
Kalimat peralihan
III.
a. Penjelasan
b. Ilustrasi
c. Aplikasi
Kesimpulan
1.
2.
Q. Sumber-sumber bahan khotbah[32]
1) Alkitab
2) Sejarah. Mengenal sejarah kerajaan-kerajaan yang mempunyai hubungan dengan umat Allah dalam zaman Alkitab akan sangat menambah pengertian tentang Alkitab. Sejarah akan mengungkapan kebenaran Allah kepada generasi-genaris kemudian.
3) Sumber-sumber lain. Sumber-sumber yang dimaksudkan disini bisa dijadikan sebagai referensi tambahan selain Alkitab dan sejarah. Misalnya buku-buku Kristen, buku-buku biografi, sejarah umum, puisi, cerita fiksi, kesenian, dan pengetahuan umum. Atau bisa juga dari nyanyian-nyanian rohani, sebab di dalamnya terdapat syair-syair yang indah dan bermanfaat bagi semua orang.
4) Pengalaman. Pengalaman juga bisa menjadi bahan untuk dikhotbahkan. Namun hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pengalaman yang diceritakan adalah pengalaman yang benar-benar terjadi atas dirinya, namun jangan sampai pengalaman itu menjadikan pengkhotbanya menjadi tokoh utamanya.
R. Persyaratan menjadi seorang Pengkhotbah[33]
1) Memiliki Hidup Baru: Berkhotbah adalah menyampaikan firman yang hidup sehingga pendengarnya juga dapat memperoleh hidup tersebut. dengan kata lain, berkhotbah adalah menyalurkan hidup yang berasal dari Kristus. Oleh karena itu, jika pengkhotbah sendiri tidak memiliki hidup Kristus, ia tidak dapat menyalurkan hidup tersebut. selain itu seorang pengkhotbah perlu mendapatkkan penyertaan dan kuasa Roh Kudus. Hanya dengan penyertaan Roh Kudus pengkhotbah bisa mengerti dan menguraikan Firman Tuhan, sehingga dengan khotbahnya dapat menyadarkan orang lain. Jika kita tidak dilahirkan baru, bagaimana Roh Kudus mau menyertai, apalagi memberi kuasa-Nya?
2) Memiliki karakter yang baik: seorang pengkhotbah selain telah lahir baru, maka kerohaniannya juga harus terus bertumbuh untuk mencapai kedewasaan dan kelimpahan. Tuhan Yesus mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Kehidupan yang dewasa atau berkelimpahan memungkinkan seseorang pengkhotbah mempunyai karakter yang baik dan memungkinkan ia mengimplementasikan isi khotbahnya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai teladan untuk pendengarnya.
3) Memiliki pengetahuan yang baik: yang dimaksud dengan pengetahuan, bukan saja pengetahuan rohani, tetapi termasuk pegngetahuan sekuler. Untuk mendapatkan pengetahuan baik sekuler maupun rohani perlu pengorbanan. Seorang hamba Tuhan jangan puas dengan ilmu yang sekarang, melainkan terus belajar, baik secara formal maupun informal. Pengetahuan sekuler atau umum sangat penting artinya bagi pengkhotbah agar jangan salah ketika memakai informasi yang bersifat sekular di dalam khotbahnya yang dapat mempengaruhi otoritas khotbah tersebut
4) Memiliki kasih kepada Tuhan dan Sesama: motivasi seorang pengkhotbah menyampaikan khotbah bukan sebagai sarana penunjang hidup, bukan karena kewajiban seorang pengkhotbah; melainkan termotivasi oleh kasih kepada Tuhan dan jiwa-jiwa yang binasa. Khotbah yang berlandaskan pada kasih bersifat menghibur, membina, bahkan memberi teguran keras yang akan membawa hasil positif dan akan menjadi berkat bagi pendengarnya.
5) Memiliki Ketrampilan yang baik: ketrampilan yang harus dimiliki seorang pengkhotbah dari segi praktiknya adalah sebagai berikut:
Ø Dari segi metodologi: di kalangan pengkhotbah terdapat kecenderungan yang bersifat ekstrim kiri atau kanan. Ada pengkhotbah yang hanya mementingkan Roh Kudus sehingga mengabaikan metodologinya; sebaliknya ada yang hanya mementingkan metodologi tetapi mengabaikan Roh Kudus. Seorang pengkhotbah harus melepaskan diri dari kecenderungan ekstrim itu, dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon penyertaan Roh Kudus, dan mempelajari ilmu berkhotbah serta terus mengadakan inovasi dalam cara-cara berkhotbah. Dengan demikian, khotbah yang disertai kuasa Roh Kudus dan menggunakan ketrampilan homiletika akan menjadi khotbah yang efektif.
Ø Dari segi kesehatan: Alkitab menyebutkan bahwa tubuh kita sebagai bait Allah dan bait Roh Kudus ( 1 Kor. 3:16-17;6:19), oleh karena itu harus dijaga kesehatannya. Berkhotbah bukan saja menyita waktu, fikiran, melainkan juga dapat berdampak pada kesehatan. Jika kesehatan pengkhotbah terganggu, hal itu akan sangat mempengaruhi penampilan pengkhotbah pada waktu berdiri di mimbar. Bagaiamana menyampaikan khotbah dengan semangat yang berkobar-kobar jika tubuh lemah? Oleh karena itu pengkhotbah harus memperhatikan kesehatan dengan makan dan minum yang bergizi dan istrahat yang cukup, khusunya menjelang naik mimbar.
Ø Dari segi suara: suara yang sangat kecil, suara yagn diucapkan terlalu cepat, ucapan yang kurang jelas, mudah serak dan lain-lain akan mempengaruhi kualitas khotbah itu sendiri. Memang harus diakui bahwa suara itu berasal dari pembawaan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah atau ditingkatkan kualitasnya.
S. Jati diri seorang pengkhotbah
Seorang utusan Injil. Dalam artian luas, rasul di PB adalah utusan Injil yang dikirim untuk menyebarkan Injil. Ada persyaratan menjadi rasul yakni selain yakin akan kuasa penyelamatan dari Tuhan Yesus, ia juga harus sungguh-sungguh mengasihi jiwa-jiwa yang belum menerima Yesus. Sama seperti seorang utusn injil, pengkhotbah adalah jembatan yang menghubungi dua dunia yang berbeda yakni dunia zaman Alkitab dan dunia dimana kita hidup sekarang.
Seorang Nabi. Peran nabi dalam diri seorang pengkhotbah adalah menjelaskan Alkitab yakni pesan Allah kepada pendengar yang sudah atau yang belum menjadi pengikut Tuhan Yesus. Seorang nabi tugasnya adalah menyampaikan pesan Allah kepada manusia baik itu bersifat menghibur, mengarahkan, dan terkadang berkaitan dengan penghakiman, itu sebabnya pelayanan kenabian menuntut keberanian. Karena tujuan pelayanannya adalah menyenangkan Tuhan bukan manusia. Salah satu topik utama dalam pemberitaan nabi adalah pertobatan.
· Seorang Gembala. Seperti gembala, pengkhotbah menjaga, memelihara, dan menuntun domba-dombanya. Domba-domba memerlukan makanan yang sehat dan enak. Khotbah sama halnya dengan makanan yang diramu dan disajikan untuk dimakan bagi pertumbuhan dan kesehatan jemaat yang mengkonsumsinya.
· Seorang Pengajar. Sama halnya dengan pengajar, pengkhotbah harus mengusahakan agar memiliki wawasan yang luas. Sama seperti guru dalam mengajar, berkhotbah juga harus sabar, teliti, jelas, teratur, kreatif,dll. Guru mempunyai dua implikasi , yakni menjadi teladan bagi muridnya dan memperagakan apa yang diajarkannya.
T. Pengkhotbah dan persiapannya[34]
1. Persiapan hati dan mental: Semakin banyak berdoa dan bersaat teduh dengan Tuhan menolong untuk semakin tenang, persiapan yang cukup menolong untuk semakin mantap. Latihan-latihan menolong untuk semakin terampil sehingga memiliki keberanian untuk tampil di depan umum.
2. Persiapan sarana dan prasarana: Siapkan beberapa terjemahan Alkitab, lexikon, konkordansi, kamus Alkitab, tafsiran-tafsiran, koran, majalah, artikel, baik cetak maupun elektronik (tv, internet, dll), alat ilustrasi, dan lain sebagainya.
3. Persiapan bahan: Ketahuilah latar belakang, arti dan makna Firman yang dipelajari, struktur, rangkaian kalimat, karakter orang-orang yang ditulis, dan sebagainya.
4. Persiapan gaya dan penampilan: Perhatikan kerapian dan keserasian pakaian dan rambut atau apapun asesoris yang dikenakan. Adalah baik untuk bercermin dahulu sebelum berkhotbah untuk membenahi apa yang perlu. Kemudian harus selalu memikirkan gaya yang cocok dengan situasi pendengar (jika perlu dilatih; latihlah!). Semua itu untuk mendukung berita yang hendak disampaikan dan untuk menambah kepercayaan diri untuk tampil di muka umum. Pengkhotbah yang kurang persiapan akan terlihat di mimbar. Pengkhotbah yang hidupnya kurang dipersiapkan dengan baik akan terlihat dalam perbuatannya. Plato berkata, “Jika seorang mau mengenal kebenaran maka ia harus terus belajar, jika seorang mau mengabarkan kebenaran maka ia harus belajar dua kali lipat.”
U. Alasan Pengkhotbah harus bergantung pada Roh Kudus[35]
· Khotbah bukanlah penemuan manusia, tetapi kreasi Allah. Allah dalam Alkitab adalah Allah yang berbicara dan ingin kehendakNya diketahui oleh umatNya. Ia berbicara kepada nabi dan rasul dan memerintahkan mereka untuk menyampaikan firmanNya kepada umat. Yesaya 55:11 dan Ibrani 4:12.
· Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat mengubah manusia.Calvin menegaskan, “Firman tidak akan dapat diterima di hati manusia sebelum dimateraikan oleh kesaksian Roh Kudus di dalam batin manusia. Yoh 17:17.
· Alkitab mempunyai kuasa apabila disertai dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja melaluinya. 1 Tes 1:5, 1 Kor 2:1-5.
· Alkitab sebagai dasar khotbah diinspirasikan dan diiluminasikan oleh Roh Kudus. Alkitab menjadi satu-satunya dasar bagi pengkhotbah , diinspirasikan oleh Roh Kudus dan hanya mungkin dimengerti secara tepat artinya-sebagaimana yang dimaksud oleh penulisnya- dengan iluminasi atau penerangan dari Roh Kudus pula.
V. Langkah dalam persiapan naskah khotbah[36]
1. Memilih teks yang akan disampaikan
2. Tentukan jenis khotbah yang bagaimana yang akan dibawakan: Apakah itu jenis khotbah tekstual, topikal, ekspositori, atau biografi. Pilihan ini tergantung dari suasana di mana khotbah itu akan disampaikan dan juga kebutuhan pendengar. Seorang pengkhotbah hendaknya menggunakan semua jenis khotbah secara bervariasi dalam khotbah-khotbahnya.
3. Tentukan dan rumuskan tujuan: Bagaimanapun hebatnya eksposisi sebuah khotbah atau bahan-bahan khotbah jika tidak memiliki tujuan sama seperti orang yang berkendaraan dengan mobil mewah tanpa mengetahui arah yang pasti, yang pasti hanya buang-buang waktu. Tujuan menyatakan apa yang pengkhotbah harapkan terjadi pada pendengar sebagai suatu hasil dari apa yang dikhotbahkannya. Tujuan tersebut bisa berupa pengetahuan yang harus dimiliki oleh pendengar dan atau sikap yang harus diambil oleh pendengar. Namun yang penting diingat adalah tujuan yang dirumuskan janganlah menyimpang dari tujuan Alkitab yang hendak dibahas, walaupun tentu tujuan Alkitab harus dikontekstualisasikan dengan benar. Dengan memiliki tujuan yang jelas maka naskah khotbah dapat dikembangkan dengan baik dan terarah.
4. Pilih dan galilah bagian Alkitab yang akan disampaikan: Perhatikanlah latar belakang penulisan, konteks penulisan, alamat penulisan, tujuan penulisan, pribadi-pribadi yang muncul, dan arti dari kata-kata penting dalam bagian Alkitab tersebut. (poin no. 2 dan 3 bisa dibolak-balik tergantung dari jenis khotbah yang dipilih). Dari penggalian yang baik temukanlah tema atau judul khotbah (kecuali jenis khotbah topikal/tema yang sudah ditentukan di muka)
5. Buatlah garis besar/struktur khotbah: Perhatikanlah susunannya, apakah sudah sistematis, logis, kesatuan struktur, serta apakah itu sesuai dengan keutuhan dan tujuan khotbah. Naskah khotbah yang baik pasti mempunyai struktur yang baik.
6. Carilah ilustrasi, data-data, analogi, contoh-contoh kehidupan yang tepat: Jika semuanya digunakan secara tepat dan dibawakan dengan penghayatan yang dalam maka poin ini adalah sesuatu bahan untuk mempertajam isi khotbah/ide pikiran yang hendak disampaikan.
7. Buatlah pendahuluan yang menarik dan penutup yang mengesankan: Pendahuluan adalah jendela yang baik agar orang dapat melihat ke dalam isi khotbah. Penutup membuat orang ingat apa yang sudah didengarnya dan bagaimana bersikap sesuai dengan khotbah yang baru didengarnya.
8. Rangkailah semua dalam satu kesatuan: Tuliskanlah kembali semua yang sudah dibuat dalam satu kesatuan dari pendahuluan sampai penutup khotbah. Hal ini akan membantu untuk melihat apakah semuanya sudah punya hubungan, dan akan terlihat apa yang masih kurang dan apa yang kelebihan sehingga masih sempat mengurangi atau menambahkan di mana perlu. Hal ini juga akan membantu pengkhotbah menghafal naskah khotbahnya dan memperkirakan berapa lama khotbah ini akan disampaikan, untuk kemudian dibuat penyesuaiannya.
W. Petunjuk sebelum memulai penyampian khotbah[37]
1) Berdoalah dalam hati dan mulailah dengan tenang.
2) Pikirkanlah bahwa berita Firman Tuhan yang akan disampaikan penting untuk didengarkan.
3) Mulailah berkata-kata dengan tidak memandang naskah tetapi memandang pendengar.
4) Berusahalah untuk menarik perhatian pendengar.
5) Bervariasilah dalam setiap memulai khotbah.
6) Mulailah jika seluruh ruangan sudah tenang.
Daftar Pustaka dan Footnote
[1] Paulus Daun, Pengantar ke dalam Homeltika : Ilmu Berkhotbah, (Manado: Yayasan Daun Family, 2003), 3.[2] Mateus Mali, “ Homiletika: Teologi, Seni, dan Panduan Praktis Berkhotbah,” (Yogyakarta: Kanisius, 2020), 5.
[3] Jerry Vines dan Jim Shaddix, Homiletika : Kuasa dalam Berkhotbah, diterjemahkan oleh Endah Endyaswarawati Handoko, (Malang: Gandum Mas, 2003), 38.
[4] Mali, 7-8.
[5] Ibid,. 5.
[6] Jahenos Saragih, Ini Aku Utuslah Aku, (Jakarta : Suara Gereja Kristiani Yang Esa Peduli Bangsa, 2005), 68-69.
[7] Mali, 7
[8] Mali, 7.
[9] Ernest Pettry, “Berhotbah dan Mengajar,” (Malang: Gandum Mas, t.th), 84.
[10] Jay E Adams, Preaching With Purpose, (Malang: Gandum Mas, 2004),25.
[11] Daun, 27-28.
[12] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line]; dikutip dari https://wrjohnblog.wordpress.com/2013/04/17/dasar-dasar-homiletika/ ; Internet; diakses pada 08 Februari 2021.
[13] H. Rothlisberger, Homiletika Ilmu Berkhotbah, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 12-20.
[14] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[15] Ibid.,
[16] Ibid.,
[17] Daun, 61-69.
[18] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[19] Ibid.,
[20] Ibid.,
[21] James Braga, Cara mempersiapkan Khtobah, (Malang: Gandum Mas, 2003), 15.
[22] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[23] Braga, 34.
[24] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[25] Braga, 46.
[26] Benny Solihin, 7 Langkah Menyusun Khotbah yang Mengubah Kehidupan, (Malang: Literatur SAAT), 23-26.
[27] Braga, 59-60.
[28] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[29] Jerry Vinex dan Jim Shaddex, 40.
[30] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[31] Jerry Vinex dan Jima Shaddex, 40.
[32] Charles W Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, diterjemahkan oleh M.S.M Hutagalung, (Bandung: Kalam Hidup, 2008), 50-55.
[33] Daun, 31-37.
[34] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[35] Solihin, 33-36.
[36] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
[37] Waroy John, “Dasar-dasar Homiletika,” [artikel on-line];
Comments
Post a Comment
Jika anda Ingin Membantu pelayanan ini, silahkan kirimkan bantuan anda dengan menghubungi email charinmarbun@gmail.com. Jika anda diberkati silahkan Tuliskan dalam komentar. Jika ada pertanyaan dan permohonan Topik untuk dibahas, silahkan tuliskan dikolom komentar. Terimakasih sudah membaca, Tuhan Yesus memberkati selalu.